Penulis
1 tahun lalu · 74 view · 3 min baca · Cerpen 57119_76006.jpg
middletown galleria mall shooting

Aco Geger, Si Penembak Jitu yang Hilang

Aco Geger baru saja keluar dari penjara. Ia dibebaskan tak sesuai dengan ganjaran palu sidang. Ini yang ke sembilan puluh delapan kalinya ia masuk dan dikeluarkan tak sesuai dengan waktu yang semestinya. Desas desus beredar hal itu disebabkan ia adalah tangan kanan Jenderal di masa Orde Baru dan itu memang benar.

Padahal, Aco Geger selalu tak terima ia dibebaskan dengan tak adil begitu. Baginya, penegak hukum telah melukai hati para tahanan lain jika ia mesti diistimewakan sendiri. Tiap kali ia melakukan tindak kejahatan, ia akan menyerahkan dirinya dan dikeluarkan lagi. Itu membuatnya tak suka. Sangat tak suka.

Segala jenis kejahatan adalah makanan hari-harinya. Memerkosa, merampok, mencuri, termasuk membunuh adalah hal yang membikin ia begitu senang. Tak terhitung berapa sudah kasus yang menjeratnya. Tapi tak jua ada niat untuk sadar. Tiada kata jera dalam kamusnya.

"Jera hanya untuk lelaki lemah. Dan pastinya itu bukan preman" katanya di suatu waktu kepada seorang Jendral yang akhir karirnya mesti dilewati oleh sebuah pemecatan.

Jika ia mau, atau sedang ingin sebab berahinya sedang meraja, maka tiba-tiba ia akan menangkap siapa saja gadis yang lewat di sekitar tempat ia mengahabiskan hari-harinya dengan sendiri dan pasti tak kuasa lari dari cengkramannya. Mirip seekor Harimau yang lapar. Memangsa begitu cepat dan kuat. Tapi sesudah itu, Aco akan menyerahkan dirinya. Dan dari sanalah ia diberi julukan Geger.

Bahkan pula ia akan tiba-tiba merampok mencuri dan membunuh. Kapan saja ia mau. Sebetulnya ia tak membutuhkan kejahatan semacam itu lagi. Toh juga gadis dan harta gampang saja ia dapatkan dari Jendral. Tetapi ia tak mau. Ia tak suka. Ia harus berusaha lebih dulu untuk mendapatkan apa yang ia mau.

Bagi Aco Geger, penghianatan terbesar bagi diri sendiri adalah menikmati sesuatu yang bukan hasil keringat sendiri. Begitulah Aco Geger, ia memiliki pendirian sebagaimana mestinya manusia. Bukan menjilat lalu diberi pangkat juga harta.

Namun di antara semua kejahatan, yang paling disukainya adalah membunuh menggunakan senjata. Aco begitu lihai menggunakan senjata. Ia pernah dilatih oleh Jendral yang dipecat itu. Pada waktu dilatih itulah ia mengatakan tak ada kata jera di kamusnya.

Beberapa tahun ia menjalani latihan khusus oleh Jendral yang sekaligus kerabat dekatnya, Pemerintah nomor satu di jagat raya dibuat jatuh hati terhadap kelihaiannya menggunakan senjata. Ia begitu jitu membuat peluru tak kuasa meleset. Ia pandai betul menghitung kekuatan angin yang bisa membelokkan arah sasaran.

Aco Geger akhirnya diberi tugas dan dibayar oleh pemerintah untuk menghabisi seluruh preman dan orang-orang yang dicurigai sebagai anggota komunis. Sebelum ia melaksanakan tugasnya, ia diberi petunjuk untuk menaruh simbol Palu-Arit di dekat mayat yang ditembaknya. Tak lain sebagai upaya membangun stigma terhadap komunisme dan petunjuk itu hanyalah mereka berdua saja yang tahu.

Tak ada alasan lain orang nomor satu itu melakukan rencana yang begitu rupa selain rasa takutnya untuk direbut kedudukannya oleh orang-orang komunis. Sebab beredar isu, orang-orang komunis tengah mengincar kedudukannya.

Meski Aco Geger sendiri adalah preman tapi ia tetap mengiyakan tugas itu. Lebih jauh lagi, ia memang menyukai membunuh menggunakan senjata. Paling tidak, bagi Aco sendiri, membunuh lebih baik daripada menjadi seorang penjilat.

Para preman dan yang dicurigai sebagai orang-orang komunis berjatuhan. Mati. Di selokan, di jalanan, dan di hutan-hutan. Membusuk dan berlalat penuh nanah dan seluruh mayat tak satu pun ia lupakan untuk diberi simbol Palu-Arit.

Hari-hari hanya menjadi peristiwa mengerikan. Serba darah dan serba mayat. Masyarakat mulai resah dengan pembunuhan itu. Semua orang tak ada pembahasan lain selain membicarakan bahwa pembunuhan itu dimotori oleh orang-orang komunis. Media Luar Negri pun turut mengabarkannya.

***

Setelah berbulan-bulan, tak tahan lagi dengan pembantaian tak beradab itu, masyarakat bersama pemuda dan mahasiswa melakukan demonstrasi besar-besaran. Mereka menuntut agar penembak dari Partai Komunis segera diringkus dan diberi efek jera, bila perlu dimatikan dan jika tidak, maka pemerintah nomor satu itu mesti turun dari jabatannya.

Pemerintah nomor satu itu terpojok dengan strateginya sendiri. Ia kalang kabut. Sementara Aco Geger di awal-awal memang telah didengus keberadaanya sebagai penembak yang berjubah komunis. Ia juga terancam.

Kenyataannya: Partai Komunis telah lama hilang dari daftar Partai yang berbadan hukum. Atau yang memililki legitimasi. Namun yang tersisa hanyalah orang-orang yang berpaham komunis saja. Orang nomor satu itu akhirnya berfikir keras, hilang akal: siapa mesti ia bubarkan?

***

Empat belas hari hari setelah berita hilangnya Aco Geger, pemerintah nomor satu itu mengumumkan Aco Geger ditemukan telah mati dengan peluru di jidatnya termasuk simbol Palu-Arit di atas perutnya. Membusuk dan nyaris tinggal tulang.

"Saudara-saudara, siapken kekuatan, kita mesti lawan orang-orang komunis!"

Artikel Terkait