Jika kami menamakan putri kami Louve, bukan tanpa alasan. Louve artinya serigala betina. Mungkin untuk budaya kita, menamakan seorang anak dengan nama binatang terdengar aneh. Tetapi masyarakat Prancis umumnya memang penyayang binatang. 

Panggilan sayang untuk buah hati mereka biasanya menggunakan nama-nama hewan atau binatang, seperti kucingku, kelinciku, kijangku. Namun tidak ada yang menamakan anak-anak mereka dengan nama binatang. 

Louve sendiri tergolong nama yang unik meski dalam lima tahun terakhir ini, jumlah bayi tercatat dengan nama ini makin bertambah. Memang meskipun ada yang terkejut ketika mendengar nama putri kami, kebanyakan orang menemukan namanya indah dan menarik. 

Yang terkejut biasanya karena mengasosiasikan nama ini dengan gambaran umum seekor serigala. Ketika mendengar kata serigala, imaji yang muncul adalah kebuasannya. Kita melekatkan stigma ini pada serigala. 

Padahal serigala betina adalah binatang penyayang dan pelindung. Ia mencurahkan kasih sayang sepenuhnya kepada anak-anaknya dan tidak membiarkan apa pun melukai mereka. 

Sebagai pasangan, ia juga setia tanpa bergantung kepada pasangannya. Ia mampu melindungi dirinya sendiri. Ia juga melindungi anak-anak dan kelompoknya. Ia belajar dari pengalamannya untuk menguatkan kemampuan intuitifnya dalam menghadapi bahaya. 

Ini yang menjadikannya mampu memimpin dirinya sendiri dan juga kelompoknya tanpa rasa takut ataupun kompleks. Dan ia adalah pemimpin yang peduli pada kesejahteraan kelompoknya. 

Di sisi lain, ia mendorong anaknya untuk mandiri, untuk mampu melindungi dirinya sendiri. Itulah sebabnya, di Prancis, ada istilah tipe ibu serigala. Untuk menggambarkan ibu yang menyayangi dan melindungi anaknya tetapi tidak overprotective. Ia mengajarkan anaknya untuk melindungi diri, melatihnya untuk menghadapi bahaya, bukan menghindarinya. 

Dalam mitologi Romawi Kuno mengenai Romulus dan Remus, pendiri kota Roma, diceritakan bahwa ketika mereka baru saja dilahirkan, mereka dihanyutkan ke sungai atas perintah paman mereka.

Adalah seekor serigala betina yang menyelamatkan dan menyusui mereka, sebelum mereka ditemukan oleh Faustulus. Patung perunggu Capitoline Wolf dari serigala betina yang sedang menyusui Romulus dan Remus dapat ditemukan di Musei Capitolini. 

Dalam bukunya, Women who run with the wolves: Myths and stories of the wild women archetype, Clarissa Pinkola Estés, psikoanalis Jungian dan psikolog etnoklinis, menggunakan serigala betina sebagai representasi dari arketip perempuan liar.

Estés melihat kesamaan antara perempuan dan serigala betina: memiliki penginderaan yang tajam, intuisi kuat, kepedulian terhadap sesama, keberanian, kemampuan beradaptasi dalam berbagai situasi dan kondisi, kekuatan, dan daya tahan. 

Ada serigala betina dalam diri tiap perempuan. Ini pesan yang saya tangkap dari karya Estés. Jika banyak perempuan tidak menyadarinya, itu karena keliaran perempuan sejak lama ditekan oleh masyarakat. 

Liar di sini bukan dalam makna negatif yang merendahkan seperti tak terkendali. Liar mengandung arti kebersatuan dengan alam: menjalani kehidupan secara alami, mengikuti irama kehidupan dan aspirasi-aspirasi yang terdalam. 

Tulus, autentik, dan bebas kompleks

Jangan bayangkan perempuan liar sebagai sosok mengerikan. Ia adalah pribadi yang hangat dan autentik. Ia jujur dengan dirinya sendiri dan orang lain. Ia tidak berpura-pura menikmati persahabatan hanya karena khawatir tidak punya teman. Ia tidak takut akan penolakan sosial. 

Ia mampu beradaptasi sambil tetap menjadi diri sendiri. Ia menjalin persahabatan secara tulus, bukan untuk memenuhi kebutuhan diri dicintai atau dihargai. Ia sudah bebas dari kompleks semacam ini. 

Karena ia telah mencintai dirinya sendiri, ia punya identitasnya sendiri. Ia tidak mengizinkan orang lain mengatakan apa yang harus ia lakukan. Misalnya saja ia tidak membiarkan masyarakat menetapkan kriteria kecantikan, bahwa ia harus langsing dan putih untuk menjadi cantik. Ia tidak dicengkeram oleh tirani kecantikan. 

Perempuan liar paham bahwa sebagai perempuan, ia tidak berfungsi untuk menyenangkan orang lain dan apalagi memuaskan tatapan orang lain. 

Tegas, berani, dan otonom

Perempuan liar tidak otoriter tetapi tegas, berani, dan otonom. Ia mandiri dalam mengambil keputusan dan tidak membiarkan diri dikekang oleh norma-norma. Ia tidak merasa wajib mengikuti garis kehidupan “normal” yang ditetapkan masyarakat.  

Ia akan menikah atas keinginan pribadi karena menganggap diri sudah siap, sudah menemukan pasangan yang dengannya dapat menjalin hubungan setara. Ia tidak menikah hanya karena sudah berada di "usia menikah", karena desakan keluarga, karena teman-teman sudah menikah, dan lain sebagainya. 

Ia berani mengambil keputusan “kontroversial” yang mendobrak nilai-nilai tradisional jika menurutnya itu adalah yang terbaik tanpa khawatir dicemoohkan. 

Bangkit dan belajar dari pengalaman

Ketika keputusan kontroversial yang pernah ia ambil ternyata tidak membuahkan kebaikan sesuai yang ia harapkan, perempuan liar tidak menyalahkan diri ataupun orang lain. 

Saat perkawinannya tidak semulus yang ia bayangkan atau karirnya tidak segemilang yang ia harapkan, ia tidak akan terpengaruh oleh kalimat-kalimat   seperti: begitulah jika kamu tidak nurut omongan orang tua, menikah dengan pria beda agama/suku/status sosial, memilih jurusan yang tidak jelas masa depannya, dan lain-lain.

Praktik budaya "pembangkitan rasa bersalah" semacam ini telah membunuh karakter liar perempuan. Syukurlah, perempuan liar tidak terjebak di dalamnya.

Seperti serigala betina, ia menjadikan pengalaman-pengalaman semacam ini untuk melatih ketajaman insting dan kepekaan intuisi agar tidak lagi terperangkap dalam "bahaya" yang sama. 

Perempuan liar tidak pernah melarikan diri dari masalah; ia tegar dan berani menghadapi masalah seberat apa pun. Ia tidak membiarkan diri larut dalam rasa bersalah dan keterpurukan. 

Apalagi yang buruk yang dapat terjadi ketika kita sudah kehilangan semuanya, bahkan kehilangan harapan? Tidak, yang paling buruk sudah berlalu, dan akan menjadikannya lebih kuat. 

Perempuan liar tahu saatnya bangkit. Sudah hampir mati sekalipun, terseok, serigala betina akan bangkit. 

Kapasitas mencintai 

Seperti serigala betina, perempuan liar setia dan penuh cinta. Ia mampu mencintai berulang kali dengan pasangan yang sama. Ia memahami bahwa dalam sebuah relasi, ada kematian dan kelahiran kembali. Ia mampu menerima dan memaafkan. 

Ia menerima bahwa cinta bertransformasi, bahwa gairah menggebu-gebu akan berganti dengan keakraban dan komitmen yang lebih matang. Dengan senang hati, ia berdansa dengan pasangan, menyesuaikan langkah kakinya untuk menjaga keharmonisan rumah tangga. 

Jikapun karena satu dan dua hal, hubungannya tidak dapat dipertahankan, perempuan liar mampu dan berani mencintai kembali. Karena sebagai perempuan liar, ia menyatu dengan alam. Alam adalah simbol kehidupan, bukan kematian. 

Perempuan liar menghargai dinamika hidup, cinta yang pergi dan akan datang. Ia punya kapasitas mencintai, ia tahu bahwa perpisahan akan mendatangkan cinta yang baru, yang lebih kuat dan menggebu.  

Perempuan liar bukan perempuan sempurna. Keputusan-keputusannya tidak selalu benar. Tetapi ia belajar dari pengalamannya untuk bangkit, menjadi lebih baik, dan lebih kuat. Jika ia pernah naif, ia belajar untuk tidak lagi naif. Ia kini mengenal si Janggut Biru dan tidak akan lagi terperangkap dalam pesonanya. 

Perempuan, jika saat ini Anda merasa hidup Anda kering dan monoton, jika Anda dicekam ketakutan, rasa bersalah, kepahitan, kesedihan, jika Anda merasa terkekang, dikendalikan, tidak berdaya, dan putus asa, itu pertanda ada energi keliaran dalam diri Anda yang mendesak untuk dikeluarkan.

Pejamkan mata Anda, dalam keheningan, dengarkan lolongan serigala betina dalam diri Anda. Bangkitlah, bertarunglah.