ADA YANG DIPAKSA MATI

Semenjak perkenalan itu rasa ini tumbuh, Menghadirkan Aksara Rindu yg duduk anggun diberanda Maya, menagih Janji Sua yang tak tahu malu, Lantaran menanti yang tidak berwujud adalah Mati.

Sedang aku yang pernah bergumul Asrama, lantas mati rasa sebab patah yang ditimbulkannya, tiba-tiba saja kalut takut menghujam ikhtiar sbb bermula dari kerinduan yang mencekik lalu tersenyum dengan pipi merah merona menyaksikan rindu membawah deru ombak pada bibir pantai memberi Kecupan tanpa jeda.

Namun sayang beberapa Naas liar terlalu keji mencekik nalar, hingga Jatuh Cinta kembali adalah seberat-beratnya penat sedang ikhtiar Setia menjadi sebuah kredo menakutkan yang mematikan optimis hati. Sebab ada pun belum tentu dianggap ada namun jelas betul dipaksa mati. Mungkin ini mensinyalir bahwa sebenarnya hanya dengan pulang adanya akan menemui hakiki.

Kian malam- kian Menghitam, Pekat datang melahap terang dan perlahan-lahan menyeret sadar menuju Relung paling Remuk. Lekuk gurat Dahi menghapus Ingat pada Tubuh sintal dengan bibir sexi dan buah dada yang Ranum disepertiga malam menuju Pagi.

Akh . . .Lantas Esok Hilang tanpa Riuh Kabar Sebab katanya ini Dosa, tapi lupa bahwa kemarin sempat menjadi pendosa Ulung yang candu kenikmatannya lantaran Citra yang hidup dikepala tanpa Substansi.


PEREMPUAN

Kita pernah berada bersama
melewati sepertiga malam menuju pagi
Saya ingat betul
Gurat wajah yg sayu itu
Mata yang tersirat Kalut itu
Bibir keruh paling Keluh yg selalu melafas Ragu itu Berkali2 memelas iba "Kiranya Harga diri yang Kau tunjukan sbg Mahar Kasih sayang itu tdk menuai Kecewa".

Saya mengerti betul bahwa seorang yang begitu dalam menyayangi namun setia hatinya pernah dididik dgn Khianat paling keji memang mengulang jatuh cinta adalah adalah Ragu2 yang mesti diyakinkan Kembali. Agar Hati lebih legowo menerima kenyataan bahwa kemarin adalah pelajaran paling rumit yg membuat kita terbiasa dan mahir memilah Hati mana yg pantas diberi Amanah merawat HatiMu untuk tumbuh kembang kembali. Mungkin juga kali ini Engkau diLatih untuk lebih Selektif memilah Hati yg tdk sekedar datang melucuti Sepih dr lebam WajahMu atau menghapus Nanar dipelupuk MataMu tp lebih dari itu menemaniMu tumbuh dan menua bersama. Harapan - Harapan itulah kenapa saya mengharuskanMu untuk tetap optimis menata Hati agar lebih siap andai saja di suatu masa nanti kecewa datang menjenggukMu kembali, meminta pertanggungjawabanMu kenapa begitu Tegar ketika beberapa Kali Ia didik dgn kecewa. Atas Dasar ikhtiar - ikhtiar dan pertimbangan - pertimbangan Hati Itu juga Kenapa saya memintaMu untuk tdk bergegas meninggalkan Hati dengan Dalih Masalah apapun sebab sejauh ini engkau mesti akui bahwa "HatiMu telah saya Menangkan" maka masalah hendaklah tdk menjadi Alasan untuk pergi tp menjembatani Kita untuk semakin merekat Setia hingga disuatu masa Nanti Engkau saya pinang tanpa Mahar airmata dan memohon di Hadapan Altar Tuhan agar Engkau menjadi Rumah segala Pulang, Rahim kasih sayang untuk tumbuh kembang GenerasiKu.


BELUM ADA JUDUL

Belum ada Judul

Setelah jutaan nafas mencoba mencemari atmosfirKu
Engkau datang dengan ikhtiar baru
yang katanya hendak membantu meringankan penat yang ada dikepala,
menumbuhkan Benih rasa yang lama mati,
menghapus naas paling keji yang kekal dilangit – langit ingat
Menyakinkan segala praduga nalar yang menjadikan hati pesimis untuk kembali siap menerima Bahagia, yang juga katamu “Semua berhak Bahagia meski ditelaga kenang hati pernah ditikam kemelut teramat keluh . . . sebab sunyi jeruji nadi kemarin sempat mengoyak sepih

Lalu mengapa setelah Ia kembali pulih kau malah menghilang tanpa riuh kabar ???
Bukannya lebih menyayat ketika dibiarkan tumbuh lantas tak terawatt ???
Akh . . .sepertinya Kau sekedar datang menjaga hatiKu dari kesepian
Sebab memenangkan Hati tanpa memberinya waktu untuk tumbuh hingga menua bersama adalah puisi paling Sunyi seperti merayu mentari yang sedari tadi geram menikam pori –pori kepala, hingga merah merona wajahnya sampai Jingga sebab malu tapi orang – orang yang sekedar datang menikmati pilu syairnya mengagumiNya sebagai yang eksotik dari hari yakni Senja. . .
Kepergianmu membawah serta segenap Ikhtiar yang semestinya  kuselip dalam sujudku disepertiga malam menuju pagi . . .
Hingga pagi kembali lenggang menyapa
Ternyata saya masih kencang memelas iba atas PulangMu sebab terlanjur Rumah Pulang kuatir memeluk Rindu.

Hingga Rumah segala rindu pulang pun bertanya: Masih rindukah kau, Puan? Setelah kilometer yang begitu kejam, memaksa kita melalui malam dengan kesepian tanpa pelukan.

Lihat . . .

Rindu benar-benar membuatMu terlihat Lucu sayang. Ragu-ragu dikepala hingga Kuatir mengurui logikaMu, Lalu pelan-pelan cemburu mengintip malu-malu.

Kenapa tidak menggulung jarak untuk sebuah temu?

Larantuka, 11/10/2019
A. Ara