Hari-hari ini, Indonesia seperti sedang kasmaran dengan satu negara, sebuah negara kaya dari Timur Tengah, terkenal dengan minyak yang melimpah dan mobil-mobil mewah warganya. Tahu negara yang dimaksud? Iya, negara itu adalah Uni Emirat Arab (UEA).

Pertanda kasmaran ini pertama kali muncul pada pidato Presiden Jokowi pada muktamar PKB 20 Agustus 2019. Beliau baru saja dikunjungi oleh Sheikh Mohammed Bin Zayed (MBZ) Juli sebelumnya. 

Setelah membandingkan kemajuan UEA dan Indonesia dari zaman ke zaman (Tapi begitu menginjak ke tahun 80-85, sudah melompat semuanya naik Mercy dan BMW, kita masih naik Kijang), Presiden Jokowi memberikan pernyataan berikut (youtube.com, 2019):

"Lompatannya saya tanya, kuncinya apa? Kuncinya kecepatan! Jadi sering saya sampaikan, ke depan tidak lagi negara besar menguasai negara kecil; negara kaya menguasai negara miskin; tetapi negara cepat akan menguasai negara yang lambat. Oleh sebab itu kita harus cepat!"

Lebih lanjut lagi, Presiden Jokowi memaparkan pengalaman pribadinya berinvestasi di UEA (Antony dalam news.detik.com dan youtube.com, 2019):

"Saya datang ke sana saya minta izin ke kantor pusat perekonomian. Itu sudah 17-18 tahun yang lalu. Datang ke kantor sana, saya mbawa syarat, saya datang ke meja, 'bapak tanda tangan', saya tanda tangan. 'Bapak pergi ke kantor sebelah'. 15 meter dari situ ternyata kantor Notariat, saya datang ke sana karena sudah online saat itu saya datang ke situ, saya tanda tangan, kemudian saya datang ke meja yang tadi lagi, izin-izin sudah selesai semuanya. Gak ada 30 menit."

Menurut hemat penulis, inilah alasan utama kekaguman Presiden Jokowi sebagai pemimpin Indonesia pada UEA. Birokrasinya begitu efisien dan licin. 

Sungguh berbeda dengan Indonesia, di mana birokrasinya begitu inefisien dan harus diberi pelicin agar bekerja. Sehingga, Presiden Jokowi mengambil inspirasi dari birokrasi model UEA untuk diterapkan di Indonesia.

Kemudian, kemesraan ini terwujud pada kunjungan Presiden Jokowi ke UEA yang baru selesai lusa kemarin. Dari awal kunjungan, terlihat kehangatan di antara pemimpin kedua negara. Bahkan, Presiden Jokowi sampai memanggil Sheikh MBZ sebagai my brother saat cipika-cipiki. Terlebih lagi, UAE put their money where their mouth (and heart) is.

Dari kunjungan tersebut, Indonesia dan UEA melakukan teken kontrak investasi sebesar 312,36 triliun. Angka ini sendiri terdiri atas 5 perjanjian antar-pemerintah dan 11 perjanjian antar pelaku usaha kedua negara. Investasi tersebut dilakukan melalui Sovereign Wealth Fund (SWF) yang dimiliki UAE. Namun, investasi yang paling disorot oleh media adalah dalam pembangunan Ibu Kota Baru.

Sebagai pemimpin negara investor, Presiden Jokowi mengajak Sheikh MBZ untuk mengepalai Dewan Pengarah Ibu Kota Baru. Ternyata, Beliau bersedia menduduki posisi tersebut. Nantinya, Beliau akan menjadi board of directors bersama dengan Masayoshi Son, CEO SoftBank dan Tony Blair, mantan PM Inggris 1997-2007 (Gideon dalam liputan6.com, 2020). Sosok Tony Blair akan kita kupas dalam tulisan lain.

Limpahan uang dan kesediaan ini menunjukkan bahwa Indonesia-UEA sedang dekat-dekatnya. Lantas, faktor apa lagi yang mendekatkan kedua negara selain economic cooperation dan personal rapport antara kedua pemimpinnya? Ternyata, kedua negara have a lot in common.

Pertama, Indonesia dan UEA sama-sama mempromosikan Islam moderat. Dengan kata lain, kita sama-sama merepresentasikan Islam yang damai, toleran, dan mampu beradaptasi dengan dunia modern. 

Bahkan, UEA sampai membuat program pengajaran religious awareness untuk mendorong pemahaman Islam moderat. Dalam program ini, diajarkan mengenai Islam dan scientific training (gulfnews.com, 2019).

Kedua, Indonesia dan UEA sama-sama ingin melakukan diversifikasi ekonomi. Hal ini dilakukan agar perekonomian tidak bergantung pada sektor esktraktif semata. Bahkan, kedua negara sama-sama melirik sektor pariwisata sebagai sasaran diversifikasi. Sehingga, delegasi Indonesia sempat belajar bagaimana UEA mengembangkan sektor pariwisatanya pada kunjungan kemarin.

Sehingga, ada empat faktor yang membuat hubungan Indonesia-UEA mesra. Mereka adalah economic cooperation, personal rapport, Islam Moderat, dan diversifikasi ekonomi pada sektor pariwisata. Lantas, apakah kedekatan ini menguntungkan dalam jangka panjang?

Mari kita lihat dari rekam jejak ekonomi UEA. The Heritage Foundation (2019:426) memberikan nilai 77,6 untuk kebebasan ekonomi negara ini. Artinya, UEA adalah negara dengan ekonomi terbebas di Afrika Utara dan Timur Tengah. 

Terlebih lagi, federasi ini adalah negara kesembilan terbebas di dunia dalam sisi ekonomi. Sehingga, mempererat kerjasama ekonomi dengan UEA dapat menularkan semangat ekonomi yang sama. Sebuah semangat untuk mendorong kebebasan ekonomi di negeri kita.

Selain itu, pertalian ini juga dapat memperkuat eksposur Islam Moderat di kancah dunia. Melalui hubungan ini, dunia dapat melihat bahwa Islam bukanlah agama yang mendorong terorisme. Justru, Islam adalah ajaran rahmatan lil alamin yang mendorong terwujudnya perdamaian dan kesejahteraan bagi umat manusia. 

Dampaknya, kerja sama ini dapat membantu kita dalam staving off Islamophobia di seluruh dunia. Pemusnahan ini adalah salah satu syarat utama dari dunia yang damai dan bebas dari kekerasan sektarian.

Jadi, ada apa dengan Indonesia dan UEA? Menyadur lagu Iwan Fals, ada sebuah kemesraan yang tidak ingin cepat berlalu. Ia akan dikenang selalu, apalagi setelah Ibu Kota Baru menjadi kenyataan. Hati kedua negara damai, jiwa dan raga mereka tenteram di samping satu sama lain.

Semoga pertalian ini semakin kekal dan kokoh, jauh melampaui pembangunan Ibu Kota Baru semata.