Ustaz Abdul Somad (UAS), siapa yang tidak mengenalnya? Seorang ustaz, dai, dosen, dan penulis ini kerap nongol di layar kaca. 

Ketenaran kiprahnya sungguh tidak lepas dari karakter pribadinya yang khas dan berkarakter. UAS punya kelebihan unik yang nyaris tidak bisa disetarakan dengan ustaz-ustaz lainnya. Bisa jadi inilah faktor kenapa UAS sampai-sampai dilabeli dai sejuta umat.

Namun begitu, namanya manusia memang tidak pernah lepas dari masalah. Begitulah UAS. Betapa pun kocaknya ia berceramah, betapa gokilnya ia menjawab persoalan jemaahnya, dan betapa pun mengharukan kisah-kisah dakwahnya, ia tetap tak luput dari pemberitaan negatif tentangnya.

Baru-baru ini, kabar tak mengenakkan soal UAS kembali ramai diperbincangkan. Pasalnya, sebuah video pendek memperlihatkan UAS dianggap menghina kepercayaan umat Kristiani. Pada rekaman tersebut, UAS menyinggung Salib, yang dikatakan mengandung unsur setan. Tak hanya itu, UAS juga kafir-mengafirkan umat pemuja salib tersebut.

Video singkat tersebut sontak viral. Berbagai kalangan bermunculan dengan komentar dan respons yang beragam. Ada yang mencela, ada yang menyesalkan. Dan beberapa pendeta maupun pentolan umat Kristen turut turun tangan dan menuntut UAS untuk mempertanggungjawabkan pernyataannya. Atas kasus tersebut, UAS akhirnya dilaporkan ke Polda NTT atas tuduhan menistakan agama.

Nah, ada apa dengan Ustaz Abdul Somad? Pertanyaan ini penting dilontarkan. Kita perlu bertanya ulang mengenai peran dan faedahnya UAS pada kita, pada umat beragama di Indonesia. Oleh sebabnya, inilah sekurang-kurangnya jawaban pertanyaan judul di atas.

Pertama, soal simbol agama. Saya pikir, seorang UAS sebagai lulusan Mesir ini pun seharusnya tahu bahwa simbol agama adalah perkara yang fundamental dan sensitif. Dan semua agama memiliki simbol tertentu dalam menggambarkan kepercayaan pemeluknya. Misal, Islam dengan bulan sabit dan bintang; Hindu dengan Swastika; Buddha dengan bunga teratai (Padma), Konghucu dengan Genta, dan Kristen dengan Salibnya.

Salib adalah simbol yang kudus dan yang diimani oleh umat Kristen. Karena salib tidak lain corpus, atau penjelmaan Yesus dalam mengampuni umatnya. Sebab kesakralan itulah, maka tiada satu pun umat Kristen yang rela simbol agamanya dihina maupun dicemooh. 

Sikap ini pun sama dengan umat agama lainnya. Jadi, dalam hal ini, sekalipun memiliki keimanan yang inklusif, tetap saling menjaga simbol agama lainnya. Karena memang tiada satu pun ajaran agama satu menyuruh mencela agama apa pun.

Tetapi sikap toleransi tersebut tidak dilakukan oleh orang sealim UAS. Tentu saja, tidak sedikit umat Islam yang menyayangkan sikap ulama Riau tersebut. Lebih-lebih umat Kristen yang merasa terhina. Sehingga hal ini bisa menyulut permusuhan dan dendam yang tak berkesudahan.

Kedua, soal kafir-mengafirkan. Kafir bagi agama-agama lain memiliki predikat yang tidak baik. Sehingga tiada agama apa pun yang menerima disebut kafir. Oleh sebabnya, bagian ini umat agama lain seharusnya tidak mudah menuduh dan mengeklaim kafir begitu saja.

Bisa jadi inilah faktor munculnya Munas Alim Ulama di Banjar yang menyimpulkan perlunya penghapusan kata kafir bagi nonmuslim di Indonesia. Bukan apa-apa, tujuan penghapusan ini adalah menjaga persaudaraan sesama bangsa. 

Ide ini tentu tidak muncul dari ruang kosong. Iktikad ini justru muncul dari semangat dan nilai-nilai Muktamar NU 1984 di Situbondo. Dalam Muktamar tersebut menghasil rumusan penting bahwa ada tiga persaudaraan di dalam negara bangsa, yaitu persaudaraan seiman, persaudaraan sesama bangsa, dan persaudaraan sesama manusia.

Persaudaran macam di atas tentu juga tidak menyimpang dari tuntunan risalah Nabi Muhammad. Sebagaimana sejarah mencatat, ketika Nabi tiba di Madinah, maka persaudaraan sesama manusia dibangun dan dikuatkan. Termasuk persaudaraan sebangsa bersama pemeluk agama-agama di luar Islam.

Untuk itu, bagi UAS pun mestinya paham. Bahwasanya klaim kafir, atau pembenaran bagi agama, tidaklah dibenarkan. 

Dasar pikiran ini bersumber dari sikap Nabi Muhammad yang tidak memaksa dan menghakimi suatu agama tertentu. Malah Nabi menghormati dan tidak sekali pun mencelanya. Sikap inilah yang menjadikan beliau sebagai Nabi yang rahmatal lil 'alamin. Lalu, siapakah yang diteladani Ustaz Abdul Somad atas sikapnya itu?

Ketiga, soal mengolok-olok dan menghina agama. Ustaz Abdul Somad memang alim dan dalam ilmu agamanya. Ternyata tidak hanya itu, pembawaannya kocak dan humoris. Inilah yang membuat pamor UAS terus melejit bersama dai-dai beken lainnya.

Namun, pembawaannya yang penuh canda dan panen tawa itu terganggu oleh sikapnya yang mengolok-olok agama Kristen. Mengolok-olok Yesus di kayu Salib dan menyanyikan haleluya dengan irama main-main hanya untuk mendapatkan gelak tawa yang sesaat. Sikap itu pun sama sekali tidak lucu bagi umat Kristen. Olok-olokan itu justru melukai ribuan umat Kristen.

Kenapa UAS harus melakukan itu? Apakah hanya untuk mendapatkan sambutan tawa yang tak jelas manfaatnya? Apakah hanya mau menunjukkan bahwa agama Islam adalah agama yang paling benar, sementara Islam sendiri tidak membenci agama lainnya?

Ada apa dengan Ustaz Abdul Somad? Padahal dialah ulama panutan umat Islam hari ini. Dialah dai yang yang kini lebih diterima oleh banyak umat Islam. Dialah sosok pendakwah Islam yang lebih potensial sebagai teladan terbaik umat Islam. Tetapi semua itu bisa saja akan hilang dari hati pengikutnya. Bisa saja UAS tak jua diterima oleh semua umat agama di Indonesia.

Oleh lantaran itu, tidak ada tindakan yang lebih utama bagi UAS selain memaafkan diri, mengakui kekhilafannya, agar tetap terjaga persatuan umat beragama di Indonesia.

Kita sudah paham dengan sadar bahwa konflik agama kapan saja bisa meledak. Mengingat potensi sumber manusia di Indonesia berasal dari berbagai suku, ras, dan kepercayaan yang kaya terhadap perbedaan, maka dari itu, menjaga dan merawat adalah solusinya. 

Setiap pemeluk agama berhak menjalankan ajarannya masing-masing, tanpa harus mencela dan mengganggu agama lainnya. Begitulah semua ajaran agama yang benar. Begitulah amanat Pancasila yang sakti.