Penulis
1 tahun lalu · 718 view · 3 menit baca · Media 85775_57029.jpg
Para PKI di Qureta

Ada Banyak PKI di Qureta

Belakangan, muncul isu PKI bangkit. Bahkan, polemik terkait PKI memunculkan kegaduhan sosial dan politik di tengah masyarakat kita. Semua tokoh ambil microphone dan berbicara dengan analisa dan pandangan masing-masing.

Ternyata PKI ada di salah satu media sosial yang menampung segala aspirasi, pandangan, agama, suku, serta pemikiran yang dianggap radikal. Media sosial yang sejak lama saya geluti di mana saya termasuk pemilik akun di situ. Media sosial yang menurut CEO dan pendirinya pernah dicekal Kemenkominfo.

Qureta namanya. Kita boleh menulis apa pun asalkan tidak mengandung unsur hinaan terhadap suku, agama, ras maupun hinaan personal lainnya. Mulai dari mantan Menteri hingga pengangguran dibolehkan menulis di Qureta. Bagi yang tak percaya PKI, dapat menemukannya di media sosial ini.

Lalu, siapakah PKI yang ada di Qureta? Berikut ulasan singkat saya:

1. Luthfi Assyaukanie, Pendiri/CEO Qureta

Sosok yang satu ini selalu mengajak kita keluar dari belenggu pemikiran mainstream. Tulisannya selalu memiliki perspektif filosofis. Bagi yang belum baligh intelektual, sebaiknya jangan membaca tulisannya. Mengapa? Stempel sesat pasti akan dilayangkan kepada bang Luthfi Assyaukanie.

2. Ayu Utami, Novelis

Novelis ini menurut saya selalu menitipkan ideologi kebebasan dalam setiap tulisan-tulisannya. Bahasanya lembut, namun sangat kritis. Membaca tulisannya seolah membaca kegalauan bangsa ini dalam bernegara.

3. Goenawan Mohamad, Sastrawan

Ia sekaligus politisi menurut saya. Tulisan-tulisannya selalu mengkolaborasikan sejarah dan masa kini. Selalu menjadikan masa lalu sebagai teladan masa kini dan yang akan datang.

Pendiri Majalah Tempo ini selalu mampu menentang arus utama. Kasus Anies saat menjadi Mendiknas, misalnya, padahal ia bukan tim pemenangan Anies dan malah cenderung mendukung Ahok. Akan tetapi, demi kebenaran, ia siap melawan.

4. Tsamara Amany, Politisi PSI

Ia selalu menulis dengan sudut pandang yang kritis. Walaupun terbilang muda, namun tulisan-tulisannya tak kalah dibandingkan para penulis senior lainnya.

5. Andrew Prasatya, Content Marketer di iPrice Group

Yang satu mengambil genre kekinian. Tulisan-tulisannya akan menambah ilmu pengetahuan kita seputar media, memberangus mitos sosial media maupun media massa yang selama ini salah kita pahami.

Mereka berlima hanya representasi dari banyak PKI yang menulis di Qureta. Masih banyak penulis yang saya klasifikasikan sebagai PKI dan patut dibaca tulisannya. Bila beruntung, kita dapat mengambil ilmu dari tulisan-tulisan mereka.

Kasus Tere Liye tak perlu menjadikan kita takut menjadi penulis. Dan untuk menjadi PKI, kita harus terus berusaha dan berdoa.

Menulis adalah komunikasi tingkat tinggi. Kita bisa berinteraksi dengan siapa pun, walaupun belum pernah berkenalan langsung. Mau tidak mau kita pun harus banyak membaca agar tulisan tidak dangkal, tidak emosional, sebab penulis memang harus memiliki kesabaran.

Sehebat apa pun seorang penulis, sebanyak apa pun buku yang pernah ditulisnya, tetap saja akan menemukan masa hilang ide. 

Tanpa kesabaran, penulis akan meninggalkan ide yang telah ada dan menyerah karena ide selanjutnya lari entah ke mana. Media seperti Qureta bisa dijadikan tempat latihan menulis. Bukan menganggap remeh, namun Qureta media yang lebih demokratis dibanding media yang lain. Tentu agak mirip dengan kompasiana.com, akan tetapi Qureta memiliki aturan yang lebih menantang, tetap ada standar yang harus kita patuhi.

Kembali soal PKI di Qureta. Mengapa saya berani bilang ada PKI di Qureta? Jawabnya singkat, karena tulisan mereka memang mengandung unsur PKI. Diksi demi diksi yang ditulis menambah perbendaharaan kosakata. Kita pun akan memiliki beberapa sudut pandang alternatif dalam melihat sebuah persoalan. Nilai plus lainnya kita ikut cerdas dengan pencerahan yang diberikan.

Namun demikian, bukan berarti mereka Maha Sempurna. Masih ada kekurangan yang boleh dan sah kita kritisi. Tentu saja dengan dalil dan rasional, bukan dengan emosi yang tak terkontrol.

Walaupun pemilik dan kru Qureta pendukung Jokowi (bila salah, mohon maaf), akan tetapi tulisan-tulisan di media ini lebih berimbang dibandingkan media mainstream. Itulah sebabnya semakin hari semakin banyak penulis Qureta yang masuk PKI.

Apakah mereka melanggar konstitusi negara? Menurut pandangan saya, tidak. Mengapa? Karena tulisan-tulisan mereka tidak menghasut. Hanya mengajak diskusi lebih dalam, melihat persoalan dari banyak sudut pandang; bukan hanya sisi pandang satu agama, ideologi, budaya, bahasa. Khazanah keilmuan bertambah, namun harus diingat pula bahwa kita tak harus setuju dengan tulisan-tulisan mereka.

Qureta menyediakan kolom komentar di bawah tulisan. Silakan berkomentar sehingga terjadi benturan ide. Dalam tradisi intelektual, selalu kedepankan dialog dan diskusi, bukan persekusi maupun eksekusi fisik. Bahkan, peristiwa pengusiran Iblis dari Surga pun dalam bentuk diskusi Ilahi dan Iblis. Padahal dengan kekuatan yang dimiliki Allah Azza Wa Jalla, bisa saja Iblis langsung dicabut nyawanya.

Lalu, mengapa saya berani mengklaim dan menghakimi penulis-penulis tadi sebagai PKI? Bukankah itu pelecehan yang bisa dituntut ke meja hijau? Saya jawab: PKI yang saya maksud bukan Partai Komunis Indonesia, melainkan Penulis Kreatif Indonesia (PKI).

Artikel Terkait