1 bulan lalu · 28 view · 5 min baca menit baca · Pendidikan 61264_91224.jpg

Ada Apa dengan Kertas dan Pendidikan?

“Pohon  adalah tempat menumpang hidup,” Kata penyair dan filsuf asal Jerman, Herman Hesse.

Kertas adalah benda yang sangat dekat dengan kehidupan manusia untuk mempermudah aktifitasnya. Dalam lingkungan masyarakat, ibu-ibu mencatat belanjaan menggunakan kertas, di lingkungan pendidikan dan perkantoran menggunakan kertas, dilingkungan kesehatan seperti rumah sakit juga tak lepas dari kertas.

Hampir setiap orang dari berbagai usia mebutuhkan kertas. Misalnya untuk sekolah, kuliah dan bekerja. Harga kertas yang begitu murah membuat orang tidak akan berpikir panjang untuk membelinya. 

Bahkan anak-anakpun bisa dengan mudah membelinya dalam bentuk buku tulis. Kita ambil contoh kecil, Kertas sering digunakan tidak pada fungsinya oleh anak-anak, seperti menyobek dan menyoret-nyoret kertas yang akan berujung di tong sampah. 

Pada akhirnya mereka harus membeli kertas yang baru untuk memenuhi kebutuhan mereka yang sesungguhnya Orang tua dan guru mereka tidak akan memandang hal tersebut sebagai sesuatu yang merugikan bagi keberlangsungan lingkungan hidup. Karena dengan menyobek-nyobek dan menyoret-nyoret bagi anak-anak dipandang suatu kegiatan yang menumbuhkan kreatifitas dalam tumbuh kembangnya.

Pada proses pendidikan formal di Indonesia, kebutuhan akan kertas semakin meningkat selaras dengan meningkatnya pendidikan seseorang. Dari mulai taman kanak-kanak, SMP, SMA dan sampai perguruan tinggi, kebutuhan kertas semakin besar dengan semakin bertambahnya pelajaran disetiap jenjang pendidikan. 

Dikutip dari Bisnis.com 20 feb 2018, Adapun jumlah kebutuhan kertas  untuk tahun ajaran 2018-2019 mencapai 88.215,09 ton, terdiri dari tingkat SD dan SMP mencapai lebih dari 40 ribuan ton, SMP 26.900 ton, SMA, SMK serta Madrasah Aliyah mencapai 18.577 ton. Kebutuhan akan kertas ini terus meningkat dan terus meluas. Sebagai catatan, kebutuhan kertas dunia mencapai 394 juta ton dan diperkirakan meningkat menjadi 490 juta ton pada 2020. 

Ketua umum Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) Misbahul Huda mengatakan peningkatan kebutuhan kertas lokal pada tahun ini terutama didorong oleh dua hal, yaitu penyelenggaraan pemilu dan kebutuhan kertas untuk pencetakan buku kurikulum sekolah. “buku kurikulum baru dicetak bertahap sampai 2015. Kalau tidak salah jumlah buku yang dibutuhkan mencapai 200 juta eksemplar buku.


Melihat kenyataan data-data yang ada dilapangan, pembatasan penggunaan kertas seperti sebuah keniscayaan. Bahkan istilah paperless society, yakni sebuah masyarakat yang menggantikan peran media komunikasi menggunakan kertas dengan media komunikasi digital (virtual) seperti sulit diwujudkan karena berbagai keterbatasan dan persoalan.

Berbagai strategi telah dikerahkan untuk menanggulangi dan meminimalisisr dampak  dari limbah kertas dan plastik ini demi keberlangsungan lingkungan hidup manusia itu sendiri. Dari mulai kampanye poster, gerakan pengalihan hardfile menjadi softfile dan sejumlah program lainnya. 

Namun pertanyaannya adalah apakah strategi yang digunakan tersebut sudah diterapkan dengan tepat dan dan dapat dilakukan oleh masyarakat secara luas dan merata ?

Seperti yang dilakukan oleh beberapa komunitas lingkungan seperti komunitas Bajukertasku, yang mempunyai visi luar biasa yakni menjadi social green enterprise nomor satu. 

Selain itu media cetak seperti kompas, juga memberikan beberapa strategi cerdas kurangi kertas berupa ajakan dan tips-tips seperti menggunakkan kertas secara maksimal, yakni dengan menggunakan kertas di dua sisi, go online, menggunakan lap kain daripada tisu, dan memisahkan sampah kertas berdasarkan kategorinya agar bisa didaur ulang kembali.

Namun kenyataanya banyak cara-cara mudah tersebut hanya dianggap sebagai slogan belaka. Cara yang tampaknya mudah ini masih belum banyak dipraktekan orang. Banyak cara yang bisa kita lakukan untuk kreatifitas dan inovasi seputar kertas. 

Namun pada aksinya kita tidak cukup hanya mempunyai kreatifitas dan inovasi tapi kita juga membutuhkan pelaku untuk menerapkan dan mengembangkan kreatifitas tersebut. Kita harus menganalisis siapa pelaku utama yang paling banyak membutuhkan penggunaan kertas dan siapa yang harus bertanggung jawab atas keberlanjutan lingkungan hidup.

Dalam hal ini, penulis memilih bahwa lingkungan pendidikan adalah media yang paling tepat untuk melakukan praktik dari strategi-strategi yang digulirkan diatas. Mengingat bahwa dunia pendidikan adalah yang paling membutuhkan banyak penggunaan kertas, maka lingkungan pendidikan juga yang paling berpotensi untuk  mengatasi persoalan yang dikhawatirkan muncul dari limbah kertas.

Yang pertama, sekolah bisa membentuk komunitas Polisi lingkungan yang perduli dengan kertas dan penggunaannya. Seperti yang dilakukan oleh sekolah Al-Azhar Jambi. Komunitas polisis peduli lingkungan adalah orang-orang pilihan yang memiliki karakter peduli dan cinta kepada lingkungan. 

Melalui komunitas ini mereka bisa memberikan contoh kepada diri mereka sendiri terlebih dahulu, kemudian mereka dijadikan contoh oleh teman-teman mereka sendiri. Komunitas peduli lingkungan ini menyebar setiap harinya mengamati siswa/siswi yang dianggap masih kurang perduli kepada lingkungan seperti membuang sampah sembarangan, menghamburkan penggunaan kertas dan tidak memisahkan pembuangan sampah sesuai dengan kategorinya. 

Jika mereka menemukan siswa/i yang kurang perduli terhadap lingkungan mereka akan dengan tegas memberi sangsi berupa denda dan diminta untuk mengambil/atau membersihkan sampah yang mereka buang tadi.

Yang kedua, membentuk komunitas handicraft yang berbahan kertas yang didaur ulang seperti disekolah tempat penulis mengajar. Komunitas handicraft ini dinamakan Pondok Kreasi. Komunitas ini didirikan atas dasar kesukaan/kesenangan dengan kertas, peduli dengan lingkungan, pendidikan, membuat produk yang bermanfaat, dan bisnis. 

Komunitas ini berdiri berawal dari dukungan pihak sekolah hingga akhirnya bisa berdikari membuat berbagai produk dan menjualnya yang tentu saja bermanfaat bagi peserta didik, lembaga sekolah, dan juga bagi seluruh warga sekolah pada umumnya.

Yang ketiga, dari kalangan guru bisa memanfaatkan kertas daur ulang sebagai bahan untuk membuat media pembelajaran bersama-sama peserta didik. Seperti membuat peta timbul, simulasi gunung meletus, dan pola aliran sungai yang semuanya berbahan kertas daur ulang. 

Selain itu juga komunitas-komunitas guru geografi seperti MGMP Geografi Sumut juga telah menggalakan pembelajaran berbasis perduli lingkungan. Seperti membuat media pembelajaran, melakukan aksi lestari, dan lain sebagainya.


Dari beberapa kegiatan yang bisa kita praktikan, penulis jelaskan pada essai ini merupakan sebuah upaya aksi nyata melakukan kreatifitas dan Inovasi Seputar Kertas pada dunia pendidikan. 

Jika kita belum bisa mewujudkan paperless society sebagai cara taktis untuk mengatasi permasalahan lingkungan yang disebabkan oleh limbah kertas, ada baiknya kita melakukan upaya-upaya untuk tetap menjaga kestabilan lingkungan hidup guna terciptanya lingkungan hidup yang berkelanjutan.

Strategi – strategi ini diharapkan menjadi langkah awal bagi pihak yang mempunyai potensi untuk melakukan aksi nyata dilingkungan pendidikan dan pengajaran. Bayangkan satu sekolah minimal punya 300 murid yang teredukasi, dan 30 guru yang mengedukasi, serta pihak sekolah dan lingkungan sekolah yang mendukung. 

Potensi pelaku ini bisa menularkan pendidikan tentang lingkungan kepada teman-teman mereka diluar sekolah, kepada komunitas-komunitas dilingkungan tempat tinggal, atau minimal pada lingkungan keluarga mereka sendiri. Beranjak dari hal tersebut, pendidikan lingkungan hidup akan terus menjadi estafeta perjuangan untuk membentuk lingkungan yang berkelanjutan melalui kreatifitas dan inovasi seputar kertas.

Tentu saja semuanya butuh komitmen bersama. Sehingga semangat kita untuk menjaga lingkungan hidup berkelanjutan dapat tercapai dan terus ditularkan dan diperjuangkan oleh generasi penerus.

Artikel Terkait