Peneliti
2 tahun lalu · 3206 view · 4 menit baca · Agama wp_20131214_023.jpg

Ada Islam di Universitas Kristen Duta Wacana

Saya ingin memulai tulisan ini dengan pernyataan dua tokoh besar antara Syekh Muhammad Abduh (1849-1905), seorang ulama besar Mesir, dengan Ernest Renan (1823-1892), seorang filosof besar Prancis.

Syekh Muhammad Abduh pernah merasa sangat geram terhadap dunia Barat yang mengganggap Islam itu terbelakang dan kuno. Kepada Ernest Renan, beliau menjelaskan dengan lantang bahwa Islam itu hebat, modern, mendukung kemajuan dan seterusnya.

Ernest Renan dengan ringan dan santai, di mana ia juga adalah pengamat dunia Timur, berkata: “Saya tahu persis kehebatan semua nilai Islam dalam Al-Qu’ran. Tapi, tolong tunjukkan satu komunitas Muslim di dunia ini yang bisa menggambarkan kehebatan ajaran Islam.”

Mendengar ungkapan di atas, Syekh Muhammad Abduh “skak mat”, beliau terdiam seribu bahasa. Dikisahkan, beberapa puluh tahun kemudian, beberapa peneliti dari George Washington University ingin membuktikan ungkapan Renan.

Mereka kemudian menyusun sejumlah nilai-nilai luhur Islam, antara lain; jujur, amanah (tanggungjawab), adil, bersih, disiplin, tepatan waktu, empati, toleransi, dan sejumlah nilai-nilai luhur lainnya yang diambil dari Al-Quran, hadits, serta akhlak mulia Rasulullah.

Sejumlah Islamicity Index di atas mereka ujicobakan dengan mendatangi lebih dari 200 negara untuk mengukur seberapa “islami” negara-negara tersebut. Alhasil, Selandia Baru yang notabene bukan negara Islam, dinobatkan sebagai negara paling islami.

Bagaimana nasib negara-negara Islam? Ternyata, negara-negara Islam, termasuk Indonesia, yang penduduknya mayoritas Muslim, justru ada pada rangking 100 hingga 200.

Pelajaran yang bisa diambil dari cerita di atas adalah kaum Muslim jangan hanya bisa membanggakan diri dengan komponen-komponen hebat yang dimilikinya, yang komplit tersedia dalam kitab suci dan hadis-hadis sucinya, sedangkan komponen-komponen canggih tersebut, tak pernah mereka pakai dalam kehidupan sehari-hari.

Sebaliknya, mereka yang secara teologis bukan Muslim, malah justru mengambil nilai-nilai ajaran agung tersebut untuk diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Lihatlah, misalnya kebiasaan orang-orang Jerman atau Jepang, betapa mereka sangat disiplin, menghargai dan tepat waktu. Bukankah ‘waktu’ itu adalah konsep Islam yang termaktub dalam QS. Al-‘Ashr? Ini adalah sebuah introspeksi dan otokritik bagi kaum Muslim.

Maka sangat wajar jika kemudian Syekh Muhammad Abduh saat berkunjung ke Paris pada tahun 1884, di sana beliau menyaksikan Kota Paris yang bersih dan indah, teratur dan rapi. Orang-orangnya beretos kerja tinggi, ramah dan bersahabat. Melihat kondisi demikian beliau berucap; “raaiytu al-Islaam wa lam araa al-Muslimiin” (saya melihat Islam di Paris padahal aku tidak melihat orang Muslim di sana).

Abduh menerjemahkan dan menfasirkan Islam, dalam konteks tersebut, adalah sebagai "sebuah perilaku", sama sekali bukan identitas fisik atau simbol. Etos kerja, tekun, rajin, ramah, tidak menakutkan, tidak mengganggu orang lain, toleran, menghormati perempuan, tidak mudah kawin cerai dan seterusnya adalah “islam” itu sendiri. Terlepas siapa yang mengamalkannya, apakah ia muslim atau non-muslim. Sebuah definisi yang sangat objektif dan transparan.

Insiden Penurunan Paksa Baliho

Kisah kedua, yang ingin saya bagikan adalah peristiwa tercela yang dilakukan sekelompok orang yang beragama (agamis) di Daerah Istimewa Yogyakarta, tepatnya di Kampus Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW). Kampus tersebut mendadak terkenal seantero Nusantara, pasalnya baliho penerimaan mahasiswa baru kampus itu tampak seorang foto perempuan yang menggunakan jilbab.

Gara-gara ada foto perempuan berjilbab tersebut, timbullah upaya paksa pencopotan oleh beberapa aktivis Forum Umat Islam (FUI) Yogyakarta. Dalam pertemuan pihak manajemen UKDW dan FUI, yang berlangsung Rabu (7/12) akhirnya UKDW menyepakati desakan FUI Yogyakarta.

Pihak FUI menilai bahwa foto wanita berjilbab itu tidak sesuai dan tidak layak untuk dipakai sebagai baliho penerimaan mahasiswa baru bagi kampus yang notabene Kristen.

Sejumlah komentar ini-itu segera merebak. Salah satunya adalah komentar Robert yang kebetulan ia adalah mahasiswa kampus tersebut: “Sebaiknya kampus UKDW segera mencopot pamflet tersebut agar tidak memicu isu-isu intoleransi yang sedang marak saat ini." (7/12/2016)

Menurut beberapa laporan dari pihak manajemen kampus, upaya paksa pencopotan baliho dan pamflet dibatasi waktu, jika sampai waktu yang telah ditetapkan belum juga dicopot dan diturunkan maka pihak mereka yang akan memaksa mencopotnya.

Apa jadinya jika mereka tidak tunduk terhadap paksaan pihak FUI Yogyakarta untuk menurunkan baliho tersebut? Mudah dibayangkan apa yang akan terjadi, mudah pula ditebak, insiden apa yang kemudian akan berlangsung. Semua orang pasti sudah bisa memprediksi bagaimana peristiwa tersebut akan berakhir.

Namun, pihak manajemen UKDW lebih cerdas dan cermat mengambil tindakan aman demi sebuah ending yang mulia dan bermartabat. Pihak UKDW mengambil manfaat yang luas ketimbang menanggung besar madaratnya. Kalau dalam kaidah fiqih dikenal kira-kira demikian: “dar-ul mafaasidi muqoddamun ‘alaa jalbil mashaalihi”. Sebuah aksi tepat demi kemaslahatan bangsa dan negara tercinta.

Pertanyaan yang kemudian menggelitik adalah: “bisakah pihak UKDW balik memaksa untuk tidak menurunkan balihonya dengan memakai dalil  HAM?” Sangat-sangat bisa. Tapi, kenapa tidak mereka lakukan?

Dalam konteks ini, saya kira pihak UKDW lebih mengutamakan serta mendahulukan “etika atau moral kebangsaan” ketimbang memaksakan dalil-dalil pembenaran terhadap dirinya. Saya kira, Islam mengajarkan demikian. Dan Syekh Muhammad Abduh telah panjang lebar bicara soal itu jauh sebelum insiden pencopotan paksa pamflet dan baliho di Kampus UKDW Yogyakarta.

Saya ingin mengakhirinya dengan ungkapan bahasa Arab seperti yang diungkapkan Mufti Mesir, mantan Rektor Universitas Al-Azhar Kairo dalam melihat Kota Paris, tapi sedikit berbeda karena tempat dan konteksnya juga berlainan, namun substansinya sama : “raaytu al-islam fi jaami’ah UKDW Yogyakarta wa lau kaana al-Muslimuuna qoliilan hunaaka.” (saya melihat Islam di Kampus UKDW Yogyakarta)