Sepuluh cerpen di buku ini menghasilkan sebuah kesimpulan yang bisa disingkat jadi satu kata; tragis. Ya, semua cerpennya berujung tragis.

Kenapa saya bisa bilang begitu? Karena alur yang diciptakan oleh penulis memang 'memaksa' kita sebagai pembaca untuk merasa ngenes dan miris sejak paragraf pertama setiap ceritanya. Rasa miris yang jarang sekali berakhir happy ending.

Ini cukup sulit untuk dituliskan sepertinya. Jarang ada penulis yang rela membiarkan tokohnya hilang, hanyut di laut atau bahkan mati.

Sepuluh cerpen di sini bertema sama, yaitu fiksi ilmiah. Fiksi ilmiah tentu saja membawa data, analisa, dan ilmu pengetahuan eksakta. Beberapa unsur ini berhasil digabungkan dengan genre drama oleh penulisnya. Drama seperti apa? Bisa kita sebut drama keluarga. Ada banyak cerita yang menampilkan interaksi antara orang tua dan anak di sini. 

Karena penulisnya sudah mencantumkan kata 'Fiksi Ilmiah' di depan kaver, maka otomatis kita akan percaya bahwa isinya akan seperti itu. Tapi saya pribadi lebih suka menyebut buku ini bertemakan fiksi futuristik. 

Bukan tanpa alasan, saya bisa bilang begitu karena memang beberapa di antaranya menceritakan tentang keadaan bumi puluhan tahun dari sekarang. Bagaimana tumbuhan dan pohon menjadi barang langka, bagaimana manusia bisa saling 'makan' karena sudah tak punya empati dan simpati, makanan-makanan yang di-ekstrak dalam sebuah pil sehingga dalam proses makannya para tokoh tak perlu mengunyah, lalu tentang betapa berharganya sebuah kardus (yang saat ini bisa disebut limbah dan sampah) juga banjir dan gempa yang makin sering terjadi.

Tidak akan kita temukan kisah yang ribet, alur cerita yang rumit, atau diksi yang berat seperti rumus matematika. Hampir sembilan puluh persen isinya bisa dibaca dengan nyaman karena cara bertutur si penulis yang asyik.

Ada kisah tentang tanaman Sansieviera, ada yang bercerita tentang air laut dan garam, ada yang membahas bom dan unsur racikannya, dll. Tenang, sekali lagi saya bilang cerpen-cerpennya tidak berat kok.

Kita ambil contoh dua cerita pendek favorit saya.

1.  Surat untuk Nenek Moyang (halaman 33)

Seperti judulnya, cerpen ini memang berisikan sebuah surat. Surat dari seseorang (atau sesuatu) bernama XYZ31. Si XYZ31 ini menumpahkan kegelisahannya lewat sebuah surat yang dia tujukan kepada nenek moyangnya. Dia bercerita bahwa majikannya adalah dua orang berwajah mengerikan. 

Dia ditugaskan untuk menemani anak dari dua orang itu yang wajahnya juga tak kalah menakutkan. Dia jarang pergi keluar rumah kecuali saat si majikan kecil mengajaknya, karena di luar dia selalu merasa susah untuk bernapas, dia merasa sesak. Dia juga mendengar kabar bahwa oksigen akan habis di tahun depan. Dan saat oksigen habis, maka habis pula lah bumi beserta isinya.

Di akhir cerita ini, kita akan tahu bahwa si XYZ31 adalah manusia sedangkan majikannya adalah hewan primata yang bisa berjalan, berbicara dan berpakaian lengkap layaknya manusia.

2.  Menyelamatkan Kota Mati

Premis cerita ini sebenarnya biasa saja tapi detil-detil yang dipakai dalam ceritanyalah yang membuat saya jatuh sayang dengannya. Mengisahkan tentang Rara, seorang pemudi yang bekerja di supermarket milik pamannya, Paman Igor. Rara dan Raka, kakaknya berhasil lolos dari kehidupan menyedihkan yang mereka alami sebelumnya. 

Dulu mereka pernah kelaparan saat kota tempat mereka tinggal tidak mendapatkan suplai makanan sama sekali. Saat itu, Ibu Rara memilih mengorbankan dirinya untuk disantap oleh seluruh anggota keluarga. Ayah Rara dan Paman Igor mengikhlaskan hal itu asalkan anak-anak mereka bisa bertahan. 

Tapi tidak dengan Ega, anak Paman Igor. Karena tidak kuat menahan lapar, Ega menggigit jari-jari tangannya sampai putus. Saat Paman Igor pulang membawa daging tubuh Ibu Rara, Ega sudah tak bernyawa.

Sepuluh tahun berlalu setelah peristiwa itu. Tak ada lagi makanan dalam bentuk yang bisa dikunyah, semuanya berubah menjadi tablet. Makanan apa pun yang kau cari, bentuknya adalah tablet. Begitu juga dengan obat-obatan dan vitamin. Bahkan kardus pun menjadi barang yang amat langka dan mahal harganya. Katena itulah orang berlomba-lomba mengumpulkan kardus.

Rara memilih untuk mengisi waktu luangnya dengan menjadi pendidik anak-anak di gang sempit bersama dengan Rio, temannya. Sedangkan Raka memilih untuk melakukan protes dan demonstrasi besar-besaran dalam rangka menyelamatkan lingkungan, juga mengembalikan kekuasaan yang dirampas pihak asing. Bagi Rara, yang dilakukan Raka itu sia-sia.

Saat Rara sedang membiarkan teman-teman kecilnya menari Jaipong, tiba-tiba gempa datang. Hujan turun deras, sungai meluap. Langit menjadi terang benderang. Jakarta habis di tahun 2053.

Ya, yang menjadi setting lokasi di cerita ini ternyata adalah Jakarta.

Terus terang, di beberapa adegan dalam cerita-ceritanya saya sempat merasa ngeri. Apa iya bumi akan seperti itu beberapa tahun dari sekarang? Apa iya kita akan menjalani hidup di masa depan yang seperti begitu?

Di luar kengerian itu, saya suka sekali dengan ide-ide di setiap cerpennya. Idenya segar. Membacanya sedikit mengingatkan saya akan lahirnya Supernova seri pertama kara MakSur Dee Lestari. Bagaimana saat itu MakSur berani menggebrak genre bacaan di negara ini dengan menyelipkan banyak ilmu eksakta dalam tulisannya.

Sayangnya, beberapa kesalahan tanda baca, juga salah ketik di buku ini agak sedikit mengganggu. Semoga bisa diperbaiki di buku-buku berikutnya ya.

  • Judul Buku: Di Balik Hari Esok
  • Penulis: Aldila Sakinah Putri
  • Penerbit: Guepedia, 2020