Pertemuan antara Donald Trump dengan Kim Jong Un pada akhir Juni lalu di De Military Zone (DMZ) menjadi perbincangan hangat dunia Internasional. Banyak orang yang memuji keberanian Trump menginjakkan kaki di DMZ yang terkenal sebagai daerah paling berbahaya di dunia. 

DMZ merupakan perbatasan paling berbahaya di dunia karena penuh dengan ranjau, arteri, dan senjata. DMZ ini jugalah yang menandai perang Korea pada tahun 1950, di mana Cina bersama Korea Utara berperang melawan Korea Selatan yang didukung AS.

Tentang DMZ bisa kita cari di mbah Google tentang sejarahnya. Satu hal yang pasti, ada pesan tersirat yang ingin disampaikan, baik oleh Trump maupun Kim Jong Un, bahwasanya DMZ yang selama ini dikenal dunia sebagai lokasi berbahaya tidaklah demikian pada kenyataannya. Stigma bahwa perbatasan yang selama ini menjadi sekat penanda bahwa dua Korea tidak bisa berdamai harus benar-benar dihilangkan. 

Dan Trump beserta Kim Jong Un berusaha meyakinkan dunia bahwa dua Korea bisa berdamai. Bahwa Korea Utara akan memulai era baru dengan berusaha membuka diri kepada dunia internasional secara perlahan.

***

Hari ini, Indonesia menandai babak baru rekonsiliasi setelah Prabowo dan Jokowi bertemu di MRT. Sama halnya dengan pertemuan Trump-Jong Un di DMZ, pertemuan Jokowi-Prabowo di MRT juga memiliki pesan tersirat bagi rakyat Indonesia. 

Apa dan seperti apa, ini berdasarkan asumsi saya menyikapi pertemuan kedua tokoh bangsa tersebut.

Karena, jika memaknai pertemuan Jokowi-Prabowo dari sudut pandang negatif para pendukung Prabowo-Sandi selama ini di dunia Twitter, maka rekonsiliasi tidak akan pernah terjadi. Bukankah pertemuan ini sungguh indah, menandai berakhirnya perselisihan dua kubu pro Jokowi-Prabowo yang menguras tenaga itu?

Karenanya, pesan yang ingin Jokowi-Prabowo sampaikan bagi kita lewat pertemuan di MRT pada Sabtu, 13 Juli 2019, saya rangkum dari sisi Jokowi dan Prabowo !

Jokowi

Kenapa harus menggelar pertemuan di MRT? 

Sebenarnya MRT bukanlah tempat yang lazim bagi para tokoh bangsa untuk bertemu. Akan tetapi, presiden negara adidaya sekelas Donald Trump saja mau bertemu Kim Jong Un di DMZ, kenapa tidak dengan MRT sebagai lokasi pertemuan Jokowi-Prabowo? 

Dari sini kita bisa belajar tentang sikap seorang Joko Widodo. Ia seorang presiden yang rendah hati dan tidak ingin menjatuhkan harkat dan martabat orang lain, termasuk Prabowo Subianto. Ia juga tidak ingin terlihat penakut atau penurut dengan datang langsung menemui lawan politiknya, meski tujuannya untuk rekonsiliasi.

Karena itulah gagasan untuk mengundang Prabowo Subianto bertemu di MRT, dengan dalih agar pak Prabowo berkesempatan mencoba menumpang MRT, dilakukan.

Dengan mengadakan pertemuan di MRT, berarti tidak ada yang "menemui" dan "ditemui". Tidak ada yang jadi tuan rumah dan tamu seperti saat Jokowi-Prabowo lakukan pasca Pilpres 2014 silam, di mana Prabowo hadir ke Istana Negara, Jokowi berkunjung ke Hambalang.

Kedua tokoh tersebut benar-benar bertemu di tempat netral, transportasi terbaru "milik" rakyat Indonesia. Bertemu membahas segala sesuatu yang perlu dibahas, yang tentunya untuk kebaikan bangsa dan negara.

Kenapa harus di MRT?

Satu sikap lagi yang bisa kita petik dari seorang Jokowi kenapa memilih MRT adalah optimisme. Sikap inilah yang dimiliki seorang Jokowi yang membuatnya dicintai rakyat Indonesia. MRT itu bergerak maju dan hanya berhenti di tujuan yang dituju sesuai rencana.

Pesan moralnya bahwa jika kita ingin menjadi bangsa yang maju, maka harus menanamkan jiwa optimis di dalam diri. Pantang berhenti sebelum sampai pada tujuan yang ingin dicapai.

Kenapa harus di MRT?

Lazimnya dalam sebuah pertemuan pastilah duduk berhadap-hadapan atau bersebelahan. Dan seperti terlihat di beberapa media, Jokowi-Prabowo duduk bersebelahan dalam satu gerbong. Berbincang hangat, diselingi tawa kecil antara keduanya.

Pun demikian dengan kita masyarakat Indonesia. Untuk bisa bergerak maju, kita harus berada dalam "satu gerbong" yang sama. Duduk bersebelahan atau berhadap-hadapan, dengan keberagaman yang ada, namun satu tujuan demi Indonesia yang maju, adil, dan makmur.

Itulah pesan tersirat yang menurut saya ingin Jokowi sampaikan kepada rakyat Indonesia mengapa menggelar pertemuan dengan Prabowo Subianto di dalam MRT.

Prabowo Subianto

Sikap yang diambil Prabowo Subianto dalam memenuhi undangan Jokowi untuk bertemu di MRT patut kita apresiasi. Tidak mudah untuk bertemu lawan politik yang telah mengalahkannya dalam dua kali gelaran Pilpres, meski di saat-saat tertentu mereka berkata bahwa mereka adalah sahabat.

Akan tetapi, hadirnya ia pada pertemuan itu menegaskan kembali kepada kita bahwa Prabowo benar-benar seorang jenderal sejati.

Kenapa Prabowo mau bertemu di MRT?

Hal pertama yang harus kita ketahui bahwa MRT itu tempat netral, tidak ada tamu maupun tuan rumah. Mereka bertemu, tidak ada yang ditemui maupun yang menemui. 

Dengan hadirnya Prabowo pada pertemuan itu, ia ingin menyampaikan kepada kita semua bahwa jika ingin menjadi negarawan, utamakanlah kepentingan bangsa daripada kepentingan ego pribadi maupun kelompok.

Prabowo ingin memperlihatkan kepada kita bahwa dirinya bisa bersikap sebagai seorang negarawan. Bahwa meski kalah, tidaklah rendah. Dan perjuangan membangun bangsa hanya bisa dilakukan lewat rekonsiliasi.

Apa Prabowo tidak menghiraukan imbauan pendukungnya?

Bukan rahasia lagi bagaimana 'marah'-nya para pendukung Prabowo-Sandi atas sikap Prabowo yang mau bertemu dengan Jokowi. Bahkan Amien Rais pun berkata bahwa Prabowo "nyelonong" karena mau bertemu dengan Jokowi.

Terbaru, PA (Persaudaraan Alumni) 212 menyatakan bahwasanya mereka tidak merestui pertemuan itu.

Dengan begitu, banyak tekanan dari pendukungnya sebelum pertemuan terealisasi, dan suara kekecewaan pasca pertemuan tersebut; apa alasan Prabowo berani menerima undangan pertemuan itu?

Sikap kepemimpinan. Prabowo ingin menegaskan kepada kita bahwa tidak ada seorang pun yang bisa mendikte dirinya. Ia tidak bisa ditekan dan diatur oleh siapa pun.

Dan dengan sikap seperti ini, Prabowo jelas lebih mengutamakan keutuhan NKRI, daripada hanya memikirkan perasaan sekelompok orang yang hanya mementingkan ego pribadi. Dan seperti inilah sejatinya sikap seorang prajurit yang telah diambil sumpah setianya untuk benar-benar cinta tanah air Indonesia.

Sembari memberi pesan kepada pendukungnya bahwa kontestasi telah usai, mari bersatu kembali untuk mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia, menjadi bangsa yang maju, adil dan, makmur.

***

Jokowi dan Prabowo sudah bertemu, membahas segala hal untuk kepentingan bangsa dan negara. Saling rangkul dan berjabat tangan, yang menandai berakhirnya era cebong-kampret, demi keutuhan bangsa Indonesia.

Mereka bertemu di MRT, transportasi modern yang dimiliki Indonesia. Mengajak kita semua berada dalam "satu gerbong" yang bergerak maju, mengejar ketertinggalan kita dari negara lain, hingga nantinya berhenti pada tujuan yang ingin kita tuju bersama.

Jika Jokowi dan Prabowo sudah saling rangkul dan berjabat tangan untuk kebaikan bangsa, begaimana dengan kita? Ayo, bersatu kembali demi Indonesia yang lebih baik.