Satu tujuan wisata kuliner di kota Malang adalah menikmati olahan Lumpia yang disajikan oleh Kedai Hok Lay.

Terletak dekat perempatan dekat mall lawas Variety, kedai Hok Lay tertata apik, bersih dengan perabot meja dan kursi yang menunjukkan sebagai kedai lawas, antik dengan pengunjungnya para pelanggan setia, turun-temurun.



"Perfect! Soalnya nama itu tepat di depan..."

Pernah Bersanding Sama 'Rina'

Tahun 1980-an dekat kedai Hok Lay adalah kantor agen karcis travel kendaraan antar kota dalam propinsi bernama Ria, yang dengan kendaraan jenis mini bus merek Isuzu, berkapasitas penumpang 12 orang, termasuk seorang sopir, yang siap mengantar penumpangnya dari kota Malang menuju kota Madiun, via Batu, Kediri, Jombang, Nganjuk, Saradan, Caruban, Nglames, terus masuk kota Madiun melewati gerbang besar seberang sebuah pabrik gula.

Madiun orangnya manis-manis, soalnya banyak pabrik gula di sana. Gigi-geligi kebanyakan warganya juga sehat, putih, kuat dan tersusun rapi, berkat kandungan Kalsium dalam air tanah di wilayah Madiun dan sekitarnya.

Pernah saya pas remaja, masih tinggi-tingginya hormon adrenalin, memesan karcis travel buat perjalanan menuju kota Madiun.

Pas diminta mengisi tempat duduk yang diminati, saya pilih kursi dekat tulisan sebuah nama ‘Rina’. 

Perfect! Soalnya nama itu tepat di depan, di samping sopir, yang artinya saya bakal duduk di sampingnya.

Sudah 2-3 harian saya membayangkan bakal duduk dekat Rina. Tepat hari H, saya duduk di depan ikutan pak sopir menjemput penumpang. Sesampai di depan rumah Rina. 

Ternyata Rina adalah nama si pemesan, sedangkan yang naik travel adalah Neneknya.

Jadilah selama empat jam lebih saya duduk di samping sang Nenek, yang sambil cerita-cerita, saya banyak mendapat petuah dan anjuran dari seseorang yang sudah kenyang asem, garem kehidupan.



"...bentuknya paling sexy dibanding merk-merk lain. Semlohay..."

Akan halnya kedai Hok Lay, jelas gamblang, cetha wira-wira bahwasanya masakan andalan kedai ini adalah olahan Lumpia baik versi goreng, kering atau versi kukus, basah.

Kedai Hok Lay tampak depan berupa bangunan rumah bergaya arsitek jaman kolonial Hindia Belanda yang dilengkapi dengan perabot rumah makan di dalamnya yang lawas, antik dan apik.

Memiliki cita rasa yang khas, yang meski ada pengaruh cita rasa Lumpia Semarang, namun Lumpia racikan Hok Lay mempunyai keunikan tersendiri, antara lain aroma dan rasa rebungnya yang tipis, sehingga tak begitu mengganggu penikmat Lumpia ini bagi yang kurang nyaman dengan aroma dan rasa rebung.

Selain Lumpia, ada minuman khas yang disediakan kedai Hok Lay, yaitu Fosco, dibaca; Fosko. Semacam minuman perpaduan coklat atau mungkin mocca dan susu cair, yang menyegarkan apabila dinikmati selagi dingin.

Keunikan lain Fosco adalah minuman ini ditampung dalam botol gelas satu merk minuman bersoda. Dari dulu memang begitu, jika diganti botolnya mungkin bakal menurunkan kualitas sensasi menyegarkannya.

Patut diakui botol gelas minuman bersoda merk ini, itu bentuknya paling sexy dibanding merk-merk lain. Semlohay istilahnya.

Mantab digenggam, apalagi pas dingin dari kulkas suka memperlihatkan ‘peluh-peluh’ yang menempel di sekujur lekuk body botol, yang sontak menghimbau agar segera mereguk kesegaran isi minuman di dalamnya, bagi siapa pun yang memandang.



"Termasuk memiliki cita rasa Pangsit Cwimie yang klasik..."

Adapun menu andalan lain yang disediakan kedai Hok Lay ini tentunya adalah Pangsit Cwimie ayam khas Malang.

Termasuk memiliki cita rasa Pangsit Cwimie yang klasik, yang bagi pecinta masakan ini, yang telah berusia paruh baya, bakal menuai nostalgia cita rasa Cwimie olahan khas Malang. Sebuah cita rasa yang mampu mengoyak kenangan membahagiakan, sewaktu mereka masih berusia sangat belia bahkan masih kanak-kanak, 50-an tahun lampau.

Satu paket pesanan hidangan khas kedai Hok Lay yang terdiri dari Lumpia goreng, Lumpia basah, Pangsit Cwimie ayam dan sebotol minuman segar, Fosco.

Hanya saja memang, dibanding olahan Pangsit Cwimie ayam oleh kedai-kedai lainnya di kota Malang, maka Pangsit Cwimie ayam kedai Hoklay memiliki cita rasa lebih asin.

Keunikan lain kedai Hoklay ini adalah pada cara sang pemilik, seorang pria yang berusia lebih dari paruh baya, saat beliau memberi perintah melalui jaringan komunikasi interkom ke anak-anak buahnya baik yang di dapur maupun pramusaji perihal permintaan dan pesanan para pengunjung.



"No Complain."

Keren! Karena setiap kata, kalimat, titik, koma, tanda seru, tanda tanya, angka-angka yang disampaikan oleh bapak ini melalui interkom, tak pernah diterjemahkan keliru oleh anak-anak buahnya.

"Lumpia goreng tiga, basah dua, Fosco dua, kopi tubruk satu, soda temulawak dua.”

Cwimie makan sini dua, bongkos empat, dua pake slada, satu gak pake ijo-ijo, satunya gak pake slada, minta tambah acar sama lombok...”

“Lumpia nambah satu, makan sini, minta tambah brambang sama acar.”

Semua berjalan lancar komunikasi via interkom, hidangan sesuai pesanan. No complain

Betapa contoh bagaimana mengungkap informasi yang jelas dan efektif, menjadi satu keunggulan kedai  Hoklay dalam hal memuaskan pelanggan.

Seorang pria paruh baya, pemilik sekaligus pengelola kedai Hok Lay, yang ramah dan sigap memenuhi pesanan setiap pengunjung kedai legendaris di kota Malang ini.

Perihal bapak yang berusia 15-20 tahun lebih tua daripada saya, maka para Sahabat Qureta yang inspiratif, selalu berpikir positif serta senantiasa sehat riang gembira, pada bisa menebak kan dari foto beliau berarti usia Penulis tulisan ini kira-kira berapa?

Malang, kota di mana waktu seolah berjalan mengambang.