“Mapala. Tugasmu tidak hanya mendaki. Tapi juga melindungi. Jika keserakahan datang, bersiaplah untuk menghadang!” Seperti itulah ungkapan Berdikari, media  yang cukup tenar di Indonesia yang dituangkan melalui sebuah poster.

Bagi anggota Mapala, mendengar kata TWKM atau Temu Wicara dan Kenal Medan pasti sudah tak asing lagi. Bukan apa-apa, TWKM bisa dikatakan forum berkumpulnya seluruh Anggota Mapala Tingkat Perguruan Tinggi di Indonesia yang digelar tiap tahun.

TWKM berawal dari kegiatan kemah bakti atau bisa juga disebut camping ceria  Mapala Se Jawa dan Bali pada 1987 yang diadakan Mapala Universitas Jenderal Soedirman dan ahirnya TWKM dilaksanakan pertama kali di Madawirna IKIP Yogyakarta pada 1988.

TWKM sendiri dibagi menjadi dua, Temu Wicara yang diikuti oleh petinggi organisasi guna membahas dan menemukan solusi dari setiap masalah-masalah lingkungan yang terjadi di negeri ini. Sementara Kenal Medan semacam kegiatan yang berbentuk pengenalan alam bebas dan pendalamam skil yang terbagi menjadi beberapa bidang seperti Gunung Hutan, Panjat Tebing, Susur Gua, Arung Jeram, Lingkungan Hidup dan Selam.

Selain sebagai penguat silaturahmi, tujuan diselenggarakan diantaranya Menumbuhkan kesadaran dan sikap kritis mahasiswa pencinta alam Indonesia terhadap permasalahan lingkungan; Meningkatkan peran serta mahasiswa pencinta alam dalam permasalahan lingkungan dan organisasi kepencintaalaman.

Namun, selama kurun waktu 31 tahun TWKM dihelat, tujuan itu terasa semakin jauh dari pelupuk mata. Alih-alih menghasilkan tindakan yang bisa membawa pada kelestarian alam, justru gaung Mapala tak terdengar lagi dari hiruk pikuk perjuangan lingkungan yang justru mengalami degradasi luar biasa dari tahun ke tahun.

Selain itu, sebagian Mapala pun bisa dikata ‘lalai’ dengan masalah lingkungan dan apatis terhadap aktifitas politik yang berkaitan dengan lingkungan. Lebih parahnya lagi, sangat banyak yang beranggapan bahwa ‘Pencinta Alam yang baik adalah mereka yang tidak bersentuhan dengan politik’. Dimata mereka, politik dan pencinta alam merupakan dua hal yang ‘haram’ untuk disatukan.

Padahal, ranah politik dan demonstrasi bukanlah hal baru bagi Pencinta Alam secara umum dan Mapala secara khusus. Soe Hok Gie yang mungkin sebagian orang menyebutnya ‘Kakek Mapala’ adalah demonstran tulen yang peduli dan berani melawan penguasa

Beberapa Mapala justru lebih rajin ke gunung, sungai atau tebing yang bisa dikata bahwa tak ada lagi rimba, tebing, gua, sungai di Indonesia yang belum didatangi ketimbang menentang Undang-undang yang berimplikasi merusak alam, atau berdiri digarda paling depan melawan korporasi yang merusak lingkungan, atau mungkin dari hal kecil yakni diskusi mengenai politik lingkungan.

Wajar saja jika khalayak ramai mendiskreditkan Mapala sebagai organisasi yang anggotanya hanya berisikan kegiatan petualangan.

Mari kita renungkan, akan berbeda cerita jika Mapala terlibat saat masyarakat Kendeng melakukan penolakan terhadap PT Semen Indonesia karena pembangunan pabrik tersebut akan merusak lingkungana atau turut bersolidaritas dan menyuarakan agar kasus Goldfrid Siregar san aktivis pembela HAM dan Lingkungan diusut tuntas atau bahkan turut andil dalam demonstrasi penolakan Rancangan Undang Undang yang beberapa RUU sangat erat kaitannya dengan aktivitas Kepencinta Alaman seperti RUU Pertanahan, RUU Minerba, RUU Sumber Daya Alam yang sama sekali tidak berpihak pada rakyat kecil.

Belum lagi kebakaran hutan yang sudah mencapai 857 ribu hektar yang teridentifikasi dari januari hingga September 2019. Berdasarkan data KLHK total luasan lahan hingga September 2019 ini lebih besar dibandingkan luasan karhutla dalam tiga tahun terakhir. Imbasnya, rakyat yang harus menerima segala konsekuensinya. (Baca disini)

Seharusnya problematika semacam inilah yang disuarakan di TWKM yang kemudian melahirkan rekomendasi-rekomendasi seperti Aksi Serentak, testimoni, atau bahkan mengambil langkah-langkah pendampingan.

Tahun ini, TWKM XXXI dihelat pada 21-27 Oktober 2019 di Banjarmasin, Kalimantan Selatan dan MAPALA Meratus UIN Antasari Banjarmasin bertindak selaku tuan rumah.

TWKM XXXI kali ini mengangkat #SaveMeratus sebagai grand isu. Sebuah langkah maju dan progresif ditengah-tengah degradasi nilai di Mapala Indonesia. Alhasil, ratusan anggota MAPALA Se-Indonesia menyatakan dukungan yang diaktualisasikan dalam deklarasi dan penandatanganan petisi terhadap gerakan #SaveMeratus sebagai upaya penyelamatan Pegunungan Meratus dari ancaman pertambangan batu bara sesaat setelah pembukaan di Auditorium Mastur Jahri UIN Antasari, Kota Banjarmasin pada Senin (21/10/2019). 

Sekedar diketahui, gerakan #SaveMeratus muncul merespon terbitnya izin operasi produksi dari Kementerian ESDM RI untuk PT Mantimin Coal Mining di Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Balangan dan Tabalong. Izin operasional diteken pada Desember 2017 silam. (Baca disini)

Tentu ini langkah yang patut diapresiasi tapi bukan berarti semuanya hanya sampai disitu, justru hasil pembahasan itulah yang ditunggu-tunggu. Tentu banyak pihak yang berharap banyak akan TWKM yang produktif dan proaktif dalam setiap hasil pembahasan-pembahasannya.

Jika seluruh peserta TWKM bersatu dan melawan aktor perusak lingkungan. Bukan tidak mungkin, stigma negatif akan Mapala itu sendiri lambat laun terkikis dan akan tergantikan dengan Mapala yang menjadi organisasi pelopor dalam perjuangan-perjuangan lingkungan di Indonesia. Mapala yang terlibat aktif dalam berbagai kasus-kasus lingkungan di Indonesia. Mapala yang mengecam keras tindakan penegak hukum yang mengkriminalisasi aktivis lingkungan.

Semoga, hasil dari TWKM XXXI ini bisa lebih nyata dan membawa pada kelestarian alam untuk generasi mendatang. Kembali membawa kepada rel tujuan yang selama ini telah diimpikan yaitu Menumbuhkan kesadaran dan sikap kritis mahasiswa pencinta alam Indonesia terhadap permasalahan lingkungan

Itu harapan penulis yang juga anggota Mapala sendiri.

“Saya putuskan bahwa saya akan demonstrasi. Karena mendiamkan kesalahan adalah kejahatan.” ~ Soe Hok Gie