Mengapa tren nama “Bambang” belakangan dimaksudkan ketika mau melucu tapi gak lucu? Dan parahnya juga terkesan menyindir bahkan gambaran betapa seseorang yang tidak bisa melakukan sesuatu lantas disebut: “Eh, Bambang.”

Saya memiliki teman namanya Bambang. Orangnya serius, pakai kacamata, malahan kerjanya di bank. Coba, bank mana yang mengharuskan karyawannya lucu? Bank atau parodi?

Pernah suatu waktu saya disuruh memasang genteng di atap. Saya tidak bisa sebab memang takut akan ketinggian. Celetuk saja temen saya bilang, “kitu wae teu bisa, dasar.. Bambang!” (begitu saja tidak bisa, dasar Bambang!).

Pertanyaanya, kenapa mesti Bambang? Namaku Dadi. Bahwa ketikdakmampuan untuk memasang genteng sejatinya karena memang si Dadi ini tidak bisa. Kenapa Bambang turut dibawa? 

Memangnya Bambang yang asli tidak bisa pasang genteng? Kan, belum tentu? Lagi pula, bukankah nama-nama itu banyak, bisa saja Merlin, Febrian, Annisa, misalnya?

Bagaimanapun, nama adalah doa dan harapan; begitulah anggapan umumnya. Berarti, nama-nama singkat macam Bejo, Bambang, dan Slamet adalah cara pikir sederhana atas orang tua yang fokus pada doa untuk anaknya.

Misalnya nama Bejo yang berarti harapan sekaligus doa agar si anak menjadi beruntung. Begitu juga Slamet yang mengandung doa agar si anak kelak diberi keselamatan, dunia dan akhirat.

Termasuk juga Bambang yang berarti kesatria, harapan dan doa orang tua agar si anak membawa serta jiwa kesatria dalam keseluruhan fisik, mental, dan jiwa di mana ia membumi. Jiwa keperwiraan yang sesungguhnya juga sangat dibutuhkan di negeri Indonesia ini.

Disadari atau tidak, tren perkembangan nama ternyata mengikuti perkembangan kompleksnya kehidupan dan cara berpikir orang tua. Sebagai bandingan, tahun tahunya orang tua saya misalnya, kisaran lahir 60-70an, pemberian nama biasanya singkat dengan satu eja kata. Contohnya saja Wati, Ono, Yono, Ooy. Jika ada yang namanya mirip, tinggal tambah saja nama bapaknya.

Suatu waktu, saya disuruh mengantarkan surat uleman (pengajian) oleh orang tua. Katanya, “tolong antar surat ini ke Ono, ah ya maksudnya Ono-Juned”. Dengan kata lain, surat itu harus saya sampaikan ke Pak Ono, putranya Bapak Juned.

Ke sininya tahun antara 80-90an, ketika situasi keterbukaan makin lebar, dalam artian politik dan budayanya. Tren perubahan nama pun makin berkembang, dari satu eja kata menjadi dua eja kata. Belum lagi nama-nama tersebut mengadopsi istilah luar asing (Arab, Inggris, Cina), meski masih belum kentara.

Sebut saja, sebagai contoh, Tio Andito, Abdul Halim, Muhammad Rizal, Fajar Mutaqien, dan sebagainya. Nama dengan awalan o, e atau akhiran em jarang sekali ditemukan. Oni atau Sarkiem, misalnya, sukar ditemukan di anak-anak kelahiran 90-an.

Di tahun 2000-an ketika kekuatan teknologi-informasi makin meningkat, dan dengan mudahnya dijangkau siapa pun, termasuk orang tua yang sudah punya smartphone, maka tren nama lagi-lagi mengikuti perkembangan teknologi yang memudahkan sekaligus mempercepat hubungan dari yang satu dengan yang lain itu. Mulai dari tiga sampai empat eja kata, dan kentaranya nuansa-nuansa asing terlihat dalam nama anak di tahun 2000-an.

Sebagai guru di kelas X dan XI yang notabene lahir di awal tahun 2000-an, sering kali lidah kepeleset sedikit untuk menyebut nama siswa. Ya bukan kenapa-kenapa; memang namanya panjang dan susah disebut. Misal saja, ada yang namanya Geovanny Tavarel, Rita Putri Abriliani, Gita Setya Andini, Naura Nur Annisa. Malahan, ada yang namanya Kholidah Suhaumah Rofiif Radhiyalla.

Bukan tanpa alasan. Bahkan menurut penelitian Kuipers, penggunaan nama dengan satu eja ala 1970-an sekarang ini bahkan bisa dikatakan nol. Menurutnya, makin banyak lahirnya manusia, termasuk untuk urusan registrasi sekolah, birokrasi, dan pelaporan sertifikat kelahiran adalah muara penamaan dengan tiga sampai empat eja kata yang sukar, bahkan untuk disebut itu marak terjadi dewasa ini. 

Lebih lanjut, dikatakan oleh Kuipers bahwa tren penamaan itu terjadi sebagai konsekuensi logis menghindari kekeliruan yang tak perlu.

Dengan demikian, rasanya cukup aneh jika kebutuhan untuk menyindir, ditulisnya, “Eh, Bambang?” Nama-nama, kan, kadung banyak ragamnya? Ya tadi, ada Geovanny, ada Khalidah, ada Trisa, Merlin. Kenapa juga engga to the point, misalnya, “Eh, gak jelas!” begitu? 

Kenapa mesti Bambang? Apa jangan-jangan kita kurang percaya diri dengan kebudayaan lokal kita sendiri? 

Tren penamaan lokal macam Bambang, Bejo, Asep, dan Slamet memang seharusnya disimpan pada tempatnya sebagai “sindiran, lelucon, dan ketidakmampuan seseorang” dengan lantas kemudian menyebutkannya (Bambang), begitu?

Atau sebaliknya, justru kita merasa tidak “enak” menuliskan “Eh, Robertson!” sebagai sindiran atas ketidakmampuan seseorang, misalnya? Kita merasa tidak enak menyebut Robertson, Robert, Steven, Steve sebab nama itu terlalu asing untuk sekadar jadi bahan lelucon dan gambaran betapa seseorang tidak bisa melakukan sesuatukah?

Ini mohon maaf, bukan menyoal nama yang mesti harus ada sebagai ejekan atau guyonan. Bagaimanapun, semua nama pasti dipilih orang tua sebagai doa agar si anak kelak menjadi apa yang diharapkan dari namanya. Dengan begitu, termasuk juga nama Bambang, kan?

Tapi berbaik sangka jauh lebih baik. Maksudnya begini, kenapa setiap dari kita senang menyebut Bambang, tak lain karena kita memang mencintai produk kebudayaan lokal, dalam hal ini tren penggunaan nama Bambang sebagai sindiran.

Sindiran tidak selalu negatif. Saya malah beranggapan justru positif, membangun. Sindirannya lokal, meski nakal tapi jadi bekal. Sederhananya saja, ketika saya disindir Bambang karena tidak bisa memasang genteng, kan jadi bekal agar ke depannya belajar supaya bisa pasang genteng, minimal?