Seketika, kau datang dalam hidup yang penuh hujan di Buitenzorg. Tapi, luasnya samudera tafsir tetap tak bisa menukil absurditas tulisan ini. Catatan tragedi yang sudah mengalami koma permanen, selaiknya menerjang pagi tanpa dihantui Kafka

Tapi, di dada ini juga pernah tersimpan sebuah artefak nama, yang membatu dalam kepalaku. Bekas jejak bunga, masih harum dan ranum seperti saat ia pertama kali bersemi. Dan, tetap menyembunyikan ingatan akan arwah-arwah yang penasaran akan cinta maupun kehidupan.

Kemudian kau masuk dalam tulisan ini, menjadi aktor utama dan satu-satunya yang nyata. Dengan kesadaran penuh, kau memanggil nama penulisnya. Lalu bercerita tentang daftar hari-hari, masa lalumu, rutinitasmu, juga mimpimu, bahkan daftar makanan kesukaanmu, tapi tak pernah kau ceritakan perihal masa depan kita. Kemudian, aku melambai tanpa mengetahui dengan pasti, akan jam-jam berikut setelahnya. Tapi kau malah mengkur jarak cantikmu, dengan senyum manis yang kian pudar dijilat riasan dan sepi.

Namun, aku tetap menatap raut wajahmu dari dekat. Lalu dari jauh. Lalu dekat lagi, dan semakin jauh. Jauh dan terasing. Kemudian ketika peradaban kaotis dan dimensi katastrofi tidak mau mengurus perasaan seorang penulis, selama ia hidup. 

Sesungguhnya, aku rela. Asal kan aku bisa, memesan denyut jantungmu. Untuk degup jantungku, agar setiap detik perjalanan tulisanku dapat diselamatkan oleh
detaknya.

Namun kau, masih hidup dengan menyimpan seribu musim dingin di netramu. Saat itu kehidupan begitu keras dan basah, ditampar guntur dan diinjak hujan. Gelap dan
sunyi saling bergandeng tangan. Malam akan bertandang sebentar lagi. Dan, kau harus pulang ke bahu lelaki itu. Aku pun ingin pulang. Tapi, ke mana aku akan pulang?

Menziarahi Impian

Masa lalu menghubungkan jiwamu dan jiwaku, seperti hadir bersama dan saling menatap rupa masing-masing. Meski sekarang, bayanganmu mulai terdistorsi oleh bisingnya fatamorgana yang sering mereka sebut sebagai realita. Tapi persetan dengan itu semua, aku lebih baik hidup dalam utopia, dan bersekutu dengan jiwamu. Karena hanya dengan itu, hatiku dapat merasakan sebuah gema dari sengkarutnya rindu akan rumah.

Hanya dengan itu, hijab-hijab artifisial yang melekat dalam diriku bisa hancur lebur satu persatu. Mungkin, Tuhan memanglah menciptakan dua tubuh dalam satu, dan pemisahannya berarti egoisme dalam kata, 'aku'.

Dan aku ingin sekali berterima kasih kepadamu, karena telah membaiatku sebagai seorang penulis yang bertaklidkan cinta. Meskipun hanya menjadi seorang penulis, yang bersenjatakan kertas lusuh dan pena berkarat.

Lusuh dan karat, akibat proses korosi dari sesuatu yang mereka sebut sebagai harapan. Bahkan tak apa-apa, bila menggelariku sebagai reinkarnasi Qais Al Majnun. Satu yang penting ialah tak ada berhala apapun dalam hatiku. Satu yang
harus kau sadari adalah kehampaan ini bernyawa.

Kendati jiwa, harus merasakan pedihnya memeluk sepi dan dibekap gelapnya sunyi. Dengan rasa percaya, akan aku jaga lilin-lilin cinta itu agar tetap abadi, walaupun dalam ragaku yang fana. Sebab aku percaya, dua hati yang disatukan melalui kesedihan tidak akan bisa dipisahkan, meski oleh kejayaan masa depan. Dan cinta yang dimurnikan oleh tangis, niscaya akan selamanya murni dan indah.

Maka, jangan izinkan aku untuk mati terlalu dini. Wahai tubuh lemah dan jiwa yang terkadang bertekuk pasrah. Jangan izinkan aku, untuk masuk ke dalam barisan batu, parang dan peluru. Wahai seperangkat naluri dan senggok nurani.

Dan demi perpanjangan cinta, jangan izinkan aku terlelap menjagai setiap sisa pembuluh impian yang kumiliki hari ini. Demi setiap aksara, pada setiap tulisan yang kuciptakan untukmu, sayangku.

Nadir Sekaligus Kulminasi

Pada suatu hari yang tidak biasa. Pagi begitu panas, begitu kering, seperti mewartakan pancaroba tanah dan angkasa. Berlanjut siang, menyingkap peluh yang dikebiri rutinitas abu-abu nan hampa. Tapi sorenya, angin berembus lembut. Awan Sirus putih berjubel, perlahan mendekorasi langit yang berwarna biru. Dan, gagak hitam itu memberi kabar burung bahwa kau telah menemukan yang baru.

Namun, para manusia itu tetap berdansa. Meski telah mendengar hasil musyawarah burung dalam Alegori Sauthus. Epiphany memenggal segala arogansi posesi, yang aku kultivasi sebagai santri tanpa kiai, tanpa pesantren. Seumpama dedaunan coklat yang kehabisan usia, jatuh dengan pasrah. Layaknya tanah, yang membiarkan awan Kumulonimbus memandikannya. Memberikan hak pada takdir untuk menyurati realitas, tanpa seutas pun kebencian perihal kau yang telah bahagia.

Aku hanya menatap langit yang kadung jingga. Sementara, matahari menuju peraduannya. Senandung burung-burung, mengirap ditelan jarak pendengaran.
Tapi, angin masih berembus lirih menyapu wajahku. Dulu, angin binal ini pernah memberantakkan rambut hingga menutupi wajahmu. Aku menguaknya dengan jemariku, menyelipkan helaian-helaian lembut ifu ke sela telingamu lalu melabuhkan bibir, tepat di keningmu. Dan, tak ada yang lebih senja dari jingganya pipimu di sore itu.

Di antara temaramnya malam, kau diam-diam datang ke mimpiku. Mengetuk jiwa, mengecup kalbu, dan mengucap selamat tinggal. Seraya mengabarkan, bahwa malam ini kau telah berhasil melupakan aku.

Kasihku, Sesungguhnya Kehampaan Ini Bernyawa

Pada suatu hari yang berlari. Dia diam, terpaku langit malam dan menunduk dalam. Tanpa ada sepatah pun dialog, sampai aku menyirat monolog, "Hari telah larut, sayangku, semua lelap dalam peluk sang malam. Dan, hanya aku yang masih sibuk meninabobokan masa-masa yang telah silam."

Sementara dia teralih asyik menerawang makna, aku kembali tenggelam pada kolam elegi yang menimbulkan sisi kelam, pada anatomi hati yang kian rumpang dan muka yang terkikis muram. 

Aku mencoba agar tetap derana, mengusir luka dan gugusan trauma dalam gelak tawa. Seraya berkata, "Di dadaku, namamu bernisan bunga, bukan batu. Setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik, bahkan tiap detak. Dengan keras kepala, aku menziarahinya dan masih saja merasakan kehilangan yang begitu baru nan layu setiap waktu."

Akhirnya dia menemukan, sepotong wajah yang kuyu, sepotong wajah yang ia tinggalkan. Tapi, malam pergi dengan durjana. Menyambut pagi, tanpa bejana karsa. Hingga, lelaki itu tergolek mati, bahkan sebelum ia mati. Dia sekarang menjelma secara nirmakna, mewujud abu dari pemakaman sonder daya upaya, lalu berganti wajah menjadi 'aku'. 

Dan menutup riwayat tulisan ini dengan bersabda, "Sebab aku mengabdikan jasad ini, untuk mencintaimu tanpa tenggat waktu langit dan bumi, bahkan melampaui delusi kefanaan. Sehingga, ada atau tiadamu dalam altar penyatuan, getaran cinta ini akan tetap mengabadi pada keabadian."