Mahasiswa
1 minggu lalu · 469 view · 4 min baca · Budaya 89597_70239.jpg
Pixabay

Abu Dzar dan Kebebasan Old School

Abu Dzar, tokoh yang mempunyai nama asli Jundub bin Junadah, terlihat kurang digali dari sisi class of libertarian-nya. Oleh karena klasifikasi libertarian masih merupakan produk kekinian, maka dengan ini, tanpa paksaan sedikit pun, saya namakan dengan libertarian of old school

Abu Dzar memiliki riwayat filsafat kebebasan yang cemerlang, kuat menjunjung tinggi kebebasan, mempraktikkan asosiasi sukarela, serta bertahan dalam keutamaan penilaian individu. Old school banget, khas dengan sentuhan-sentuhan klasiknya: kebebasan dan keberanian.

Sahabat Nabi yang berasal dari Bani Ghifar ini mampu memberikan nilai-nilai sekaligus kondisi alamiah sebagai seorang pembebas. Abu Dzar mengawali kebebasan pribadinya dengan melakukan pemisahan ideologi dengan kaumnya, Bani Ghifar. 

Ideologi Bani Ghifar yang tak jauh dari ciri khas Arab badui, barbarian, terkenal suka merampok, mengusik hak pribadi orang lain, dan menghadirkan paksaan dalam kebebasan kepemilikan harta, serta berhobi mencegat kafilah dagang dengan sistem buru (raid). 

Keahlian Bani Ghifar ini lahir dari bakat alami, yaitu kelebihan dan kemampuan untuk menguasai medan dan navigasi, serta ahli jurit malam sekelas pathfinder di padang pasir. Sehingga dengan represif dan provokatif melakukan kegiatan barbarian di jalur perdagangan saat itu.  

Tentunya sifat ini sangat bertentangan dengan konsep-konsep libertarian, di mana setiap individu punya hak hidup menurut pilihannya masing-masing. Hak tersebut adalah sesuatu yang paten, selama hal tersebut masih dalam koridor menghormati hak yang sama atas diri individu yang lainnya pula (bukan laten). 


Libertarian mengakui dan menghargai hak hidup, kebebasan, dan properti tiap-tiap jiwa yang hidup. Hak-hak tersebut memang dimilikinya secara alamiah, jauh sebelum lahirnya peraturan yang kemudian menginstitusikan hak-hak itu secara otoriter.

Jika dihubungkan dengan kelas libertarian ala Benjamin Constant dengan konsepnya Liberty of the Ancients dan Liberty of the Modern, maka Abu Dzar menempati persona yang old school atau Liberty of the Ancient dengan karakteristik kentalnya, yaitu sebagai individu yang partisip munisipal atau dengan kata lain individu yang bebas mewakili dirinya sendiri.

Sebagaimana dijelaskan oleh Benjamin Constant bahwa The Liberty of the Ancients adalah sebuah kebebasan, keikutsertaan, yang memberikan hak kepada warga untuk secara langsung memengaruhi politik melalui debat dan suara dalam pertemuan umum. 

Dan sebaliknya, The Liberty of the Modern didasarkan atas kepemilikan kebebasan sipil, aturan hukum, dan kebebasan dari campur tangan negara yang berlebihan, totaliter, otoriter, serta represif.  

Sebuah hadis yang memberikan legitimasi tentang pribadi yang partisip munisipal pada diri Abu Dzar adalah: semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya pada Abu Dzar, ia berjalan sendirian, ia meninggal sendirian, dan ia akan dibangkitkan sendirian. 

Apa yang disabdakan Rasulullah di atas mirip-mirip apa yang pernah dikatakan oleh Benjamin Constant: datang dan pergi tanpa izin, tanpa harus mempertanggungjawabkannya.

Memang benar adanya. Sejak awal Abu Dzar sudah mendengungkan dengan keras dan lantang tentang prinsip-prinsip Declaration of Independence: hidup, kebebasan, dan tujuan kebahagiaan. 

Setelah keislamannya, Abu Dzar dengan gagah berani menekan hegemoni represif Qurais yang menguasai politik dan perekonomian di wilayah suci Kakbah. Dengan lantang pantang surut, ia berkata: demi Tuhan yang menguasai nyawaku, aku takkan pulang sebelum meneriakkan keislamanku di Masjid.

Apa yang dilakukan Abu Dzar di atas merupakan pernyataan dan tindakan yang mencerminkan perjuangkan kebebasan individu (beragama) yang saat itu sangat tabu. Urusannya berat, bisa-bisa dituduh subversif yang bisa saja berakhir dengan hukuman mati.

Dan benar adanya. Seketika itu pula para pendukung tiran beserta kekuatan represifnya menghajar dan memukulinya hingga ia jatuh pingsan. 


Jiwa kebebasan Abu Dzar tak perlu diragukan lagi, hingga Rasulullah sendiri geleng-geleng dibuatnya (takjub). Suatu ketika Rasulullah bertanya: wahai Abu Dzar, bagaimana pendapatmu jika menjumpai para pembesar yang mengambil upeti untuk keperluan pribadinya?

Maka dengan tegas Abu Dzar menjawab: demi Allah yang telah mengutus engkau dengan kebenaran, aku akan luruskan mereka dengan pedangku!

Jawaban Abu Dzar adalah sebuah representasi prinsip libertarian yang enggan mendapat paksaan yang mengusik hak kepemilikan pribadi dengan pungutan yang berupa tarikan upeti dari pembesar-pembesar yang tak berkemanusiaan.

Abu Dzar juga menunjukkan sosok yang anti dengan sosialis utopis. Libertarian itu tidak menjanjikan kemewahan hedonis serta tidak hidup di dalamnya. 

Lihat saja saat akhir hayatnya, ketika Abu Dzar mengalami sakratulmaut, istri yang menungguinya menangis dan Abu Dzar bertanya: apa yang engkau tangisi, padahal maut itu pasti datang? Kemudian istrinya menjawab: bukan itu, Engkau meninggal, padahal tidak ada kain untuk mengafani jenazahmu. 

Kehidupan Abu Dzar sangat menjauh dari kehidupan politik busuk yang diusung oleh para tiran. Mereka adalah para penjilat yang mengatasnamakan agama untuk mereguk kenikmatan dunia dengan cambukan cemeti kesewenangan.

Salah satu buktinya, saat sakratulmaut, Abu Dzar berkata: Seandainya aku dan istriku mempunyai kain, tentu aku ingin dikafani dengan kainku atau milik istriku. Tetapi aku minta dengan nama Allah, janganlah seseorang yang pernah menjabat gubernur, wali kota, atau penguasa apa pun yang mengafani aku!

Mantap, bukan? Akhirnya ia dikafani oleh orang yang tak pernah menjabat yang telah disebutkan di atas. Dialah Abdullah bin Mas’ud. Sorban dan dua baju milik Abdullah bin Mas’ud dijadikan kafan. Abu Dzar wafat pada tanggal 8 Dzulhijjah tahun 32 Hijriyah di Rabzah pada usia 85 tahun.

Selamat jalan, Abu Dzar, We serve what you survive!

Artikel Terkait