Mahasiswa
1 bulan lalu · 10018 view · 3 min baca menit baca · Politik 99882_99069.jpg
Sumber: Kompas.com

Aceh Merdeka, Prabowo Presidennya

Pasca pengumuman hasil pemilu 2019, ada banyak hal yang terjadi, dimulai dari wacana people power, tertangkapnya beberapa tokok karena diduga makan, eh maaf, makar, aksi damai yang ternyata ricuh sampai subscribers Atta yang sudah 15 juta isu referendum Aceh.

Kejadian-kejadian tersebut merupakan kegiatan yang akan memecah belah bangsa Indonesia. Mereka yang menjadi dalang dari serangkaian kejadian tersebut harus diberikan hukuman seberat-beratnya, karena mereka virus yang nantinya akan menjadi zombie dan berusaha merusak tatanan bangsa Indonesia.

Isu yang paling santer, yaitu mengenai referendum Aceh. Buat yang belum tahu, referendum merupakan proses jajak pendapat melalui pemungutan suara untuk mengambil sebuah keputusan. Jadi, ada dua pilihan untuk masyarakat Aceh, yaitu tetap menjadi bagi dari Indonesia atau lepas dan menjadi negara baru.

Sebelum isu referendum di Aceh, Indonesia pernah melakukan referendum terhadap Timor Timur. Saat itu presidennya B.J Habibie. Hasil keputusannya, masyarakat Timor Timur lepas dan menjadi negara Timor Leste.

Cukup disayangkan memang lepasnya Timor Timur dari Bumi Pertiwi. Dengan berdirinya Negara Timor Leste membuat pemerintah Timor Leste berusaha memutus segala hubungan dengan Indonesia. 

Balik ke topik referendum Aceh. Isu referendum ini awalnya mencuat dalam acara Haul Wali Nanggroe Paduka Yang Mulia Tgk Muhammad Hasan Ditiro yang dilaksanakan Partai Aceh, Senin (27/5/2019).


"Alhamdulillah, kita melihat saat ini, negara kita di Indonesia tak jelas soal keadilan dan demokrasi. Indonesia di ambang kehancuran dari sisi apa saja. Itu sebabnya, maaf, Pak Pangdam, ke depan, Aceh kita minta referendum saja.”

“Karena, sesuai dengan Indonesia, tercatat ada bahasa, rakyat, dan daerah (wilayah). Karena itu, dengan kerendahan hati, dan supaya tercium juga ke Jakarta, hasrat rakyat dan bangsa Aceh untuk berdiri di atas kaki sendiri,” ungkap Muzaki Manaf dalam video yang banyak beredar. Pernyataan itu disambut tepuk tangan para peserta yang hadir.

Muzaki Manaf merupakan Ketua Umum Partai Aceh sejak tahun 2007. Ia juga mantan panglima GAM (Gerakan Aceh Merdeka). Masyarakat Aceh mengenal dia dengan nama Mualem. Mualem adalah gelar yang diberikan untuk orang memiliki ilmu tinggi terhadap dunia kemiliteran.

Alasan Muzaki Manaf ingin referendum karena menurutnya Bangsa Indonesia akan dijajah oleh asing, tidak ada keadilan, MoU Helsinki yang sampai saat ini tidak terealisasikan juga menjadi alasan.

Namun, tidak semua pengurus Partai Aceh setuju akan hal ini. Perbedaan ini tidak terlepas dari mereka yang tidak sejalan dalam menentukan pilhan Capres. Ya wajarlah kalau berbeda. Siapa yang untung ya tinggal nikmati saja; bagi yang rugi harus koar-koar dulu agar dapat kenikmatan pula

Perihal referendum Aceh, Menkopolhukam Wiranto usai menggelar rapat khusus mengatakan, "Masalah referendum itu sebenarnya dalam khazanah hukum positif di Indonesia sudah selesai, enggak ada." Wiranto lalu menegaskan bahwa semua peraturan yang mengatur tentang referendum sudah dicabut oleh pemerintah.

Sangat disayangkan di tengah gejolak politik yang masih panas ini. Ada saja pihak-pihak yang mencari keuntungan. Padahal harusnya mereka yang patut menjadi contoh.

Indonesia itu merupakan kapal dan Aceh merupakan bagian fondasi kapal. Kalau ada 1 - 2 pulau hilang, 1 - 2 bagian kapal hilang, Indonesia otomatis akan oleng dan akan  sangat mudah hancur ketika gelombang besar menghadang.

Kalau memang benar terjadi Aceh Merdeka (semoga saja tidak, Amiiin), pasti Aceh membutuhkan pemimpin yang cocok, to? Pemimpin yang cocok dengan masyarakat Aceh membuat keinginan untuk merdeka tidak sia-sia, karena kalau salah memilih pemimpin malah menjadi "bom" untuk Aceh.

Ada banyak tokoh yang bisa menjadi Presiden Aceh. Bisa Gubernur Aceh saat ini, Muzakki Manaf, atau malah mungkin Surya Paloh? 


Tapi pemimpin yang paling pas untuk Aceh adalah Bapak Prabowo Subianto. Mengapa? Prabowo menang dalam 2 kali pilpres di Aceh. Tahun 2014 menang tipis, sedangkan sekarang menang telak atas lawannya.

Masyarakat Aceh dikenal dengan kultur islamnya yang kuat. Cocoklah dengan Prabowo yang dikenal dekat umat islam, tidak anti-ulama, agamis, dan sangat dekat ulama. Hasil ijtimak ulama yang memutuskan Prabowo maju sebagai Presiden bisa menjadi acuan cocoknya Prabowo sebagai Presiden di Aceh. 

Prabowo yang terkenal tegas terhadap segala bentuk kesalahan sesuai dengan masyarakat Aceh yang terkenal tegas pula. Masyarakat Aceh menjalankan hukuman yang tegas dan berlandaskan syariat islam terhadap orang-orang yang melenceng dari ajaran agama Islam. Sangat terbukti Prabowo itu cocok menjadi Presiden di Aceh.

Walau penetapan Prabowo sebagai presiden Aceh sangatlah cocok, tapi saya berharap Aceh tidak lepas dari Indonesia. Jangan mau dipecah-belah karena politik. Aceh sudah menjadi tiang fondasi kapal yang tidak akan bisa dilepas. 

Ingat, Indonesia itu kapal. Jangan kalian hilangkan fondasi-fondasi kapal ini karena ego kalian dan nafsu sesaat kalian. Sudah cukup Timor  Timur lepas!

Artikel Terkait