"Beli apa ki, cantik?" Artinya; mau membeli apa, cantik?.

"Masuk ki sini lihat-lihat." Artinya; Ayo masuk melihat-lihat (barang).

"Cari apa ki, sayang?" Artinya; mencari (barang) apa, sayang?

"Ada sayang, ada!" Artinya; ada sayang, (barangnya) ada!

Begitu bahasa-bahasa yang diungkapkan kepada kita (perempuan) ketika sedang asyik jalan-jalan atau dan berbelanja di sebuah perbelanjaan, baik di pasar tradisional maupun modern (mall).

Kita yang sebenarnya cuma mau sekadar cuci mata, melihat-lihat barang, akhirnya tertarik singgah untuk membeli. Kita sering kali mudah terbujuk, karena kalimat-kalimat tadi memang menyentuh emosi.

Hai cantik dan sayang adalah bahasa-bahasa pemasaran, marketing, yang sungguh sangat menawan. Sehingga menarik perhatian kita sebagai pembeli atau pelanggan (lama dan baru).

Siapa juga yang tidak mau dipanggil cantik? (Rasanya jadi tambah cantik dipanggil cantik). Siapa juga yang tidak ingin disayang? (Walau sudah ada yang sayang, apalagi jika belum ada yang sayang). 

Btw, siapa sih yang gak mau dipanggil say (say singkatan kata sayang, bukan saytan, eh setan). Atau dipanggil yang (yang singkatan sayang, bukan Loyang).

Lanjut, namun, kini, ketika Covid-19 melanda, kita mungkin sudah jarang atau tidak masuk ke pasar lagi, atau mall lagi, atau dan toko lagi. Tapi, pembeli dan pelanggan dimudahkan dengan membeli melalui online di media sosial (medsos).

Bahasa marketing, “Ada sayang, ada!” walau penggunaan kata “ada” berulang digunakan (ada kuadrat). Kalimat ini masih sangat familiar kita dengarkan.

Aku pernah melihat video tayangan penjual barang kosmetik yang sedang siaran langsung di Facebook (FB). Siaran langsung ini diikuti, dilihat oleh banyak orang. Mungkin banyak yang ingin membeli, setiap menanyakan barang A sampai Z jawabannya selalu sama; ada sayang, ada. 

“Ada bedak … ta?” tanya seorang perempuan. 

Dan dijawab penjualnya, “Ada sayang, ada!”

Kalimat ada sayang ada kini menjadi viral di beberapa tempat. Lagi pula, ada tik-tok; ada sayang, ada.

Apalagi ternyata, pernah seorang perempuan peserta audisi dangdut dari pulau Sulawesi di televisi swasta memakai kalimat ini sebagai permintaan dukungan kepadanya, “Ada sayang, ada!” 

Kata-kata ini juga hadir di dunia maya, dijadikan sebagai tulisan status atau unggahan untuk caption gambar atau foto. Bahkan juga ketika menjawab chat, pesan untuk lucu-lucuan jawabannya; ada sayang, ada. 

Di dunia nyata pun, anak-anak remaja sering kali menggunakan bahasa ini sebagai bahasa sehari-hari. Termasuk adikku, Ammoz, terkadang memakai ini ketika teleponan dengan teman gengsnya.

Dan ketika aku bertanya sesuatu, misalnya, “Ada muliat gunting?” (apakah kamu melihat gunting?).

Ia menjawab padaku, kakaknya, “Ada sayang, ada!”

Bagiku terasa aneh. Apalagi kata sayang-nya, tanya gunting saja pakai sayang. Gimana dengan yang (lagi) sedang sayang-sayangnya?

Sedang Sayang-sayangnya…

"Kau tutup kisah cinta kita, saat kusedang sayang-sayangnya. Apa ada dia yang lain yang beri semua yang kutak punya. Kau tepikan kisah cinta kita, saat kusedang sayang-sayangnya, kini kutak bisa memaksa, tapi kuharus bilang hatiku terluka."

Lagu ini berjudul, Sedang sayang-sayangnya yang dinyanyikan oleh Mawar de Jongh. Ternyata, lagunya sayang sekali, lagu untuk orang yang sedang patah hati. Kisah lagunya ditinggal seseorang padahal lagi sedang sayang-sayangnya. Aduh, sayang, kuatkan hatimu. 

Kata sayang memiliki banyak arti. Di antaranya; kata sayang dalam kategori kata sifat sebagai ungkapan perasaan. Misalnya, “Kusayang, ki.” (aku sayang kamu).

Kata sayang dalam kategori kata benda sebagai panggilan atau nama. Seperti kalimat di atas, “Ada sayang, ada!” atau “Di mana ki, sayang?” (kamu di mana, sayang?).

Kata sayang juga dapat diartikan sebagai kasihan. Contohnya; “Sayang sekali, kesempatan keluar negeri itu dilepasnya begitu saja.” 

Dan “Makanannya sayang kalau dibuang, kan’ jadi mubazir.” (asal jangan dijawab kasih saja kucing, hikz).

Dalam bahasa Inggris pun ada banyak kata, panggilan sayang. Contohnya, dear Ria yang artinya; Ria, sayang.

My baby, oh, baby, baby artinya memang bayi tapi di sini diartikan sayang juga.

My honey (sayangku) atau I love you, honey (aku cinta padamu, sayang) jadi, bukan maduku ya, tapi sayangku.

My honey, bunny, sweety, dobel-dobel sayangnya, oh no…

Jadi, pilih sayang, pilih makna sayang yang mana? Mau disayang, dipanggil sayang atau dikasihani (disayang karena kasihan). Kalau aku pasti pilih yang pertama dan kedua.

Seperti status seorang teman di FB; kalimat yang diungkapkan orang yang,

-Menikah atau pacaran: Aku sayang kamu

-LDR, pacaran jarak jauh: Aku kangen kamu

-Jomblo: Aku ini siapa?

Aduh, ngenes banget nasib jomblo, identitas saja tidak jelas. Padahal, orang jomblo pasti punya alasan tersendiri kenapa mereka jomblo.

Tenang ya para jomblo, jomblo'ers, kita sama kok. Belum tahu saja mereka kita punya ideologi tersendiri dalam mencari dan memilih pasangan. Hidup jomblo!

Yang jelas, ketika aku bertanya pada teman-temanku; "Adakah cinta yang tulus kepadaku? Mereka menjawab dengan pasti; “Iye sayang, ada sayang ada.”

Ah, sayang, kamu lagi prospek aku…