10 bulan lalu · 1240 view · 12 menit baca · Filsafat 26588_41788.jpg
nice.mn

Ad Hominem, Pengalaman Subjektif, dan Argumen Rasional

Beberapa minggu yang lalu, salah satu kawan saya semasa kuliah terlibat perdebatan mengenai apakah pelecehan verbal merupakan sesuatu yang harus dilarang atau tidak dengan beberapa aktivis sosial melalui Twitter. Kawan saya tersebut dengan tegas menyatakan pelecehan verbal merupakan bagian dari kebebasan berbicara dan maka dari itu tidak bisa dilarang. Pelecehan verbal dapat menimbulkan rasa tersinggung hingga tekanan emosional, namun tindakan tersebut tidak dapat melukai seseorang secara fisik, dan rasa tersinggung dan tekanan emosional tidak bisa dijadikan sebagai dasar pembatasan kebebasan berbicara karena hal tersebut sangat subjektif.

Lantas, bukannya mendebat dengan menggunakan argumen rasional, lawan debat kawan saya tersebut justru menyerang dengan menggunakan serangan personal. Mereka menyatakan bahwa kawan saya tersebut bisa memiliki pandangan demikian karena dia memiliki privilege, di antaranya adalah tubuh yang proporsional dan penampilan yang menarik. 

Para aktivis sosial tersebut mengatakan bahwa karena privilege itulah kawan saya tidak bisa mengalami penderitaan yang dialami oleh banyak orang yang memiliki tubuh dan penampilan yang dianggap tidak ideal dan tidak menarik, yang harus menghadapi penghinaan dan pelecehan verbal sehari-hari. Mereka menuduh kawan saya sebagai seorang yang seksis, egois, hingga tidak memiliki rasa sensitif dan kepedulian terhadap orang lain.

Kawan saya tersebut merupakan salah satu dari sekian banyak individu yang mendapatkan serangan personal dikarenakan anggapan sebagian pihak mengenai keistimewaan identitas dan status sosial yang dimilikinya. Di belahan dunia barat, serangan personal dalam perdebatan, atau yang dikenal dengan istilah ad-hominem, merupakan hal yang tak jarang terjadi. Serangan personal muncul, baik di dalam perdebatan di dunia maya maupun perdebatan akademis, dan sering muncul khususnya ketika topik yang diangkat merupakan hal yang sensitif, seperti isu yang terkait dengan ras, gender, kelompok minoritas, dan kelas sosial.

Di negara-negara Eropa dan Amerika Utara, serangan personal kerap diarahkan kepada identitas tertentu yang dimiliki oleh seseorang. Identitas yang kerap menjadi sasaran tersebut di antaranya ialah ras kulit putih (kaukasian), jenis kelamin laki-laki, orientasi seksual heteroseksual, identitas gender cisgender (seseorang yang memiliki identitas gender sesuai dengan jenis kelamin saat ia lahir), agama kristiani, dan kelas sosial menengah ke atas.


Laki-laki cisgender berkulit putih, yang memiliki orientasi heteroseksual, beragama kristen, dan lahir dari keluarga menengah ke atas dianggap sebagai kelompok yang memiliki keistimewaan tertinggi di masyarakat, sehingga ia tidak mempu untuk mengalami pengalaman yang dialami oleh kelompok-kelompok minoritas yang termarjinalkan.

Hal inilah yang dialami oleh seorang psikolog dan penulis asal Kanada bernama Jordan Peterson dalam sebuah acara debat di Toronto. Dalam debat yang diselenggarakan oleh Yayasan Aurea tersebut, Peterson memiliki rekan satu tim bersama dengan aktor Inggris ternama Stephen Fry, mendebat kolumins New York Times Michelle Goldberg dan sosiolog Amerika Serikat, Michael Eric Dyson.

Debat tersebut membahas berbagai macam isu yang saling terkait, diantaranya adalah political correctness, hak kelompok vs hak individu, isu terkait gender, serta kekerasan yang hadir di dalam masyarakat. Ketika isu mengenai hak kelompok vs hak individu masuk menjadi bahasan, Peterson mengemukakan pandangannya bahwa ia memiliki sikap yang sangat kritis atas apa yang ia anggap sebagai obsesi kelompok kiri di barat, khususnya Amerika Serikat dan Kanada, terhadap indentitas kelompok sehingga melupakan nilai individual.

Peterson melihat bahwa obsesi yang berlebihan terhadap kelompok sosial akan melahirkan pemahaman bahwa setiap individu tidak memiliki niali yang autentik dan independensi pada dirinya sendiri, melainkan ia akan terus dilihat berdasarkan kelompok sosial tertentu yang menjadi bagian dari identitasnya.

Hal tersebut bagi Peterson merupakan sesuatu yang sangat berbahaya karena setiap ideologi yang tidak menjadikan individu sebagai unit terkecilnya niscaya akan berujung pada totalitarianisme, sebagaimana yang ditunjukkan oleh berbagai rezim politik pada abad ke 20. Selain itu, Peterson juga berujar bahwa hal tersebut merupakan sesuatu yang sangat bertentangan dengan narasi besar yang membentuk peradaban barat, yakni pernyataan bahwa setiap individu adalah setara.

Namun, sebagaimana jawaban para aktivis dalam perdebatan dengan kawan saya di paragraf awal, Dyson justru melakukan serangan personal terhadap Peterson sebagai upayanya melawan argumen psikolog asal Kanada tersebut. Dyson, yang merupakan seorang kulit hitam, menyebut Peterson sebagai seorang laki-laki kulit putih yang kejam dan tidak memiliki empati. Dyson bahkan juga menyerang Peterson dengan menyuruhnya untuk mengecek keistimewaan kulit putih (white privilege) yang ia miliki.

Selain itu, sosiolog asal Amerika Serikat tersebut menyatakan bahwa fakta Jordan Peterson lahir sebagai laki-laki berkulit putih membuatnya tidak bisa mengalami pengalaman yang dialami oleh berbagai kelompok minoritas. Peterson dikatakan oleh Dyson tidak bisa merasakan pengalaman atas tindakan rasisme, seksisme, yang membuatnya dapat memiliki pandangan kritis terhadap apa yang dia lihat sebagai obsesi terhadap kelompok sosial dan bukan pada nilai setiap individu, seolah dengan menyerang Peterson secara personal maka secara otomatis argumen yang dikemukakan Dyson menjadi valid dan argumen Peterson menjadi gugur.

*****

Saya tidak menolak bahwa setiap individu atau kelompok secara kolektif memiliki pengalaman yang berbeda satu sama lain, dan identitas kita memainkan peran yang sangat krusial mengenai pengalaman apa yang akan kita alami, baik di dalam keluarga, komunitas, masyarakat, hingga kehidupan bernegara. Seorang laki-laki yang berasal dari etnis mayoritas, serta lahir di kota besar dan dari keluarga kelas menengah tentu akan memiliki pengalaman yang berbeda dan tidak akan bisa merasakan apa yang dialami oleh seorang perempuan yang berasal dari etis minoritas, yang lahir di desa terpencil dan dari keluarga yang tidak mampu.

Melalui pengalaman yang kita alami tersebut tanpa sadar telah membentuk pemahaman dan penafsiran kita akan dunia sekeliling kita. Pengalaman yang berbeda tentu akan menghasilkan pemahaman dan penafsiran yang berbeda pula. Seorang yang lahir di kota besar dan dari keluarga pejabat tinggi tentu akan mengalami pengalaman interaksi terhadap lembaga-lembaga negara serta partai-partai politik yang berbeda dengan seorang yang lahir di desa dari keluarga buruh tani, yang tentunya akan memunculkan pemahaman dan penafsiran akan lembaga negara dan partai politik yang tak sama.

Akan tetapi, ada perbedaan yang sangat penting antara mengakui bahwa identitas yang melekat pada diri kita memiliki pengaruh yang krusial terhadap cara pandang kita dalam memahami dan menafsirkan dunia, dengan pernyataan bahwa fakta setiap individu atau kelompok memiliki pengalaman yang berbeda bisa dijadikan sebagai dasar argumen rasional untuk membantah atau menyerang argumen lawan debat atau diskusi.

Argumen rasional dalam debat atau diskusi haruslah berdasarkan sesuatu yang objektif, sementara pengalaman merupakan sesuatu yang subjektif. Menyatakan bahwa pengalaman seseorang atau kelompok tertentu bisa dijadikan sebagai dasar argumen untuk menyerang argumen lawan dalam debat niscaya akan berujung pada perdebatan ad hominem yang tiada berujung karena setiap pihak pasti akan bersikukuh menjadikan pengalamn pribadi atau kolektifnya masing-masing yang bersifat subjektif untuk menyerang lawan debat.

Taruhlah kita kembali ke kasus perdebatan kawan saya pada awal artikel. Bila pengalaman subjektif bisa dijadikan sebagai dasar argumen rasional dalam perdebatan, maka kawan saya tersebut juga bisa melakukan hal yang sama, yakni menggunakan pengalaman pribadinya untuk menyerang para akrivis sosial yang menjadi lawan debat dan memberi validasi bagi argumennya. Ia dapat mengatakan bahwa sama dengan dirinya, para aktivis sosial tersebut juga tidak bisa merasakan pengalaman subjektif yang dia alami.


Mereka tidak pernah merasakan bagaimana rasanya memiliki tubuh yang proporsional dan penampilan fisik yang menarik. Kalau saja mereka memiliki pengalaman yang sama dengan kawan saya, niscaya para aktivis sosial tersebut akan membela hak kebebasan berbicara sebebas-bebasnya, termasuk hak untuk menyatakan pelecehan verbal. Dengan demikian perdebatan akan menjadi jalan di tempat karena kedua belah pihak sama-sama menggunakan pengalaman subjektifnya sebagai dasar untuk memberi validasi atas argumen yang dikeluarkan.

Oleh karena itu, dibutuhkan sesuatu objektif, yang memiliki sifat independen, terlepas dari siapa pun yang mengatakannya. Ia harus mampu menjadi jembatan untuk mengartikulasikan setiap pemahaman dan penafsiran terhadap dunia yang dimiliki oleh seseorang ke dalam ranah perdebatan kepada individu lain, agar debat atau diskusi dapat berjalan. Hanya logika dan pembuktian empiris yang memenuhi syarat tersebut.

Logika menyediakan bagaimana membangun proporsi yang valid serta metode penalaran yang tepat, sementara pembuktian empiris digunakan untuk memverifikasi sedekat apa argumen yang kita gunakan seusai dengan fakta dan realita. Hanya dengan membuktikan kesalahan dalam logika berpikir dan menunjukkan bukti empiris yang berlawananlah kita dapat menghancurkan argumen lawan debat atau diskusinya secara rasional, sebesar apa pun ketidaksetujuan kita terhadap argumen tersebut.

Lantas, bagaimana cara praktis agar kita tidak terjatuh ke dalam kesalahan ad-hominem ketika membangun argumen dalam perdebatan?

*****

Secara pribadi, saya memiliki dua prinsip utama yang saya ikuti dalam membangun argumen dalam perdebatan, yakni prinsip universalitas dan prinsip selubung ketidaktahuan. Sebelumnya saya kira penting untuk dicatat bahwa prinsip ini merupakan sesuatu yang saya terapkan untuk diri saya sendiri, dan bukan dalam rangka untuk menyatakan bahwa prinsip ini merupakan sesuatu yang patut untuk diikuti oleh siapa saja.

Prinsip universalisme merupakan istilah yang saya pinjam dari formula pertama konsep Categorical Imperative Immanuel Kant. Kant dalam formula pertama filsafat moralnya menyatakan bahwa suatu tindakan secara moral benar apabila pada saat yang sama setiap orang dapat melakukan hal yang serupa dan tindakan tersebut dapat dijadikan hukum yang universal.

Contoh kontemporer dari prinsip tersebut adalah tindakan melanggar lampu lalu lintas. Dilihat dari etika Kantian, tindakan tersebut tidak dapat dibenarkan secara moral karena ia tidak bisa dijadikan sebagai hukum yang berlaku universal. Apabila seluruh pengguna jalan pada saat yang sama melakukan pelanggaran terhadap lampu lalu lintas, maka jalan raya akan menjadi kacau dan tidak dapat berfungsi.

Dalam prinsip universalisme argumen, saya menyatakan bahwa setiap argumen yang saya keluarkan dalam perdebatan harus dapat digunakan bukan hanya ketika saya sedang berargumentasi dengan lawan saya saat ini, namun argumen tersebut juga harus bisa digunakan ketika saya berdebat dengan setiap orang apabila mereka menggunakan argumen yang sama dengan yang lawan debat saya gunakan sekarang.

Sebagai ilustrasi, katakan saya sedang melakukan debat mengenai isu aborsi dengan kawan laki-laki saya yang memiliki pandangan pro-life (anti hak aborsi.) Saya sendiri, terkait hal ini, memiliki pandangan pro-choice. Saya percaya setiap perempuan memiliki hak mutlak atas tubuhnya sendiri, termasuk hak untuk menterminasikan kehamilannya kapan saja ia mau.

Ada satu argumen yang tak jarang dipakai oleh teman-teman saya yang memiliki pandangan pro-choice ketika mendebat laki-laki yang memiliki poisisi pro-life, yakni bahwa laki-laki tersebut tidak memiliki rahim dan vagina sehingga mereka tidak bisa mengalami pengalaman mengandung dan melahirkan dan oleh karena itu mereka tidak boleh memiliki opini apa pun tentang bagaimana cara mengatur tubuh perempuan.

Saya tidak akan pernah menggunakan argumen tersebut di dalam perdebatan, karena argumen tersebut telah melanggar prinsip saya tentang universalisme argumen. Argumen di atas tidak bisa digunakan secara universal, dan hanya bisa dikemukakan apabila kita berhadapan dengan lawan debat laki-laki. Lantas bagaimana bila lawan debat kita perempuan yang memiliki posisi pro-life? Tentu menggunakan argumen yang sama bahwa dia memiliki posisi anti aborsi dikarenakan tidak memiliki vagina dan rahim merupakan sesuatu yang sangat konyol dan tak masuk akal untuk dilakukan.

Prinsip kedua, yakni prinsip selubung ketidaktahuan, merupakan istilah yang saya pinjam dari konsep yang diajukan filsuf politik John Rawls yang dikenal dengan nama The Veil of Ignorance dalam bukunya A Theory of Justice. Dalam bukunya, Rawls berupaya memformulasikan konsep mengenai keadilan secara abstrak.

Dalam bukunya, Rawls mengajak pembacanya untuk merumuskan mengenai bagaimana cara mendirikan dan mengorganisir masyarakat secara adil. Namun, sebelum itu, Rawls mengajak pembacanya untuk membayangkan kita berada di kondisi kesadaran sebelum kita lahir, dan kita tidak dapat memilih bahwa kita lahir akan berada di keluarga seperti kaya atau miskin, berkulit putih atau hitam, laki-laki atau perempuan, talenta apa yang kita miliki, dll, karena kita ditutupi oleh the veil of ignorance.

Lantas, dalam situasi demikian, masyarakat seperti apa yang akan kita dirikan? Apakah kita akan mendirikan masyarakat yang menjalankan praktik perbudakan misalnya, dengan risiko kita terlahir sebagai budak, atau kita justru akan mendirikan masyarakat yang bebas, egaliter, dan membuka kesetaraan mendapat kesempatan bagi setiap orang? Rawls berpandangan setiap individu yang rasional pasti akan memilih opsi kedua.

Berbeda dengan konsep Rawls bahwa kitalah yang diselubungi oleh selubung ketidaktahuan, prinsip selubung ketidaktahuan dalam membangun argumen saya maknai dengan bahwa setiap argumen dalam perdebatan yang saya kemukakan akan selalu didasari pada bayangan bahwa lawan debat saya ditutupi oleh selubung, di mana saya tidak mengetahui apa pun mengenai orang tersebut. Saya tidak mengetahui rupanya, tampilan fisiknya, warna kulitnya, jenis kelamin atau identitas gendernya, status sosialnya, pendidikannya, hingga motif dan pandangan politiknya.


Saya berusaha menutup mata dan pikiran terhadap semua hal tersebut. Satu-satunya informasi mengenai lawan debat saya yang saya ketahui adalah argumen yang dia katakan, dan oleh karena itu saya akan berupaya bahwa seluruh kontra-argumen yang saya kemukakan akan selalu berfokus dan mengacu pada poin inti yang diucapkan oleh lawan debat saya tersebut. Segala karakteristik, baik fisik, pendidikan, kekayaan, dll yang melekat pada lawan debat saya akan saya acuhkan sama sekali.

Mengikuti contoh kasus yang sudah dijabarkan sebelumnya, kalau saya berada di posisi Michael Eric Dyson, saya tidak akan menyerang Jordan Peterson secara personal, bahwa karena dia laki-laki berkulit putih, maka validitas argumennya dapat dipertanyakan, karena hal tersebut melanggar prinsip selubung ketidaktahuan sebagaimana yang sudah saya paparkan di atas. Saya akan menggunakan pembuktian empiris dan mencari kesalahan logika dari argumen yang dikemukakan Peterson sebagai kontra-argumen. Dengan demikian, saya mampu untuk mengalokasikan tenaga serta waktu yang saya miliki untuk menghancurkan argumen Peterson dengan cara yang rasional

Lantas bagaimana bila di dalam perdebatan saya menemukan diri saya tidak bisa lagi mengemukakan argumen yang sejalan dengan kedua prinsip di atas? Dengan rendah hati saya akan menyatakan kalah dan mengakui bahwa argumen yang saya kemukakan merupakan hal yang tidak memiliki dasar yang kuat, karena tidak bisa divalidasi melalui bukti logis atau diverifikasi dengan menggunakan pembuktian empiris.

*****

Sebagai penutup, secara personal, saya tidak memiliki persoalan dengan mereka yang memiliki pandangan pro terhadap political correctness, atau berpendapat bahwa pelecehan verbal merupakan sesuatu yang harus dikriminalisasi. Saya mendeskripsikan diri saya sebagai seorang liberal klasik yang sangat menjunjung tinggi kebebasan berekspresi dan berpendapat, dan tentunya, bila Anda berpandangan demikian, saya memiliki posisi yang sangat berbeda 180 derajat.

Namun keberatan saya ialah ketika mereka yang memiliki pandangan tersebut menggunakan pengalaman pribadi atau orang lain sebagai dasar argumen untuk menyerang, seraya mengatakan kepada lawan bahwa karena mereka dianggap memiliki privilege tertentu berdasarkan jenis kelamin atau warna kulit, sehingga tidak mampu mengalami pengalaman yang sama dengan kelompok lain yg dianggap termarjinalkan, maka argumen yang dikemukakan oleh lawan perlu diragukan validitasnya, dan di saat yang sama menolak memberikan kontra-argumen dengan menggunakan pembuktian logis atau empiris.

Tidak seperti pengalaman subjektif, baik yang bersifat individual ataupun kolektif, bukti logis dan pembuktian empiris merupakan sesuatu yang objektif dan independen, yang memiliki nilai kebenaran yang instrintik pada dirinya sendiri. 1 + 2 = 3 merupakan pernyataan yang tepat siapa pun yang mengatakannya, tidak peduli apakah dia seorang laki-laki atau perempuan, berkulit hitam atau putih, serta homoseksual atau heterosekusal. Seseorang, siapa pun dia, yang menolak menggunakan logika serta pembuktian empiris sebagai fondasi untuk membangun argumen rasional di dalam perdebatan, maka sama saja dengan menolak proses bernalar itu sendiri.

Sebagaimana yang dikatakan oleh filsuf dan salah satu Bapak Pendiri Amerika Serikat, Thomas Paine, bahwa "berdebat dengan seseorang yang sudah tidak menggunakan nalar, maka sama saja dengan memberikan obat bagi seseorang yang sudah mati."

Hal tersebut tidak ada gunanya dan hanya membuang waktu saja.

Artikel Terkait