Karakteristik dan kepribadian kita ternyata bisa diukur dengan berbagai metode. Akhir-akhir ini banyak artikel bermunculan di media daring yang berisi analisa (atau tebak-tebakan?) kepribadian seseorang dari berbagai kebiasaannya, mulai dari cara mengeluarkan pasta gigi, cara membalas mention, sampai metode membeli emas. Tidak salah kan kalau saya juga jadi latah ingin menganalisa sesuatu?

Kalian pasti pernah saat chat di WhatsApp lalu menemui orang yang menjawab chat dengan Capslock sengaja dibiarkan menyala. Huruf yang muncul jadi kapital semua. Hal ini tentu tidak enak di mata, selain menyiratkan emosi juga terkesan kurang sopan. 

Karena selalu dibuat gemas oleh beberapa orang yang doyan sekali memakai huruf besar dalam kolom percakapan WhatsApp ini, sedikit demi sedikit saya jadi tahu pribadi yang seperti apa sebenarnya mereka miliki.

Pertama, mereka orang yang dominan.

Suka mendominasi -dalam hal ini mendominasi percakapan- sudah barang tentu di kehidupan nyata pun seperti itu. Mereka inginnya mengatur seluruh isi pembicaraan, mengontrol ke arah mana obrolan akan berlangsung.

Bila hanya terjadi sekali atau dua kali mungkin masih bisa diterima tapi bila setiap kali chat mereka melakukan hal ini tentu saja akan membuat risih. Kesannya tidak menghargai lawan bicaranya.

Analoginya adalah dengan menggunakan huruf-huruf kapital itu mereka ingin menunjukkan bahwa mereka adalah seseorang yang superior. Mereka tidak mau chat mereka tenggelam begitu saja karena terlewat atau tidak terbaca. Nehi pokoknya!

Kedua, attention-seeker.

Umumnya mereka ini adalah para pencari perhatian. Bahasa kerennya: caper. Yang namanya caper ya walau sadar obrolannya nggak penting-penting amat mereka tetap maunya mendapatkan perhatian lebih dari lawan bicaranya.

Analoginya adalah mereka merasa dengan menggunakan huruf-huruf segede Gaban itu maka orang lain yang diajak bercakap akan terfokus penuh pada mereka. Tidak meleng ke mana-mana. Mereka ini maunya selalu diperhatikan, tidak suka bila dirinya atau kalimat-kalimatnya dianggap angin lalu oleh orang. Mereka ingin selalu terlihat. Bold.

Ketiga, tegas.

Tegas di sini bisa dalam arti sebenarnya, tapi bisa juga hanya sebagai kamuflase untuk menunjukkan penekanan agar terlihat tegas.

Analoginya adalah orang-orang Capslock-ian ini menggunakan huruf besar supaya sikap tegas mereka tampak jelas. Seolah apa yang sudsb mereka ketik dan kirim itu tak terbantahkan lagi. Tidak bisa diganggu gugat apalagi didebat. Saklek nek jare wong Jowo.

Khusus di poin ini saya bilang bahwa bisa saja mereka sebenarnya merasa kurang percaya diri untuk menegaskan sesuatu makanya memilih menggunakan huruf besar supaya di mata orang lain ketegasan mereka terlihat lebih nyata. Bisa jadi huruf di chat ala  Rambo tapi hatinya Minky Momo, Gaes.

Keempat, gampang tersulut emosinya.

Bukan rahasia lagi kalau huruf kapital biasanya digunakan oleh orang yang sedang emosi. Sedang ribut dan berdebat dengan lawan bicaranya, mungkin. Intinya sedang marah-marah lah. Apalagi kalo barisan huruf besar ini dibarengi dengan tanda seru yang bertubi-tubi.

Analoginya adalah di mana-mana orang yang sedang marah tentu akan meluapkan emosinya. Bila di percakapan nyata, emosi yang meluap ini bisa diungkapkan dengan suara yang kencang atau malah teriakan. 

Nah bila di dalam chat WhatsApp tentu tidak bisa berteriak kecuali bila menggunakan fitur voice note. Karena itulah huruf-huruf kapital digunakan dalam obrolan. Mereka ingin menunjukkan rasa marahnya. Supaya totalitas begitu. Jadi yang membaca chatnya akan merasa seolah memang sedang dimarahi.

Kelima, memiliki gangguan penglihatan.

Percayalah, Gaes. Di grup WhatsApp emak-emak atau bapak-bapak bakalan sering kita temui percakapan dengan huruf kapital ini. 

Analoginya adalah supaya mudah dibaca. Satu alasan utama yang sering mereka pakai adalah tulisan di kolom chat itu bisa terbaca dengan jelas mengingat daya penglihatan yang sudah semakin berkurang karena faktor usia. Jadi tidak usah pakai acara mencureng sampai kening mengkerut-kerut bila sedang ghibah bersama di grup WhatsApp.

Keenam, gagap teknologi.

Nggak ada penjelasan apa-apa selain ya emang karena mereka ini tidak tahu cara mengganti pengaturan di papan ketiknya. Umumnya ini juga terjadi di grup WhatsApp bapak-bapak atau emak-emak seperti di poin kelima tadi. Mereka tidak tahu caranya dan terlalu malas untuk sekadar bertanya atau mencari tahu.

Analoginya wis pokoknya ngeselin lah ya.

Nah, bagaimana menurut kalian tentang analisa saya ini? Ini bukan sekadar tebak-tebakan, lho. Saya serius memikirkannya. SUER, SAYA SERIUS. JANGAN DIDEBAT!!!