Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat untuk wilayah Jawa dan Bali diberlakukan pada 3-20 Juli 2021. Hal ini dikarenakan penyebaran virus COVID-19 ini semakin meningkat dan varian virus yang semakin mengganas. Kementrian Kesehatan melaporkan penambahan kasus positif COVID-19 pada Sabtu, 3 Juli 2021 sebanyak 27.913 kasus. Jika diakumulasikan menjadi 2.256.851 kasus. Apa hubungannya dengan susu bear brand yang seketika diborong?

Saya putuskan untuk membuka Twitter dan melihat bahwa Bear Brand telah bertengger di puncak trending. Berada dalam trending nomor satu di Twitter, Bear Brand menaruh perhatian saya. Ternyata ini semua dikarenakan sebuah video dimana beberapa orang di sebuah supermarket sedang berlomba-lomba membeli susu bear brand. Heran banget kenapa di hari pertama diberlakukan PPKM ini yang diborong malah susu bear brand?

Kejadian ini tidak hanya dialami oleh seseorang yang merekam video tersebut. Kebetulan saya memiliki toko yang juga menjual susu bear brand dan sudah habis dibeli oleh tetangga saya. Awalnya saya kira itu untuk keperluan biasa, tidak lama setelah itu hulu-hilir beberapa tetangga saya bertanya mengenai susu Bear Brand tersebut. Saya berkata jujur bahwa seluruhnya sudah habis dan menyarankan untuk membelinya di minimarket terdekat. Ia berkata semuanya juga sudah habis, bahkan di minimarket lainnya sudah habis juga. Dari situlah timbul rasa penasaran saya.

Akhirnya harga susu bear brand yang biasanya dibeli hanya sekitar 10 ribu per kaleng, sekarang naik hingga 18 ribu per kaleng. Semua berbondong-bondong membeli susu bear brand hingga terjadi dorong-mendorong. Hanya karena panic buying masyarakat, hingga harga satu kalengnya meningkat hingga 80%. Padahal kandungan yang ada di susu Bear Brand tidak beda jauh dengan susu UHT atau susu low fat no sugar lainnya.

"Katanya" bear brand bisa meningkatkan imun, "katanya" penyintas covid-19 mereka selalu minum Bear Brand hingga sembuh, ya semuanya hanya “katanya”. Kalau kita searching di Google tentang khasiat dari susu bear brand ini, banyak sekali artikel yang muncul. Disalah satu artikel menyebutkan bahwa susu Bear Brand ini membantu menyembuhkan paru-paru pada anak, tetapi tidak melampirkan apakah claim tersebut hasil penelitian atau selfclaim saja. Jika ini dikatakan hoaks, kok bisa artikel yang terbit banyak sekali? Omongan dari mulut ke mulut pun pastinya tak bisa terhindari. Hal ini mengakibatkan timbulnya informasi yang tidak sempurna sehingga berefek pada panic buying yang dialami masyarakat.

Pada kenyataannya PPKM ini berdampak negatif pada ekonomi karena menimbulkan rasa kepanikan serta kecemasan terhadap persediaan bahan pangan dan obat-obatan. Hal inilah yang memungkinkan timbulnya dorongan emosi pada seseorang untuk berpikir tidak seperti biasanya dan menimbulkan panic buying. Panic buying ini terjadi karena menganggap situasi PPKM adalah situasi yang gawat atau darurat. Padahal panic buying ini terjadi dikarenakan informasi yang diterima oleh masyarakat tidak menyeluruh, jadi menimbulkan tindakan berbelanja barang tertentu secara masif seolah-olah itulah upaya penyelamatan diri. Panic buying ini tidak hanya terjadi di Indonesia, negara-negara lain yang terkena wabah virus COVID-19, contohnya Australia, Jepang, Prancis hingga Amerika Serikat. Tidak berbeda jauh dengan Indonesia, mereka berbondong-bondong membeli handsanitizer, masker, dan tisu toilet. Bahkan supermarket-supermarket di Australia menjatah penjualan tisu toilet dikarenakan panic buying yang menimbulkan bentrokan.

Masih ingatkah disaat wabah virus ini pertama kali masuk ke Indonesia, masker dan handsanitizer menjadi barang yang langka? Ditambah beberapa oknum dengan teganya menimbun beribu-ribu masker dan dijualnya dengan harga seroket? Handsanitizer serempak habis di minimarket dan supermarket manapun. Harganya pun lebih mahal dibanding biasanya, begitu miris. Hal ini masih lekat diingatan saya, dimana mencari masker bedah sulit sekali bahkan penjual online store pun sangat sedikit dan dijualnya dengan harga 2-3 kali lipat dibanding biasanya.

Masa-masa panic buying diawal pandemi sudah dilewati dengan baik. Handsanitizer sudah tersedia di minimarket manapun. Lalu, masker bedah bahkan masker jenis lainnya sangat mudah dibeli melalui offline store maupun online store. Kali ini seolah deja-vu, masyarakat sudah mulai panic buying, yaitu susu bear brand menjadi barang yang diperebutkan banyak orang. Seharusnya trend panic buying ini tidak diteruskan karena akan berdampak pada keterbatasan barang-barang dan harga yang naik secara terus menerus.

Panic buying seolah-olah “berbentuk” gerakan refleks masyarakat ketika mendengar sebuah desas-desus yang dengan mudahnya “dipercaya” entah tentang manfaat sebuah minuman ini-itu tanpa ada informasi yang lebih sempurna. Seharusnya dalam keadaan seperti ini, masyarakat berusaha mengontrol informasi yang masuk maupun keluar. Sehingga dapat meminimalisir peredaran hoaks/rumor di sosial media hingga obrolan dunia nyata sekalipun.

Disaat-saat seperti ini apapun tindakan masyarakat akan berdampak pada keberlangsungan penyelesaian pandemi ini. Lebih baik meminimalisir penyebaran dengan tidak berlibur keluar kota maupun keluar negeri, mematuhi protocol kesehatan, menjaga pola hidup sehat, dan membeli barang apapun sesuai dengan kebutuhan saja.