…keberadaan Ubur-Ubur air tawar yang tak beracun…

Sejauh Mata Memandang Adalah Pemandangan

Pernah tinggal di Tanjung Redeb, Kabupaten Berau Kalimantan Timur selama hampir 6 tahun.

Selama itu, saya sering melakukan perjalanan, mengisi waktu yang seolah berputar melambat.

Baik perjalanan kaki menyusuri tempat-tempat alam yang menyegarkan nan elok dipandang, apakah istana Kerajaan dan Kesultanan, sungai Segah yang lebar nan panjang menembus jantung kota, kawasan perbukitan dengan semburatan warna kuning kemerahan hangat matahari kala terbit dan tentram jingga saat ia tenggelam, hingga bertualang menikmati pemandangan air laut nan bening di pulau Derawan, juga pantai Biduk-Biduk.

Perahu tertambat pada titian di atas beningnya air laut pantai Derawan. Foto sumber: dokumen pribadi.

Oh, adalagi pulau Kakaban yang disebut pulau ajaib karena di dalamnya ada danau luas berair tawar, sementara ada celah dalam pulau yang menghubungkannya dengan lautan nan luas.

Lalu, keajaiban pulau Kakaban bertambah dengan keberadaan Ubur-Ubur air tawar yang tak beracun, ramah bagi makhluk hidup sekitar, termasuk manusia-manusia yang hendak berenang dalam danau itu.

Adalagi pulau Maratua, satu pulau yang cukup luas sehingga pesawat udara kapasitas 30-an orang, bisa mendarat.

Di pulau ini pantainya sangatlah bening, angin begitu semilir, jika malam bertaburan ribuan bintang terang, cocok buat pasangan yang tengah dimabuk asmara dalam bulan madu berkepanjangan.



…kabut halimun di batas kota yang menuju perbukitan, membawa syahdu suasana.

Wilayah Penuh Keajaiban dan Keunikan

Ada hal yang ajaib selama tinggal di Tanjung Redeb, terutama saat musim hujan tiba.

Selama 6 tahun-an itu pula ketika saya berangkat dan pulang kerja, belum pernah kehujanan hingga basah kuyub.

Begitu pula yang dialami bagi banyak orang di kawasan Berau, bahwa hujan turun seolah ada waktu-waktu tertentu yang memberi kesempatan kepada banyak orang dewasa dan anak-anak menuju ke tempat menjalankan aktivitas rutin terlebih dahulu baik di perkantoran, tempat usaha juga sekolah-sekolah.

Apabila hujan turun pagi, maka kisaran pukul 6 hingga 8, sering kali sudah reda setidaknya gerimis. Habis itu hujan lagi sampai siang.

Sore juga begitu, kisaran pukul 5 sampai Maghrib hujan yang tadinya lebat, menjadi reda, cukup rintik gerimis.

Karena dekat daerah sungai, maka hawa Tanjung Redeb ibukota kabupaten Berau terasa panas menyengat saat tak ada hujan.

Panas, namun segar udaranya tanpa polusi. Adapun pagi hari sehabis hujan semalaman, sering kali terdapat hamparan kabut halimun di batas kota yang menuju perbukitan, membawa syahdu suasana.

Banyak hal yang unik di kabupaten Berau, selain sosial kemasyarakatan yang menginduk pada dua kerajaan, yakni Gunung Tabur dan Sambaliung, juga etnik yang heterogen terdapat di wilayah Berau, yang memiliki luas daratan lebih dari 21 ribu km persegi dan lebih dari 15 ribu km persegi lautan, dengan 50-an pulau besar dan kecil yang tertebar di atas laut yang tenang nan teduh.

Hamparan air laut nan bening di pantai Maratua. Foto sumber: dokumen pribadi.

Selain suku Dayak, Jawa, Bugis, Makassar, keturunan Tiong Hwa yang banyak tinggal di kabupaten dengan jumlah penduduk berkisar lebih dari 240.000 jiwa menurut sensus penduduk tahun 2020, maka terdapat satu etnik yang telah lama tinggal menempati wilayah Berau, yakni warga suku Banua.

Bisa dikata, bahwa warga Banua adalah etnik asli kabupaten Berau.

Merupakan etnik tersendiri yang unik, yang apabila dirunut pada pohon famili etnik, maka suku Banua tak berkaitan dengan dua etnik dominan di Kalimantan, yakni suku Dayak dan suku Banjar.

Warga Banua memiliki karakter yang terbuka dan menyambut kehadiran para pendatang dari wilayah lain, guna berkehidupan di wilayah Berau, yang tak hanya mencoba mendapatkan rizki di sana, namun juga memajukan serta memakmurkan wilayah yang kaya akan hasil sumber daya alam ini.



Kualitas tanah di wilayah Berau itu ajaib.

Hasil Alam Melimpah dan Kaya Kuliner

Kekayaan alam yang melimpah berupa tanah pertanian, perkebunan, pertambangan batu bara hingga kekayaan laut yang melimpah serta interaksi sosial masyarakat yang ramah, membuat wilayah yang berjuluk Bumi Batiwakkal ini begitu makmur, lagi aman tenteram.

Dalam hal khazanah kuliner, memang tak begitu nampak olahan masakan khas Banua yang dikenal, khususnya di wilayah ramai penduduk yakni ibukota kabupaten Berau, Tanjung Redeb.

Hampir semua sajian yang tampak di keramaian adalah sentuhan olahan masakan para etnik pendatang.

Seperti masakan Padang, Coto Makassar, Soto, Sate, Pecel Lele dan Sea Food ala Jatim, olahan ikan ala Sulawesi, Mie Siantar, Pangsit Mie ayam Jakarta-an, olahan Chinese food, Pecel Blitar dan Tulung Agung, Martabak telor dan manis juga roti bakar ala Bandung, Bakso Solo, Bakso tusuk dan Gorengan yang tersaji di atas gerobak dorong oleh Pak Lik-Pak Lik Jawa, warung-warung kopi hingga Angkringan khas Jogja.

Terdapat keunikan pula pada olahan menu favorit warga Berau saat pagi menjelang, yakni olahan Nasi Kuning, dengan sentuhan bumbu yang khas Banua, yang nyaris mirip dengan sentuhan olahan Nasi Kuning ala Banjar, yakni sambal bumbu merah dengan sedikit cita rasa kayu manis.

Bedanya, di Berau sajian Nasi Kuning dengan lauk ikan Haruan (ikan Gabus) masak bumbu habang, tidaklah sepopuler di wilayah lain di Kalimantan Timur juga di Kalimantan Selatan. Bahkan, saya belum pernah nemu olahan ikan Haruan sebagai lauk Nasi Kuning, di Berau.

Mungkin karena warga Banua kurang begitu suka dengan olahan ikan Haruan sebagaimana warga Banjar. Atau, karena wilayah Berau secara alami kurang cocok menjadi habitat ikan Haruan yang suka tinggal di rawa-rawa bergambut.

Kualitas tanah di wilayah Berau itu ajaib. Kaya akan bahan tambang batubara, tapi kualitas tanah bagian atas sangatlah subur untuk bercocok tanam. Bukan tanah berkualitas rapuh dan lunak seperti gambut.

Oleh karenanya, semasa jaman kolonial Hindia Belanda, terdapat tambang batubara bawah tanah di area bernama Teluk Bayur, tak jauh dari kota Tanjung Redeb.

Keunikan lainnya dalam hal kuliner, maka hampir semua rumah tangga juga di kedai-kedai kopi di wilayah Berau, setidaknya di Tanjung Redeb, maka wedang kopi yang disediakan adalah kopi bubuk cap Kapten, buatan Sidoarjo.

Sedep dan gurih memang kopi merk ini. Cocok dengan hawa dan suasana Berau, baik pagi, siang dan malam.



…diolah dari ikan-ikan laut yang masih segar…

Terasi dan Ikan Asin

Adalagi olahan hasil laut yang layak menjadi rekomendasi sebagai buah tangan sepulang dari bertandang di Berau, yaitu Terasi dan aneka olahan Ikan Asin.

Kedua produk olahan alami tersebut banyak tersedia di pasar Sanggam Adji Dilayas, satu pasar tradisional percontohan nasional yang tertata bersih dan rapih.

Terasi khas Berau, kualitas penampilan dan cita rasanya sangatlah prima. Berwarna merah kecoklatan, aroma ikan segar masih terasa, karena diolah dari ikan-ikan laut yang masih segar di kawasan pantai Tanjung Batu, sekira 5 hingga 7 jam, jika ditempuh menggunakan kendaraan bermotor.

Juga, cita rasa Terasi Berau, beraroma tak menyengat dan sama sekali tak menimbulkan sensasi bau terasi yang lama lengket menempel di ujung jari jemari tangan, setelah menikmatinya menjadi bahan sambal, bersama sayur lalapan dan ikan asin sebagai lauk nasi.

Semua sajian hidangan sambal terasi sebagai pelengkap sajian olahan masakan yang ditemui di wilayah Berau, termasuk Tanjung Redeb, menggunakan Terasi khas Berau.

Disclaimer: Sekali merasakan sambal Terasi Berau, bakal ketagihan, karena sensasi beda yang hadir dibanding jika menggunakan terasi yang lain.



…bakal mampu merangkai persaudaraan…

Sop Sodara di Hot Spot

Jika akhir pekan tiba, libur seusai melalui hari-hari rutin menjalani pekerjaan, maka tempat salah satu favorit saya untuk bertualang cita rasa di Tanjung Redeb adalah menikmati sajian hidangan ikan Bandeng bakar dan Sop Sodara khas Pangkep Sulawesi Selatan, yang warungnya berada di Jl. H. Isa.

Suatu wilayah Hot Spot, titik terpanas di Tanjung Redeb kala cuaca terik melanda. Karena di poros jalan itu sama sekali tak ada pohon tanaman hijau, hanya deretan rumah dan warung.

Namun, suasana terik bakal berubah teduh saat ikan Bandeng bakar bersanding kuah Sop Sodara terhidang di warung itu. Peluh yang mulai mengulir di dahi saat duduk di meja makan untuk mengurai suwiran daging ikan Bandeng dan seruputan demi seruputan kuah sop pun menjadi pertanda bahwa suhu badan mulai menurun.

Sop tersebut dinamakan Sodara karena olahan Sop yang mirip dengan olahan Coto dengan kuah yang lebih tipis cenderung lebih bening itu bakal mampu merangkai persaudaraan, saking kenikmatannya bisa merajut kebahagiaan bersama, sebagai sesama penikmat Sop Sodara.

Isian Sop Sodara tak sebanyak Coto, cukup irisan daging mirip empal, paru goreng sama jantung sapi. Lalu disajikan dalam mangkok seukuran mangkok Soto Boyolali, namun nasinya terpisah.

Adapun ikan Bandeng bakar menjadi pendamping Sop Sodara yang bisa memperkaya cita rasa. Tak lengkap apabila menikmati Sop Sodara tanpa ikan Bandeng bakar, dengan cocolan sambel Terasi Berau bersama aneka sayuran sebagai lalapan segar.



Sedep, Seger, Santai, begitu kenangan yang bisa tergurat dalam memori…

Pola 3S 2N

Menikmati dua sajian dalam satu hidangan, memang petualangan cita rasa yang membahagiakan.

Sesendok kuah Sop Sodara yang telah diracik sesuai selera sang penikmat, dengan tambahan garam, micin, sambal, kecap dan perasan jeruk nipis, maka mirip racikan semangkok Coto, cita rasa bakal berbeda sesuai kehendak penyantapnya masing-masing.

Seseruputan kuah Sop Sodara berhias isian daging atau paru goreng, berlanjut dengan jumputan suwiran daging Bandeng bakar yang dioles sambal lalu dilahap bersama nasi pulen panas, menjadi petualangan rasa yang sensasional.

Terdapat pola 3S plus 2N, ketika menikmati Sop Sodara Bandeng Bakar, yaitu; Seruput, Suwir, Sambel plus Nasi Nambah.

Itu belum kriuk timun segar dan kemangi sebagai lalapan.

Rasa pedas sambel yang tersisa, bisa dipadamkan oleh segelas teh tawar panas yang tersedia cuma-cuma.

Sedep, Seger, Santai, begitu kenangan yang bisa tergurat dalam memori tentang kedahsyatan olahan Sop Sodara Bandeng Bakar khas Pangkep.

Hendak pamit dari warung tentu menuaikan kewajiban membayar sajian ke ibu-ibu Hajjah yang sangat ramah dengan logat Pangkep yang kental. Tak hanya ramah, beliau juga sanggup menyajikan olahan masakan yang menuai bahagia dengan harga yang ramah.



Sama dengan Sop, Coto juga Sip.

Gagal Motret

Sayangnya selama menikmati Sop Sodara Bandeng Bakar khas Pangkep, saya belum pernah sempat mengabadikan pose terbaiknya sebagai hidangan.

Saya mesti lupa memotretnya, keburu larut dalam pola 3S plus 2N tadi.

Tahu-tahu isi piring dan mangkok serta layah sambel sudah tandas, menyisakan beberapa helai kemangi, irisan timun sama duri ikan Bandeng.

Pose suasana hidangan tandas begitu saya gak tegalah memotretnya, lalu diunggah media sosial.

Pokoknya, setiap saya sudah punya rencana memotret pose Sop Sodara Bandeng Bakar, pas sudah di depan mata, saya mesti lupa.

Kali ini saya bisanya unggah hidangan Coto khas Makassar dengan kuah yang lebih kental dan isian yang lebih lengkap dibanding Sop Sodara.

Tatanan porsi hidangan Coto menggugah selera baik pagi, siang dan malam. Foto sumber: dokumen pribadi.

Sama dengan Sop, Coto juga Sip.

Duh, Berau dan Sop Sodara Bandeng Bakar, berdua mereka sering tetiba hadir sebagai kenangan, tanpa saya sadar.