Industri batik Lasem sempat menjadi enam besar industri batik di Hindia Belanda, yakni Surakarta, Yogyakarta, Pekalongan, Lasem, Banyumas, dan Cirebon. Itu terjadi pada periode akhir abad 19 hingga tahun 1970-an. Produk akulturasi budaya ini menciptakan nilai dan produk budaya multikultural.

Ketika menghampiri Lasem, referensi yang dibawa hanya tentang sejarah batik Lasem. Tak ada yang lain. Karena berdasarkan peta Pulau Jawa, Lasem hanya salah-satu kecamatan di Kabupaten Rembang.  

Pertamakali melihat Batik Lasem, ada di Galeri Batik Museum Tekstil Jakarta. Ada warna khas yang menyorot tajam: warna merahnya. Konon menyerupai warna darah ayam. Warna itu tak bisa diperoleh selain buatan Lasem meski pewarna chemical-nya sama. Lasem sendiri berada di daerah pesisir Utara, sama halnya dengan Cirebon, Pekalongan, Semarang, Kudus.

Industri batik Lasem pada masa kejayaannya telah menjadi penopang ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Sejarah Batik Lasem

Industri batik Lasem sempat menjadi enam besar industri batik di Hindia Belanda, yakni Surakarta, Yogyakarta, Pekalongan, Lasem, Banyumas, dan Cirebon. Itu terjadi pada periode akhir abad 19 hingga tahun 1970-an. Produk akulturasi budaya ini menciptakan nilai dan produk budaya multikultural.

Industri batik Lasem pada masa kejayaannya telah menjadi penopang ekonomi bagi masyarakat sekitar. Diperkirakan sebagian besar masyarakat Lasem, khususnya perempuan, bekerja sebagai perajin, pengusaha atau pekerjaan lain terkaitan dengan pembatikan.  

Menurut beberapa ahli sejarah, Lasem merupakan tempat pertamakalinya para pedagang dari Cina mendarat di Indonesia. Penyebarannya hingga Kudus, Demak dan daerah-daerah lainnya. 

Proses pembuatan batik Lasem tidak jauh berbeda dengan pembuatan batik di daerah lainnya, yakni melalui tahap pengetelan, mola, nglengkrengi, nerusi, nembok, ngelir, nglorot hingga melipat.

Sebagian pedagang Cina yang datang menetap di Lasem, hingga keberadaannya kini ditandai dengan banyaknya dijumpai klenteng dan rumah-rumah tua berpagar tembok tinggi dengan tata bangunan khas Cina Kuno. Lasem sendiri punya julukan, yakni "The Little Tiongkok."

Pada Serat Badra Santi karangan Mpu Santi Badra yang ditulis 1479 Masehi, dikisahkan tentang Puteri Na Li Ni dari Campa sebagai perintis pembatikan di Lasem. Tahun 1335 Saka atau 1413 Masehi, tercatat Bi Nang Un, seorang nahkoda kapal dari armada laut kekaisaran Ming dari Cina, singgah di Pantai Regol di Kadipaten Lasem atau kini dikenal dengan Pantai Binangun.

Putri Na Li Ni adalah istri dari Bi Nang Un, nahkoda armada laut pimpinan Laksamana Cheng Ho. Lewat Puteri Na Li Ni diperkenalkan seni membatik, menari, dan membuat slepi lar merak kepada putera puterinya dan remaja putri lainnya di Taman Banjaran Mlati, Kemandhung. Bahkan Puteri Na Li Ni untuk mengedukasi masyarakat setempat untuk dibekali keahlian membatik.

Proses pembuatan batik Lasem tidak jauh berbeda dengan pembuatan batik di daerah lainnya, yakni melalui tahap pengetelan, mola, nglengkrengi, nerusi, nembok, ngelir, nglorot hingga melipat.

Motif yang terpengaruh budaya Cina, antara lainnya adalah motif burung hong atau phoenix, atau lebih dikenal sebagai lok can.

Keunikan dari batik Lasem terletak pada terjadinya interaksi dan akulturasi budaya Tionghoa dengan seni pembatikan asal Jawa. Utamanya adalah pengaruh pada motifnya. 

Motif yang terpengaruh budaya Cina, antara lainnya adalah motif burung hong atau phoenix, atau lebih dikenal sebagai lok can. Juga liong (naga), kilin, ayam hutan, ikan mas, kijang, kelelawar, kupu-kupu, kura-kura, ular, udang, kepiting, dan sebagainya.

Sedangkan motif Jawa sendiri yang khas menjadi motif batik Lasem adalah parang, udan riris, kawung, sekar jagad, sido mukti, dan lain sebagainya. 

Untuk motif khas Lasem sendiri, umumnya dipengaruhi oleh alam lingkungan hidup sekitar Lasem, dengan mengangkat motif kricak, gunung ringgit, dan lain sebagainya. Ketika pengaruh motif-motif tersebut dikombinasikan, maka tercipta lah motif Laseman.   

Sebagai jenis batik pesisiran, motif batik Lasem kerap dianggap tidak memiliki arti sosial-filosofis seperti yang terdapat pada jenis batik pedalaman. Cita rasa artistik dan estestika jauh lebih kuat ketimbang pemaknaan yang filosofis. 

Motif watu pecah berasal dari kejadian kerja paksa Jalan Anyer - Panarukan. Banyak korban dari warga Lasem pada waktu pembuatan jalan tersebut.

Namun salah satu motif Lasem yang mengubah paradigma motif tanpa pemaknaan tersebut, oleh William Kwan atau Kwan Hwie Liong, seorang pemerhati batik Lasem, direpresentasikan dalam motif watu pecah atau motif kricak. 

“Kricak atau watu pecah oleh sebagian pembatik dimaknai sebagai kenangan atas bahan pembuatan jalan Daendels yang membawa banyak korban pekerja paksa di Lasem. Tetapi oleh pembatik lain, kricak berasal dari tanah bebatuan di Lasem yang kering dan sering tampak retak-retak,” terangnya. 

“Meski demikian, motif watu pecah berasal dari kerja paksa Jalan Daendels masih harus ditelusuri lagi kebenarannya,” tambahnya.  

Salah-satu pengrajin batik yang meyakini makna simbolis dari motif kricak atau watu pecah sebagai kenangan pahit jalan Daendels yang banyak memakan korban warga Lasem adalah pembatik Lasem senior, Sigit Witjaksono. 

“Motif watu pecah berasal dari kejadian kerja paksa Jalan Anyer - Panarukan. Banyak korban dari warga Lasem pada waktu pembuatan jalan tersebut. Dan itu menjadikan watu pecah sebagai pondasi jalan dijadikan motif oleh kami untuk mengingatkan hal tersebut,” tuturnya.

Selain motif kricak yang memiliki makna sosio-filosofis, ada juga motif tiga negeri yakni motif yang dimunculkan dalam bentuk kerjasama tiga daerah: Lasem, Pekalongan, dan Solo. 

Bentuk batik tiga negeri yang populer tahun 1950-an ini paling mudah dilihat secara kasat mata adalah dari teknik warnanya. Dalam satu helai kain batik tiga negeri, terdapat tiga perbedaan warna khas asalnya masing-masing. Warna merah dari Lasem, biru dari Pekalongan, dan coklat sogan dari Solo. 

Di Showroom Batik Tulis Lasem Kabupaten Rembang, batik tiga negeri memiliki harga paling tinggi ketimbang jenis batik-batik khas Lasem lainnya. 

Pemberian nama pada sehelai kain batik Lasem umumnya didasarkan atas warnanya bukan berdasarkan ragam hias seperti nama-nama batik dari daerah lain di Indonesia.

Warna

Warna merah khas pada Batik Lasem oleh masyarakat Jawa sering disebut abang getih pithik atau merah darah ayam. Warna ini dipengaruhi unsur Tionghoa yang menjadikan warna merah sebagai warna kejayaan. 

Sifat warna merah batik Lasem sangat berbeda dengan daerah-daerah penghasil batik lainnya di pesisiran Utara Jawa, meski terjadi juga percampuran budaya dari unsur Tionghoa. Bahkan batik Lasem berbeda dengan batik Cina atau encim dari Pekalongan atau daerah lainnya.

Di Pekalongan, tata warnanya mengacu pada tata warna benda-benda porselin dari Dinasti Ming seperti warna merah, biru, merah-biru, dan merah-biru-hijau. 

Pemberian nama pada sehelai kain batik Lasem umumnya didasarkan atas warnanya bukan berdasarkan ragam hias seperti nama-nama batik dari daerah lain di Indonesia. 

Maka dikenal istilah Bang-bangan, kelengan, Bang-Biru, atau Bang-biru-ijo. Dan pada awalnya, Batik Lasem tidak mengenal warna sogan. 

“Keunikan warna merah Lasem diduga karena air tanahnya. Pernah dilakukan oleh beberapa tempat pembatikan di lain wilayah untuk menyamai hasil warnanya, tak pernah sama,” tukas Willliam Kwan. 

Dulunya, warna tersebut diambil dari pewarna alam asal akar pohon mengkudu atau pace. 

Namun ketika pewarna sintetis atau kimia diperkenalkan, pertimbangan ekonomis dan efisien, membuat pewarnaan alam mulai ditinggalkan. Meskipun demikian, banyak batik dari luar Lasem didatangkan ke situ untuk mendapatkan warna khasnya tersebut, semisal batik Gondologiri dari Solo serta batik tiga negeri.

Inovasi

Untuk membuat sehelai kain batik tulis Lasem, diperlukan waktu paling cepat tiga bulan dan paling lama enam bulan hingga dapat dipasarkan. Peralatan yang masih sangat tradisional serta tahap pembuatannya yang serba handmade, membuat waktu pengerjaannya tersebut berlangsung demikian.

Desain batik Lasem yang ada kini umumnya cenderung menggunakan motif-motif lama seperti motif pagi-sore, sekar jagad, lokcan, latohan dan sebagainya. 

Sigit Witjaksono pun membenarkan apa yang ada di dalam batik Lasem semuanya karena bersifat konservatif tradisional. Meski masih digemari oleh konsumen batik, situasi persaingan sengit berbasis batik, penggunaan motif-motif lama secara apa adanya atau konservatif, tidak akan mampu mengimbangi selera konsumen yang sangat cepat berubah.

Untuk memenuhi selera pasar pula, Sigit Witjaksono pun mengeluarkan trade mark batik Lasem-nya dengan mengisi kalimat berhuruf Tionghoa pada motif-motif batiknya. 

Hal tersebut pula pada awalnya sempat menjadi keraguan laku tak laku, mengingat tak semua pembauran bisa diterima seperti yang terjadi di Lasem. Namun ternyata, upayanya berhasil. Motif berhuruf Tionghoa diikuti oleh perajin batik lainnya. 

DR. Harry Darsono PhD mengomentari hal itu dengan apa yang disebutnya Batik Lasem butuh pembaruan. Batik dalam bentuk kain akan menjadi selembar kain saja. Namun batik dalam bentuk fashion akan mengubah kain jauh lebih berarti. 

“Lasem kalau begini terus, tidak akan diterima orang. Akhirnya pembatiknya pun akan menerima pesanan setengah hati,” sergahnya. “Untuk orangtua yang memang mengenal batik Lasem, hal tersebut masih diterima. Namun buat generasi penggemar K-Pop seperti saat ini, sulit sekali.”

Harry memunculkan trend Neo Lasem untuk target anak muda. “Kita musti munculkan nuansa Jawa-Tionghoa yang kita miliki untuk trend K-Pop anak-anak sekarang. Karena kalau tidak, nanti batik Korea yang akan masuk ke sini. Kapok kita,” guraunya.    

Berdasarkan data Forum Economic Rembang, tahun 1950-an terdapat 140 pengusaha batik Lasem. Namun di tahun 1970-an jumlahnya merosot hingga separuhnya. 

Kemerosotannya berlangsung hingga era 1980-an dengan hanya tujuh pengusaha saja yang aktif. Perkembangan batik Lasem mengalami pasang surut antara lainnya situasi politik yang menyentuh SARA, masuknya tekstil bermotif batik Lasem alias batik printing yang jauh lebih murah ketimbang batik tulis maupun batik cap, serta demand yang rendah.

Konservatif tradisional batik Lasem kini harus bertarung dengan jaman yang dipengaruhi selera pasar. Batik tulis Lasem akan terus hidup jika terus dikembangkan disamping tetap dilestarikan. 

Penggemar batik Indonesia tak akan lengkap jika tak memiliki Batik Lasem. Rona akulturasi dan asimilasi budaya ada di dalamnya, melengkapi budaya asli Indonesia.