"Aksi Cepat Tanggap (ACT) Magelang menyalurkan ratusan kilogram Beras Wakaf gratis kepada masyarakat di kampung pemulung di Kiringan Baru, Kelurahan Tidar Utara, Kecamatan Magelang Selatan. Beras Wakaf ini hadir pada Senin (5/7/2021) lalu, demi meringankan kebutuhan pokok masyarakat khususnya kebutuhan akan pangan". (ACTNews-https://news.act.id/berita/beras-wakaf-hadirkan-kebahagiaan-di-kampung-pemulung-kiringan-baru)

***

Seorang sahabat bermurah hati di suatu sore, menghadiahi saya lima ratusan buku bekas dan mengirimkannya dengan taxi online ke rumah; saya serahkan saja lagi pada sahabat saya lainnya: Om pemulung.

“Ada buku-buku bekas dari sahabat saya, sudah saya siapkan di halaman, lumayan bisa jadi uang. Maaf ya, saya enggak bisa bantu angkut ke tempat Om, karena besok subuh saya sudah harus jalan”. Ucap saya menghampirinya saat ia sedang mengasi sampah di tong sampah tetangga depan rumah saya di jelang maghrib. Si Om sumringah.

Si Om, begitu saya biasa menyapanya, tinggal di dalam satu komplek dengan saya. Kata Pak satpam komplek, si Om menunggui rumah kosong di blok belakang rumah saya. Pemiliknya mengizinkan untuk jadi shalternya selagi rumah itu belum laku terjual, ia boleh tinggal, hanya tinggal, lalu untuk makan sehari-harinya ya memulung.

“Kalau Anda berkeliling dunia seperti saya dan menyaksikan hidup manusia, maka Anda akan menangis seumur hidup”. Begitu ucap Jiddu Krishnamurti (K) dalam kesempatan diskusi dengan para saintis.

Sayangnya, K tidak sempat melihat bagaimana manusia di negeri ini: segerombolan orang ini menunggangi mobil-mobil mewah, rumah-rumah sultan dan kegilaan pada barang-barang mahal lainnya yang diperoleh dari menghisap darah si Om dan kepingan rongsokan sampahnya para pemulung

***

“Targetnya di tahun 2019 kami memberikan beasiswa kepada 200 anak sebagai bentuk dukungan dan kepedulian terhadap pendidikan anak negeri khususnya di wilayah DIY," kata Kharis Pradana, Tim Program ACT DIY (https://koranbernas.id/act-diy-targetkan-beri-beasiswa-200-anak)

***

Seorang sahabat di suatu pagi bermurah hati, mendaftarkan anak seorang kawannya untuk mengikuti tes masuk perguruan tinggi.

Mungkin sang sahabat berkeinginan agar seorang anak dapat memenuhi setiap kesempatan untuk maju dan berkembang dalam pendidikannya. Memasuki jenjang perguruan tinggi dilihatnya sebagai langkah memasuki ruang kemungkinan yang lebih terbuka. Walau hari ini kemiskinan mengaburkan kemungkinan dari kawannya tadi.

“Kalau Anda berkeliling dunia seperti saya dan menyaksikan hidup manusia, maka Anda akan menangis seumur hidup”. Begitu ucap Jiddu Krishnamurti (K) dalam kesempatan diskusi dengan para saintis.

Sayangnya, K tidak sempat melihat bagaimana manusia di negeri ini: segerombolan orang beranak pinak dari kawin-mawinnya, memenuhi ruang kepastian jaminan pendidikan pada anak  keturunannya yang kepastian itu didapat dari menghisap darah dari setiap keluarga miskin yang takut untuk bermimpi bisa sekolah apa lagi sampai kuliah. 

Keluarga-keluarga sial ini hanya cukup dimunculkan gambar wajah dan tatapan kosongnya, menatap khayalan gedung sekolah yang tak pernah ada wujud bangunannya.

***

"Tim Humanity Medical Services (HMS)-ACT mengunjungi kampung Cahaya di Kelurahan Menteng Atas, Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan untuk membuka layanan kesehatan. Langkah itu diberikan untuk masyarakat prasejahtera"(https://www.inews.id/news/nasional/layanan-kesehatan-hms-act-sapa-warga-prasejahtera-di-kampung-cahaya).
***
Minggu subuh, seorang sahabat bermurah hati. Seseorang langsung menjadikannya makanan dan bahan makanan.

Kendaraannya mulai dipacu, meluncur dari utara menuju suatu kampungan di kecamatan Jasinga Bogor.

Jelang tiba di tujuan, kemurahan hati tadi masih ia sempatkan untuk dijadikan lima bungkus nasi padang paket 10 ribu rupiah.

Keluarga itu terkejut untuk kedatangan seseorang ini. Dari dalam, seorang ibu yang kurus menubruk dan memeluk erat tubuh tamu yang datang. Ia menangis sejadi-jadinya

Dalam seminggu dua anaknya wafat: 23 dan 35 tahun usianya.

Sakit yang tak terobati. Bukan tidak ada obat yang mujarab, tapi dari mana uang untuk beli obatnya, itu biang keparat masalahnya.

“Kalau Anda berkeliling dunia seperti saya dan menyaksikan hidup manusia, maka Anda akan menangis seumur hidup”. Begitu ucap Jiddu Krishnamurti (K) dalam kesempatan diskusi dengan para saintis.

Sayang, K tidak sempat melihat bagaimana manusia di negeri ini: Jangan lagi soal obat, rumah sakit kelas delux sampai liang kuburnya saja sudah dilunasi sebelum datangnya sakit dan kematiannya segerombolan orang ini, pelunasannya pun didapat dari menghisap darah dan erangan kesakitan keluarga-keluarga melarat yang tubuh-tubuh lemahnya dipamerkan baliho di banyak sudut kota.

***

Mengingat bangsat, tentu  berarti mengingat diri sendiri; 2010, selang sehari Merapi 'angop', bersama seorang rekan, saya mencabuti bendera lambang segerombolan orang ini. Ratusan bendera dipancang para pegiatnya di sepanjang Cangkringan Yogyakarta.

Mungkin mereka gerombolan yang getol dan terdepan ada di wilayah yang terdampak bencana--untuk "dekorasinya". 

Sampai saat ini saya masih bangsat; mencabuti lambang sekawanan bangsat