Tulisan ini dibuat ketika detik-detik proses pilpres Amerika Serikat mendekati titik klimaks. Sayang rasanya melewatkan momen tersebut dengan tidak membahas satu figur sentralnya, Donald trump. Apabila kita menggunakan pendekatan sudut pandang 'agama interpersonal', Donald trump adalah satu dari sedikit orang di dunia hari ini yang hampir mendekati level 'nilai tuhan'.

Beliau adalah pengusaha sukses dan sekaligus politisi andal. Olehnya, bagi para pengusaha besar yang ingin mengamankan dan menganak-pinakkan hartanya, maka Donald Ttrump adalah teladan. 

Mereka (bisa) disatukan oleh sebuah ikatan emosional di bawah satu prinsip, yaitu 'pengusaha tidak membutuhkan politisi lagi untuk mengerjakan urusan harta mereka di jantung kekuasaan, pengusahalah yang harus memegang kendali dan melakukannya sendiri di dalam sana'. Sebuah prinsip yang lebih tinggi dari gema teriakan 'tidak ada pajak tanpa perwakilan' pada paruh abad ke-18 yang menandai babak baru Amerika Serikat dahulu.

Sepak terjang beliau ketika menapaki puncak kepemimpinan di negara nomor satu dunia ini, mempertegas klaim saya, itu karena beliau membuktikannya dalam serangkaian tindakan yang membuat pencapaian-pencapaian besar. Hal-hal yang dibuatnya itu bahkan tidak pernah berani dibayangkan oleh para pendahulunya.

Bicara soal Negara Amerika Serikat berarti kita akan banyak berbicara soal kebijakan luar negerinya. Donald Trump adalah orang yang sangat lihai menari di antara 'ideologi-ideologi' besar yang tersebar di berbagai negara di belahan dunia ini.

Mari kita mulai dari 'sisi kiri'. Langsung atau tidak, beliau berperan dalam kudeta presiden populis Evo morales di Bolivia, percobaan kudeta terhadap Nicolas maduro di Venezuela, dan memaksa Kuba tetap merangkak dengan lambat antara hidup dan mati. Satu lagi, beliau berhasil menjaga Amerika Serikat tetap berdiri gagah di hadapan Cina, Korea utara, dan Rusia.

Di 'sisi kanan', prestasi paling gemilang yang ditorehkannya adalah bahwa beliau berhasil 'mendamaikan' negara-negara Arab dengan musuh bebuyutannya, Israel. Di sana ada Uni Emirat Arab, Bahrain, Sudan, dan sangat besar kemungkinan Kerajaan Arab Saudi akan menyusul langkah ini secara formal dan terbuka. 

Beliau menggiring pemimpin-pemimpin bangsa Arab tersebut 'memunggungi' perjuangan bangsa Palestina dan Al-Quds. Capaian satu ini membuat diskusi soal Islamic State of Iraq and Suriah, Arab spring yang menyapu Jazirah, atau geo-politik Timur Tengah yang lain menjadi hambar dan tidak ada apa-apanya untuk dibahas lagi di sini. Mengagumkan bukan?

Di dalam negerinya, ada banyak hal yang begitu membuat saya takjub, tarohlah contoh, saat anda mengatakan dengan penilaian angka misalnya bahwa beliau rasis pada tingkat lima, maka beliau akan mengatakan pada anda bahwa dia rasis pada tingkat 10 (dengan caranya sendiri), dan coba tebak, beliau mendapatkan suara dukungan dari kelompok latin pada pilpres 2020 ini jauh lebih banyak daripada pada tahun 2016. 

Mengagetkan untuk salah satu kelompok yang diidentikkan termarginalisasi oleh 'kerasisan' Donald Trump. Maaf kepada gerakan Antifa seluruh dunia akan kenyataan ini.

Atau contoh yang lain, seperti saat beliau meninggalkan rumah sakit tempatnya di karantina pasca divonis positif covid-19, padahal masa karantina belum berakhir. Dalam sebuah pidato, dengan percaya diri beliau menyampaikan, "saya orang yang kebal terhadap virus ini seumur hidup". 

Adakah pemimpin lain yang bisa melakukan hal seperti itu di luar sana selain beliau? Tidak ada. Dan bahwa ada lonjakan signifikan kasus covid-19 di tengah-tengah mobilisasi kampanye pilpres beliau, itu tidak menjadi urusan baginya. Sungguh sebuah pertunjukkan kekuasaan yang tak terinterupsi.

Saat anda mengatakan kemungkinan beliau tidak peduli terhadap kelestarian alam, maka beliau akan menjawabnya segera dengan membuat keputusan seperti menarik diri dari kesepakatan tentang hal itu (ingat keluarnya Amerika serikat dari kesepakatan iklim Paris?). Baginya climate change dan semacamnya hanya mainan wacana dari para pesaingnya.

Kebijaksanaan yang sama beliau terapkan terkait kesepakatan implementasi perjanjian nuklir (Joint Comprehensive Plan of Action), yang diteken bersama dengan enam negara besar pada 2015 lalu terkait dengan nuklir Iran, yaaaap.. beliau membuat Amerika Serikat keluar dari sana sesantuy seorang yang melenggang sambil menjilati es krim yang dibelinya keluar dari minimarket.

Itu hanya sebagian kecil yang bisa saya tuliskan dari sosok beliau, (dan saya mulai bosan). Mari kita ke topik yang lebih umum, bagaimana beliau mampu melakukan banyak hal seperti yang saya tuliskan di atas?

Kemungkinan jawabannya adalah karena beliau berhasil membuat 'agama interpersonalnya', dan orang yang berhasil melakukan hal ini secara otomatis akan dianugerahi posisi tinggi karena pencapaian mendekati 'nilai tuhan'. Setidaknya begitulah mereka di mata orang lain.

Mengutip Mark Manson dalam bukunya yang berjudul Everything is fucked, setidaknya dibutuhkan enam tahapan yang penting untuk mencipta sebuah 'agama interpersonal'. Pertama, jual harapan pada yang putus asa. Kedua, tentukan 'iman' anda. 

Ketiga, libas lebih dulu semua kritik dan pertanyaan dari luar. Keempat, ketahui cara sederhana merancang ritual pengorbanan. Kelima, janjikan 'surga' antarkan 'neraka'. Keenam dan yang terakhir, maka jadilah nabi demi profit, (Penjelasan lebih lengkap dari keenam poin di atas bisa anda cari sendiri).

Inilah mengapa keberhasilan 'Agama interpersonal' mensyaratkan sebuah simbiosis mutualisme, di mana disatu sisi ada 'umat atau jamaat' yang disatukan dalam sebuah keterikatan emosional yang sebagian besarnya adalah ikatan pengharapan dan pemujaan kepada personal tertentu di luar dirinya, dan di sisi lainnya ada figur seperti Donald trump yang menjanjikan terwujudnya harapan itu.

Pengharapan dan pemujaan seseorang kepada orang lain menjadi kunci di sini. Itulah imannya. Jangan pernah anda mengatakan bahwa itu adalah wujud kelemahan paling menjijikkan dari seorang manusia, jangan. Justru orang-orang yang  menganut 'agama interpersonal' adalah pribadi-pribadi yang tangguh. Kalau tidak percaya, coba lihat seberapa beringasnya mereka bereaksi saat figur yang dituhankannya tersebut diganggu.

Itu sama saja anda mengancam bangunan delusional mereka. Seperti ketika anda merasa cinta mati pada seseorang, di mana semua harapan-harapan indah bersamanya di masa depan sanggup membuat anda tersenyum-senyum sendiri, bahkan sampai anda merasa tidak akan sanggup hidup bila tidak bersamanya, dan lalu semua itu buyar saat datang seseorang berusaha menikung anda. Bagaimana rasanya?

Cinta yang demikian adalah 'agama interpersonal' dalam perwujudan ruang lingkup kecil.

Donald Trump mungkin kalah dan lenyap dari panggung pertunjukan dalam waktu dekat, tapi jangan bersedih, sebab figur-figur seperti beliau ada di mana-mana, pun dengan ummat dan jemaatnya. 

Di negara kita, bahkan di kota tempat anda hidup. Baik itu di dunia politik, dunia hiburan, dunia olahraga dan lain sebagainya. Kita tidak pernah kekurangan stok, selama harapan dan pemujaan kita, kita sandarkan dan persembahkan tidak pada diri kita sendiri tetapi pada mereka.