Dalam kehidupan sehari-hari, banyak peristiwa kembali membentur kita pada persoalan eksistensial. Jika seseorang pernah bertanya, apa tujuan hidup saya? Mengapa saya hidup? Apa makna hidup? Ia pada dasarnya telah mulai masuk ke dalam duduk perkara eksistensialisme.

Eksistensialisme merupakan aliran filsafat yang muncul sejak abad 19 dan berkembang secara populer pada pertengahan abad 20. Terhadap istilah eksistensialisme itu sendiri para ahli menemukan kesulitan untuk mendefinisikannya ke dalam satu pengertian menyeluruh. 

Hal yang umum dilakukan ialah membagi aliran ini ke dalam dua jenis, yakni Eksistensialisme Kristen (Kierkegaard, Jaspers, Gabriel Marcel) dan Eksistensialisme Ateis (Heidegger, para Eksistensialis Prancis termasuk Sartre sendiri).

Sartre sendiri mendefinisikan Eksistensialisme sebagai Humanisme (Existentialism is Humanism) [J.P. Sartre:1946]. Secara sederhana, Eksistensialisme dalam arti demikian merupakan satu sikap terhadap kehidupan manusia yang menekankan kehidupan nyata dan langsung tiap-tiap orang. 

Mengikuti Husserl, Sartre menekankan realitas manusia adalah “di dunia” terutama melalui masalah praktisnya, bukan hubungan-hubungan epistemiknya. 

Dengan kata lain, Eksistensialisme merupakan minat yang menggebu-gebu terhadap persoalan hidup manusia konkret di dunia ini. Karena itu, tema-tema pokok dalam Eksistensialisme selalu menampilkan kesan apa adanya terhadap kehidupan manusia, yakni kecemasan (angs), absurditas, tanggung jawab, kebebasan, keputusan, dll.

Ide pokok Eksistensialisme Sartre ialah ‘eksistensi mendahului esensi’ (Existence precedes Essence). Eksistensialisme dalam pengertian itu intinya menolak anggapan bahwa manusia adalah benda. 

Sartre dalam Being and Nothingness (1943) mebedakan dua cara berada (être), yakni être-en-soi (being in itself; ada pada dirinya sendiri) dan être-pour-soi (being for itself; ada bagi dirinya). 

Cara berada yang pertama (être-en-soi) merupakan cara berada (modes of being) benda-benda. Pada benda, esensi dan eksistensi menyatu. Artinya adanya benda-benda selalu terikat atau tidak bisa lepas dari alasan adanya. 

Misalnya, pisau tidak bisa ada tanpa esensi yang bernama ‘ide pisau’. Artinya, 'ide pisau' harus lebih dulu ada, baru benda bernama pisau ada. Dan kehadiran pisau adalah persis merupakan aktualisasi 'ide pisau' itu. 

Sartre hendak mengatakan bahwa pada benda 'esensi mendahului eksistensi'. Dan benda-benda tidak bisa berbuat apa-apa dengan kenyataan itu. Jadi, être-en-soi itu sama sekali identik dengan dirinya, penuh dan pejal. 

Être-en-soi tidak afirmatif atau negatif, aktif atau pasif juga tidak mempunyai kemungkinan selain dirinya. Ia selalu sudah mapan dan tertutup. Être-en-soi tidak bisa menjadi apa pun selain dirinya sendiri.

Sebaliknya cara berada yang kedua, être-pour-soi, menunjuk pada kesadaran. Inilah cara berada manusia. Être-pour-soi berarti manusia menyadari Ada-nya sendiri. 

Mansia mampu mengambil jarak terhadap Ada-nya sendiri. Itu artinya, manusia ada pertama kali sebagai benda tetapi kemudian menjadi manusia sejati ketika ia secara bebas memilih moralitas yang diinginkannya. 

Dengan memilih menjadi ini atau itu, memilih bagi dirinya sendiri benda-benda dan nilai-nilai, ia akan membentuk hakekatnya sendiri; ia menciptakan dirinya sendiri. [VM, 31]. 

Dengan demikian, manusia berbeda secara radikal dengan benda. Ia mampu menidaki Ada-nya, yang dalam istilah Sartre adalah ‘melobangi’ Ada. Ia mampu melobangi kemampatan Ada dan memasukkan ke dalamnya ketiadaan. 

Ketiadaan ini merupakan ruang kosong yang memungkinkan tindakan bebas. Dengan kata lain Sartre hendak mengatakan bahwa dengan kesadarannya, manusia sepenuhnya bebas. 

Ia adalah lobang atas Ada, ia adalah ketiadaan, ia bertanggung jawab atas kemungkinan-kemungkinannya sendiri. Manusia dikutuk untuk bebas menciptakan dan menentukan dirinya sendiri. Demikian, manusia bukanlah sesuatu yang lain selain apa yang ia buat. [J.P. Sartre:1946].

Berdasarkan uraian tersebut, ‘Eksistensi mendahului esensi’ berarti penolakan terhadap kodrat manusia yang mendahului eksistensinya. Eksistensialisme mengatakan bahwa berbeda dengan benda-benda, tidak ada ketetapan a priori tetentu mengenai manusia, tidak ada takdir. 

Sebaliknya, manusia lebih dahulu ada lalu menentukan atau mendefinisikan dirinya sendiri melalui pilihan-pilihan dan tindakan-tindakannya. Demikian, tidak ada orang jahat atau baik dari lahir. 

Orang sebaliknya, memilih atau memutuskan untuk menjadi jahat atau baik. Dengan kata lain, manusia tidak memiliki esensi atau alasan dan tujuan adanya. Ia ada begitu saja dan tidak dibebani oleh alasan dan tujuan apapun. 

Maka itu, ia bebas. Ia sendiri mesti menentukan tujuan adanya. Akan tetapi, manusia tentu tidak akan pernah mencapai apa-apa dalam kebebasannya itu karena pencapaian mengandaikan finalitas tertentu yang sudah ditetapkan sebelumnya. 

Jadi menurut Sartre, demi kebebasannya manusia adalah hasrat yang sia-sia atau absurd. Akan tetapi, absurditas tersebut ialah fakta yang harus diterima. Atas itu, dua tema besar yang menyertai eksistensialisme Sartre ialah absurditas dan tanggung jawab.

Absurditas

Sartre mengatakan bahwa manusia modern harus menerima kenyataan bahwa Tuhan tidak ada [VM. 29]. Bersamaan dengan itu dunia kehilangan alasan dan tujuan adanya. 

Menurut Eksistensialisme Sartre, ada dan tidak adanya kehidupan ini bukan satu hasil kalkulasi tertentu karena tidak ada Tuhan untuk memikirkan itu. Hidup ini kontingen. 

Ia ada dan tidak ada tanpa alasan, ada begitu saja. Artinya, jika kita tidak ada juga tidak apa-apa. Dengan kata lain, manusia tidak mempunyai kewajiban untuk ada. Maka fakta adanya adalah absurd, suatu kelebihan yang tidak perlu yang menimbulkan rasa muak (nausea). 

Mengenai absurditas ini, Sartre menulis demikian,

Saya tahu itulah dunia. Dunia telanjang dan tiba-tiba memunculkan dirinya sendiri, dan saya telah menjadi gusar dengan kehidupan yang kotor dan absurd ini.” [VM. 30]

Bagi Sartre, absurditas kehidupan bukan spekulasi kosong, melainkan kenyataan konkret kehidupan manusia. Kenyataan absurditas ini mungkin dapat kita pahami lebih konkret melalui contoh berikut. 

Saat ini, seluruh manusia sedang gusar menghadapi makhluk remeh bernama Covid-19. Akan tetapi, kehadiran makhluk yang juga tanpa alasan ini (muncul tiba-tiba) memaksa manusia untuk menerima kesejatian realitas, yakni absurditas itu tadi. 

Selama ini, banyak orang menghadapi realitas tidak secara langsung, yakni melalui struktur-struktur (bisa agama, ekonomi, politik, dll). Padahal, struktur-struktur ini lebih mengaburkan realitas ketimbang memberi kejelasan tentangnya.

Oleh Noah Harari, struktur-struktur ini disebut sebagai ‘tatanan khayalan’ (imagined orders) [Harari:2014]. Artinya semua struktur tersebut adalah sesuatu yang hanya ada di pikiran kita dan hanya akan eksis sejauh orang percaya terhadapnya dan tidak akan berarti lagi ketika semua orang tidak lagi percaya pada tatanan itu.

Manusia telah menghidupi banyak tatanan khayalan sepanjang sejarah peradabannya, banyak yang lenyap, banyak pula penemuan baru. 

Begitu misalnya dalam corak kekuasaan kuno, warga Imperium Babilonia setuju bahwa kekuasaan Raja Hamurabi adalah absolut dan bahwa di hadapan hukum orang diadili seturut kelas sosialnya. 

Kontras, orang zaman modern lebih percaya pada kebebasan individu dari pada terhadap otoritas absolut semacam itu dan di hampir seluruh hukum negara modern mengakui persamaan hak di depan hukum. 

Jadi, tatanan khayalan bisa berubah kapan saja. Itu artinya tatanan khayalan bukanlah ciri dasar kehidupan. Kehidupan pada dirinya sendiri tidak tertata dan kacau. 

Akan tetapi justru karena itu, tatanan khayalan susah pergi karena ia memberi pengaturan tertentu kepada kehidupan, menata realitas, menghindari kekacauan (kheos), dan memberi rasa aman. 

Manusia pilih yang terakhir, yakni rasa aman. Realitas yang tertata menghindari manusia dari beban absurditas realitas. Sampai akhirnya, covid-19 membongkar semua ‘kebohongan’ tersebut.

Pelucutan realitas dalam peristiwa Covid-19 terjadi melalui desakralisasi kematian. Dalam pengalaman manusia, kematian sebetulnya tidak sedemikian menyeramkan. 

Kematian adalah realitas yang usianya setua kehidupan itu sendiri dan kita semua sampai pada titik tertentu umumnya menerima kematian sebagai wajar. 

Umumnya kematian diterima sebagai suatu bagian dari sebuah rencana tertentu atau takdir Tuhan. 

Akan tetapi, wabah Covid-19 ini memperlihatkan sebaliknya, bahwa kematian manusia tidak ada bedanya dengan tikus yang mati akibat penyakit, misalnya. Sama saja. 

Semua orang bisa mati kapan saja lepas dari posisi sosial dan lain-lain. Itu artinya, realitas itu buta. Tidak ada rasionalitas tertentu di balik fakta kematian, tidak ada kalkulasi, semua serba acak dan buta.

Teror terbesar yang ditimbulkan Covid-19 ialah bahwa di hadapan kematian acak ini, kepercayaan manusia akan makna, tujuan, dan sebagainya kini tampak tidak lagi masuk akal. 

Kini, keberadaan Tuhan dan kesakralan kematian justru dipertanyakan. Dan dengan demikian, ciri random kehidupan menjadi semakin jelas. Orang kini sadar bahwa hidup ini acak, di luar kendali. 

Hidup adalah benda asing yang menakutkan, kosong dan absurd. Di sisi lain, banyak orang gagap karena tidak terbiasa menerima atau menghadapi realitas yang sesungguhnya dan apa adanya. 

Di hadapan wabah ini, kiranya menjadi semakin jelas bahwa fakta kehidupan adalah suatu absurditas. Semua peristiwa terjadi begitu saja secara spontan. 

Tidak ada hubungan kausal antara satu kejadian dengan kejadian yang lain. Tidak ada maksud. Absurd. Semuanya sia-sia.

Menurut Sartre, fakta absurditas tersebut merupakan beban yang harus ditanggung manusia karena lari dari absurditas menuju tatanan khayalan adalah penipuan diri yang dalam bahasa Sartre disebut ‘keyakinan yang buruk’ (mauvaise foi). 

Dengan kata lain, Eksistensialisme Sartre ujungnya memberi kepada manusia tanggung jawab untuk menciptakan tujuan adanya sendiri menghadapi absurditas tersebut. Berikut kita akan masuk ke topik mengenai tanggung jawab.

Tanggung Jawab

Absurditas kehidupan menuntut manusia untuk sepenuhnya bertanggung jawab atas eksitensinya. Ia tidak boleh berharap pada apapun selain dirinya sendiri. 

Akan tetapi, mungkin lalu muncul pertanyaan demikian, jika kehidupan adalah kesia-siaan, mengapa tidak mati saja? Kritik ini pada intinya menuduh Eksistensialisme sebagai suatu pesimisme terhadap keseriusan kehidupan manusia. 

Seolah Eksistensialisme hanya akan menghantar orang pada rasa putus asa dan ingin mati. 

Akan tetapi, Sartre mengatakan demikian. Eksistensialisme justru merupakan satu optimisme terhadap kehidupan sebab tidak ada doktin yang lebih optimis dari sebuah doktrin yang menempatkan nasib manusia pada manusia itu sendiri (for no doctrine is more optimistic, the destiny of man is placed within himself) [Sartre: 1946]. 

Tuntutan Eksistensialisme ialah penerimaan terhadap kehidupan. Eksitensialisme justru menolak untuk lari dari kenyataan absurd kehidupan. Dengan demikian kematian merupakan opsi yang irelevan di sini.

Memang dengan demikian, sebagaimana Sartre, hidup tidak mungkin menjadi lebih mudah karena manusia mesti menciptakan tujuan dan nilai-nilai dari dirinya sendiri dan ia sendiri yang menentukan mengapa sesuatu bernilai. 

Tidak ada patokan baginya sebab Tuhan tidak ada. Hidup manusia menjadi sepi dan sulit. 

Sartre sendiri menggambarkan situasi itu seperti “orang yang tidak memiliki tiket kendaraan”, ia akan dilihat sinis oleh orang lain, penuh rasa tidak enak dan seperti yang memang telah diketahuinya, tidak ada yang menjemputnya di stasiun tujuan. [S.P. Tjahjadi, BASIS, 38].

Dalam Eksistensialisme Sartre, sabsurditas itu mesti dipeluk. Dengan kata lain, Eksistensialisme justru membawa manusia pada suatu tuntutan untuk bertanggung jawab atas keberadaanya sendiri. 

Sebab, tanggung jawab muncul dari kenyataan bahwa manusia hidup sendiri dan segala kemungkinannya tergantung sepenuhnya kepada dirinya sendiri. 

Dengan kata lain, bagi manusia tanggung jawab itulah makna adanya. Dengan demikian, absurditas tidak membatalkan kehidupan. Sebaliknya, Eksistensialisme justru merupakan optimisme terhadap kehidupan.

Berdasarkan pemaparan tersebut, akhirnya Eksistensialisme Jean-Paul Sartre mengajukan satu ajakan untuk hidup otentik, untuk menerima realitas apa adanya, memeluk absurditas dan bertanggung jawab atasnya.

Kesimpulan

Bagi saya, absurditas dan tanggung jawab merupakan realitas yang sangat dekat dengan kehidupan manusia hingga hari ini. Banyak kejadian atau peristiwa-peristiwa kehidupan kembali membentur manusia pada dua kenyataan itu. 

Karena itu, Eksistensialisme Sartre menurut saya telah mewakili pengalaman konkret banyak orang mengenai realitas absurd kehidupan.

Sartre menjadi pemicu bagi banyak orang yang masih ragu-ragu menerima semua kenyataan kehidupan apa adanya, orang-orang yang mengalaminya tetapi berusaha untuk menekannya terus menerus, agar terbuka, untuk tidak berpura-pura lagi menyembunyikan kecemasan dan kegelisahan atas ciri absurd kehidupan yang nyata kita alami.

Lebih jauh, Sartre menawarkan satu kehidupan yang jujur dan otentik, untuk menerima absurditas tetapi juga sekaligus menghadapinya dengan penuh tanggung jawab. 

Kekuatan Eksistensialisme Sartre ialah bahwa ia bertitik tolak dari suatu realitas konkret pergulatan manusia. Dan karena itu, Eksistensialisme selalu relevan lebih-lebih pada dua tema itu, absurditas dan tanggung jawab.