Penikmat Kopi Senja
2 tahun lalu · 1047 view · 4 menit baca · Politik img_20160806_143752_0.jpg

Aceh dalam Secangkir Kopi

Aceh Merdeka sudah menjadi diskursus usang namun masih kontemporer dan enak untuk kita didiskusikan. Senikmat kopi yang selalu kita nikmati setiap hari sembari membaca koran atau media online yang mengabarkan kelakuan nakal pejabat kita.

Pola pikir masyarakat berangsur berubah seiring pencerahan dan pengalaman yang didapat, ada sebuah kenyataan yang tak dapat dipungkiri bahwa pejuang dapat menjadi pecundang bila berhadapan dengan uang. Teriakan senjata yang dahulu mengabarkan ketidakadilan pemerintah pusat senyap berganti dengan angkat bicara sejak 15 Agustus 2005.

Lahirlah wajah baru Aceh, polemik politik lokal mendominasi, jargon Islam dan amanah MoU selalu menjadi senjata politik yang dahsyat. Para pejuang saling berebut kuasa dengan sedikit amarah walaupun kadang tak amanah, tetapi kita harus tetap menghargai keinginan besar mereka untuk membangun Aceh.

Irak boleh bangga dengan kisah 1001 malamnya namun Aceh punya kisah yang tak terhingga bahkan hingga usia kita ditutup di atas muka bumi ini. Kisah para pahlawan yang mengorbankan darah melawan Belanda, kisah para ulama yang membimbing umat, kisah para pengkhianat, kisah para pemuja harta dan tahta, kisah negeri yang pernah berduka karena bencana alam, dan kisah konflik Aceh-Jakarta yang meminta korban puluhan ribu manusia.

Namun semua kisah itu dapat kita rasakan dan terjemahkan dengan mazhab filsafat, ideologi, agama, budaya, strata sosial yang berbeda, semua terangkum di dalam secangkir kopi Aceh.

Pahitnya kopi Aceh seolah memberi rasa dan menerjemahkan fase di dalam kehidupan rakyat Aceh, warna hitam yang mendominasi memberi ilustrasi kepada kita bahwa Aceh masih dalam pengaruh hati yang jahat, Aceh masih menjadi proyek yang menghasilkan dolar.

Aceh bisa dibuat perang saudara karena beda agama, beda suku, beda mazhab, beda parpol dan beda pilihan politik serta perbedaan lain yang sebenarnya dengan membesarkan perbedaan tidak mengurangi angka korupsi, angka pengangguran, angka kemiskinan, walaupun memang statistik bisa diubah seenak kopi kita di pagi hari.

Lihatlah kopimu, ada wajah Aceh yang sendu karena lagu merayu tak mampu lagi mengembalikan senyum-senyum yang lugu. Lihatlah di ujung sana para ulama diam saja ketika politisi menjual agama, menjual ayat, berjanji palsu disetiap kampanye, menabuh kebencian karena beda pilihan politik, saling fitnah demi amarah dan semua bisa terwakili dari kopimu yang hari ini manis dibibir namun menusuk lambungmu.

Aceh dibanjiri Politisi yang kemarin mengatakan “Tuhan berada di pihak kita” namun hari ini mengatakan “opini publik berada di pihak kita”. Demikian ungkapan Pierre Bourdieu (1930-2002), kita seperti diajak berdosa dengan memihak penjahat yang nantinya berbuat jahil dan Dzalim pada rakyat.

Kopi kita hari ini bisa jadi sejalan dengan pikiran Al-Farabi yang berharap adanya negeri al-Madinatul Fadlilah, dalam khayalannya, di negeri antah-berantah itu semua orang hidup bahagia, tidak ada kecurangan, kejahatan, kekerasan, kesewenang-wenangan, dan penderitaan. Semua orang berkecukupan, damai, jujur, optimistis, dan sentosa.

Dalam secangkir kopi yang pahit namun asik, kulihat ada sebuah kalimat nasehat dari Imam Ali kepada Gubernur Malik al-Asytar yang termaktub dalam kitab Nahj al-balaghah, kalimat itu samar kubaca berlahan beriring menikmati kopi, andai juga dibaca para Cagub Aceh sungguh sesuai kiranya, Imam Ali berkata "Wa takunanna 'alaihim sabu'an dariyan taghtaminu aklahum (Janganlah engkau menjadi binatang buas yg memangsa rakyat)".

Namun kopi berujar lagi dengan nada sedikit selidik, "bukankah manusia yang berpotensi merusak (ifsad fi al-ardhi wa safku-d-dima') harus dikendalikan? bukankah Aceh memiliki Islam yang merupakan manhajul hayah (jalan hidup nyata), bukan din al-maut (agama kematian) yang dalam nomenkaltur fikih disebut al-mashalih al-'ammah (kemaslahatan bersama), bukankah para petinggi negeri di Aceh beragama Islam?

Diam sejenak sambil menatap kopi, sesaat kemudian teringatlah kalimat Lord Acton kekuasan berkorelasi positif dengan korupsi, atau dalam bahasa kampung mantan pacar saya; power tends to corrupt, absolute power corrupts absolutely.

Sejenak menikmati kopi, apakah rakyat Aceh akan lelah? tentu tidak, rakyat Aceh sudah teruji 30 tahun dalam konflik, kopi tak senikmat hari-hari belakangan ini pada saat itu, Umar bin Khatab berkata "Bila kita merasa letih dengan kebaikan, sungguh keletihan itu akan hilang dan kebaikan akan kekal. Bila kita bersenang-senang dengan dosa, maka kesenangan itu akan hilang dan dosa yang akan kekal."

Melihat Aceh dalam secangkir kopi mungkin tak adil namun ketika secangkir kopi mampu menceritakan Aceh dengan bahasa yang lebih fleksibel, terukur, lugas, tanpa memihak, maka tak apalah kita membaca, melihat, dan merenungkan Aceh dalam secangkir kopi.

Banyak ide baru dan hebat untuk Aceh namun seperti yang diujarkan John Maynard Keynes, ekonom agung asal Inggris itu: “yang jadi masalah bukanlah mendukung ide-ide baru, tapi bagaimana meninggalkan kebiasaan lama. John Maynard tidak sepenuhnya benar karena ada kebiasaan lama yang kadang bagus, kebiasaan lama yang dia maksud tentu saja kebiasaan yang menghambat terciptanya al-Madinatul Fadlilah

Pilkada mendatang tentu sebuah harapan bagi kita semua, al-Madinatul Fadlilah yang walaupun masih dalam khayalan akan tetapi bisa terwujud, toh kita semua terlahir sebagai pemimpin, kita bukan gerombolan hewan yang ketika lapar memangsa temannya sendiri, kita bukan parasit yang tega menghancurkan negeri sendiri.

Kita manusia merdeka yang mampu membuat pilihan-pilihan terbaik bagi diri, keluarga dan terutama Ummat, kita mampu menolak ajakan berbuat jahat asal mau, sebagaimana ketika Nabi Yusuf diajak berbuat jahat dan beliau menolaknya (QS. 12:33), Imam Ali mengingatkan kita semua; "Setiap kenikmatan selain surga hanyalah tipuan, dan setiap musibah selain neraka hanyalah peringatan."

Ceritakan kopimu maka akan kuceritakan bagaimana negerimu, kalau tak paham Aceh sebaiknya minumlah secangkir kopi Aceh, mudah-mudahan paham bagaimana Aceh itu.

#LombaesaiKemanusiaan