Tidak bisa dimungkiri Bung Karno merupakan tokoh sentral pada sejarah lahirnya Pancasila. Ialah yang menyebutkan pertama kali frasa “Pancasila” dalam pidatonya di sidang BPUPKI pada 1 Juni 1945. Olehnya itu, pada setiap tanggal tersebut diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila dan dijadikan hari libur nasional melalui Kepres No. 24 tahun 2016 tentang Hari Lahir Pancasila.

Sekalipun demikian, ia tidak ingin dikatakan sebagai pencipta Pancasila. Hal ini ia tunjukkan ketika dianugrahi Doktor Honoris Causa sebagai pencipta Pancasila oleh Universitas Gadjah Mada di mana Prof. Notonagoro sebagai promotor yang membaca teks pidato pengukuhannya.

Tetapi, berulang kali Bung Karno menyatakan diri bukan pencipta Pancasila. Ia lebih memilih sebagai penggali Pancasila.

”Aku tidak mengatakan, bahwa aku menciptakan Pancasila. Apa yang kukerjakan hanyalah menggali tradisi kami jauh sampai ke dasarnya dan keluarlah aku dengan lima butir mutiara yang indah,” kata Bung Karno dalam buku Penyambung Lidah Rakyat yang ditulis oleh Cindy Adams.

Terlihat bahwa Bung Karno tidak ingin mengultuskan diri terhadap lahirnya Pancasila. Bisa jadi ia tidak ingin menafikan peran tokoh-tokoh lain dalam perumusan Pancasila. Ia cukup dikatakan sebagai penggali yang kemudian ia tawarkan di dalam forum sidang BPUPKI.

Lalu di dalam forum tersebut terjadi perdebatan dan dialektika yang begitu dinamis dari berbagai perwakilan tokoh bangsa sehingga lahirlah Pancasila yang sampai saat ini menjadi dasar negara kita.

Dalam proses perumusan dan penentuan Pancasila, banyak sumbangsih pemikiran tokoh-tokoh bangsa, terutama yang ada dalam Panitia Sembilan. Salah satunya adalah tokoh dari golongan Islam, yaitu Kiai Abdul Wahid Hasyim, putra dari pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Hadratussech Kiai Hasyim Asy’ari.

Ada peran yang sangat besar dari Ulama’ atau Kiai NU di sana. Ketika terjadi perdebatan terkait keberadaan agama (Islam) dalam negara atau dasar negara dalam hal ini Pancasila.

Awalnya disepakati dalam sila pertama bahwa “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” yang kemudian dikenal sebagai rumusan Piagam Jakarta. Rumusan ini tidak diterima oleh kelompok lain yang berbeda agama. Namun karena sikap dan pemikiran inklusif dari tokoh-tokoh Islam saat itu, salah satunya Kiai Wahid Hasyim, maka diterimalah usulan untuk menghapuskan kalimat tersebut menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Bahkan dalam perumusan Pancasila juga melibatkan Kiai Hasyim Asy’ari. Suatu ketika Bung Karno mengutus rombongan yang dipimpin langsung oleh Kiai Wahid Hasyim untuk bertemu pendiri NU itu di Jombang. Hal ini untuk menanyakan apakah Pancasila yang telah dirumuskan itu telah sesuai dengan syariat dan nilai-nilai ajaran Islam atau belum.

Untuk memutuskan itu, Kiai Hasyim Asy’ari melakukan tirakat. Setelah melakukan tirakat beberapa hari, ia memanggil anaknya Kiai Wahid Hasyim dengan mengatakan bahwa Pancasila sudah betul secara syar’i sehingga apa yang tertulis dalam Piagam Jakarta, “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”, perlu dihapus karena “Ketuhanan Yang Maha Esa” adalah prinsip ketauhidan dalam Islam. 

Begitu pun sila-sila lainnya juga sudah sesuai dengan nilai-nilai dan prinsip ajaran Islam. Karena ajaran Islam juga mencakup kemanusiaan, persatuan, musyawarah dan keadilan sosial, maka diterimalah Pancasila oleh seluruh golongan dan menjadi dasaar negara hingga saat ini.

***

Ketika saya sedang berselancar di dunia maya, ramai sekali ucapan Selamat Hari Lahir Pancasila. Saya terhenti pada suatu postingan yang menampilkan daftar undangan yang diundang untuk menghadiri upacara secara daring peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2020 yang dilaksanakan oleh Pemerintah Pusat. Kebetulan yang mempostingnya adalah salah seorang yang namanya ada dalam daftar tersebut sebagai salah satu undangan.

Saya tertarik ingin membaca nama-nama yang ada dalam daftar undangan. Sambil membayangkan kapan ada nama saya diundang langsung dalam kegiatan kenegaraan bersama Presiden seperti itu.

Tapi, saya terhenti dan terdiam karena dalam daftar undangan tersebut tidak ada nama Kiai Abdul Wahid Hasyim. Saya berulang-ulang membacanya, kali-kali terlewati. Tetap tidak ada. Di bagian “D. Putra/Putri Pahlawan”, hanya ada 16 nama, tanpa nama Kiai Abdul Wahid Hasyim.

Entah disengaja atau tidak. Entah dilupakan atau tidak. Saya tidak tahu pasti. Mengapa bisa seorang tokoh bangsa dan pahlawan nasional yang punya peran besar dalam perumusan hingga lahirnya Pancasila sebagai ideologi negara tidak dimasukkan namanya dalam undangan memperingati Hari Lahir Pancasila? Entahlah, mungkin ada alasan yang sampai saat saya menulis tulisan ini, saya tidak ketahui pasti. Menjadi hal yang wajar untuk dipertanyakan.

Namun saya dan pasti juga seluruh warga Nahdliyin berharap tidak ada upaya sedikit pun untuk mengaburkan sejarah peran Kiai NU dalam proses lahirnya Pancasila sebagai ideologi negara. Kita berharap juga ada penjelasan yang benar-benar jelas dari pemerintah mengapa nama Kiai Abdul Wahid Hasyim Asy’ari tidak ada dalam daftar nama undangan upacara peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2020.

Semoga di upacara peringatan Hari Lahir Pancasila ke depan namanya dimasukkan dalam daftar nama undangan sebagai syiar sejarah kepada publik Indonesia, bahwa lahirnya Pancasila tidak bisa dilepaskan dari peran NU.