1 tahun lalu · 1119 view · 4 menit baca · Agama 24394_42147.jpg
www.youtube.com

Ada Alasan untuk Menolak Ateisme

Tanggapan untuk Luthfi Assyaukanie

Dalam salah satu sesi kuliahnya di Qureta, Luthfi Assyaukanie menyinggung soal sikap Islam terhadap ateisme sekaligus menguraikan pandangan beberapa tokoh Muslim dalam menyikapi orang-orang Ateis. Kuliah singkat itu berjudul: "Bisakah Islam Menerima Ateisme?"

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Luthfi mendedahkan pandangan dua kelompok dalam Islam. Pertama, kalangan liberal. Kedua, kalangan konservatif. Kalangan liberal ia jadikan rujukan untuk membuktikan bahwa Islam pada dasarnya bisa saja menerima ateisme.

Sedangkan kelompok kedua, yakni kelompok yang ia sebut konservatif, dijadikan bukti bahwa Islam yang konservatif tidak mungkin bisa berkompromi dengan ateisme.

Lebih jauh Luthfi juga menegaskan bahwa orang-orang Ateis bebas hidup di negara demokrasi, termasuk di Indonesia. Karena demokrasi, tegasnya, tidak mengurusi keyakinan seseorang. Orang Ateis memiliki hak yang sama dengan warga lainnya yang bukan Ateis.

Sila ketuhanan yang Maha Esa yang tercantum dalam batang tubuh Pancasila, menurut Luthfi, tak bisa dijadikan dasar untuk menolak keberadaan orang-orang Ateis. Karena ateisme berurusan dengan keyakinan. Dan sejauh menyangkut keyakinan—demikian Luthfi berargumen—itu tidak bisa dipaksakan, baik oleh manusia maupun tata perundang-undangan.

Sebagai penyimak kuliah Qureta yang baik, saya ingin memberikan sedikit catatan untuk kuliah pendek tersebut. Catatan ini saya rangkum kedalam tiga poin sebagai berikut.

Pertama, saya kira kita semua sepakat dengan Luthfi bahwa kebebasan berkeyakinan merupakan hal yang dijamin baik secara teologis maupun secara konstitusional.

Kita juga semua sepakat bahwa Islam mengakui (saya lebih suka menggunakan kata mengakui ketimbang mendukung) adanya prinsip kebebasan beragama. La ikraha fi al-Din. Tak ada paksaan dalam Agama. Karena pemaksaan dalam Agama hanya akan melahirkan kemunafikan.  

Karena itu, di satu sisi, kita harus menghormati pilihan orang-orang Ateis untuk tidak beriman dan memberikan mereka hak hidup yang sama di negeri kita tercinta.

Namun, hemat saya, kita perlu membedakan antara sikap kita terhadap ateisme dengan sikap kita terhadap orang-orang Ateis. Itu dua hal yang berbeda. Kita menerima keberadaan orang-orang Ateis. Tapi, penerimaan kita terhadap keberadaan mereka tidak harus mendorong kita untuk menerima apalagi mendukung ateisme.

Saya bisa membenci ateisme seperti halnya saya membenci setan. Tapi, dalam saat yang sama, kebencian saya terhadap ateisme tidak lantas mendorong saya—sebagai seorang Muslim—untuk bermusuhan dengan orang-orang Ateis. Dengan penolakan dan kebencian yang saya miliki terhadap ateisme, saya bisa saja bersahabat secara sehat dengan orang ateis. Kenapa tidak? Toh mereka semua adalah ciptaan Tuhan.   

Saya setuju jika orang Ateis diberi hak hidup di bumi Indonesia. Tapi, gerakan ateisme yang membahayakan generasi muda perlu kita lawan bersama-sama. Ateisme itu, meminjam isti Austin O'Mallley, adalah penyakit nalar yang timbul gara-gara pengunyahan filsafat yang belum matang (Atheism is a disease of the mind caused by eating underdone philosophy).

Bahkan, menurut Dr. Amru Syarif, seorang pakar ateisme di Mesir, ateisme itu termasuk penyakit jiwa (maradh nafsiy) yang tidak bisa dianggap enteng. Karena itu, hemat saya, sahabat-sahabat kita yang memilih jalan hidup sebagai Ateis harusnya kita tolong, bukan kita dukung. Dengan cara apa? Bukan dengan cacian, hinaan, dan pengucilan, tapi dengan cara diskusi yang sehat, santai serta dipayungi semangat persaudaraan.  

Soal apakah mereka akan beriman atau tidak, itu bukan urusan kita. Tugas kita hanyalah menyampaikan dan memberikan jalan, bukan memberikan paksaan apalagi mengutarakan ejekan dan hinaan.

Jadi, sekali lagi, sikap kita terhadap ateisme itu satu hal, dan sikap kita terhadap orang-orang Ateis itu hal lain. Kita bisa melawan ateisme dengan keras. Tapi orang-orang Ateis perlu kita lakukan dengan cara-cara yang waras.    

Kedua, judul kuliah Luthfi, dalam hemat saya, cukup bermasalah. Mungkin akan lebih tepat kalau kuliah tersebut dikasih judul "Bisakah Islam Menerima Keberadaan Orang-orang Ateis?" Jawabannya tentu sangat bisa. Selama mereka tak melakukan propaganda dan hidup damai dengan kita sebagaimana mestinya.  

Tapi, ketika Luthfi mengajukan pertanyaan "Bisakah Islam menerima Ateisme?" sebetulnya dia sedang berupaya untuk mengharmonisasi dua hal yang saling berlawanan, yaitu Islam, sebagai sebuah agama yang mengajarkan keimanan kepada Tuhan, dengan ateisme yang sudah pasti menolak untuk beriman kepada Tuhan.

Islam dan ateisme jelas tak mungkin menyatu. Dengan kata lain, Islam tak mungkin menerima ateisme. Bahkan bukan hanya Islam. Semua agama di dunia ini saya kira tidak mungkin menerima ateisme.

Tapi kalau soal menerima keberadaan orang-orang Ateis, jangankan Islam, akal sehat kita sendiri tidak akan mungkin menolak hal itu. Keberadaan orang-orang ateis itu sejak dulu, sekarang, bahkan mungkin sampai hari kiamat nanti, akan selalu kita saksikan.

Pertentangan antara yang benar dan salah sudah menjadi bagian dari sunnah Tuhan. Selama dunia ini dihuni oleh orang-orang yang beriman, maka pastilah di sana kita akan menemukan orang-orang yang tidak beriman. Di mana ada Teis, di situlah ada Ateis. Itu fakta yang harus kita terima. Hanya saja, sekali lagi, kita perlu membedakan antara sikap kita terhadap ateisme, dengan sikap kita terhadap orang-orang ateis.

Ketiga, saya tidak setuju jika orang-orang yang menolak ateisme disebut sebagai kalangan konservatif, seperti yang Luthfi katakan. Mungkin Luthfi lupa bahwa Ahmad Syafii Maarif sendiri, tokoh yang ia jadikan rujukan, mengajak kita untuk mewasadai gejala ateisme ini. Di Mesir, banyak juga para pemikir progresif, tapi mereka dengan lantang menolak ateisme.   

Sebagai Muslim saya juga menolak bahkan membenci ateisme. Tapi ingat, sekali lagi, kebencian saya terhadap ateisme tak secara otomatis mendorong saya untuk bermusuhan dengan orang-orang Ateis. Agama tidak melarang kita untuk bergaul, belajar dan bersahabat dengan orang-orang Ateis. Selama kita berniat baik, apalagi jika kita berniat untuk membawa mereka kepada jalan yang baik.  

Terkahir, saya ingin menekankan bahwa Agama kita memang memberikan kebebasan kepada setiap orang untuk beriman dan tidak beriman. Tapi, dalam saat yang sama, Agama kita juga memberikan penolakan keras terhadap ajaran-ajaran yang mengingkari keberadaan Tuhan. Dan dua hal itu, menurut saya, tidak perlu dicampuradukkan. Jaminan kebebasan beragama satu hal, penolakan terhadap ajaran yang anti-agama adalah hal lain.

Orang beragama dan beriman sudah pasti akan menolak ateisme. Kalau dia menerima, kemungkinannya ada dua. Bisa jadi ada yang salah dengan keimanan yang bersangkutan, atau bisa jadi yang bersangkutan sudah menjadi Ateis secara diam-diam. Saya tidak tahu Luthfi berada di barisan yang mana. Semoga saja dugaan saya selama ini salah.