Aborsi yang berasal dari kata Inggris abortion dan kata Latin abortio berarti pengeluaran hasil konsepsi dari uterus secara prematur pada umur di mana janin itu belum bisa hidup di luar kandungan. Dibedakan aborsi dan pembunuhan bayi (infanticide).

Aborsi adalah pengeluaran janin dari kandungan sebelum janin berumur 24 minggu yang menyebabkan kematian. Pembunuhan bayi (infanticide) merupakan pengeluaran janin setelah janin berumur 24 minggu yang menyebabkan kematian bayi yang bersangkutan.

24 minggu merupakan batas yang telah ditetapkan secara medis sebagai saat yang menunjukkan bahwa janin dapat hidup di luar kandungan. Dalam ranah moral dan hukum, aborsi berarti pengeluaran janin setelah konsepsi (pembuahan) sampai dengan kelahirannya yang mengakibatkan kematian.

Ada berbagai jenis aborsi. Pertama, aborsi yang disengaja (abortus provocatus). Aborsi ini merupakan pembunuhan yang disengaja dan langsung diarahkan kepada manusia pada tahap awal hidupnya, yakni antara saat konsepsi sampai dengan kelahirannya.

Kedua, aborsi terapeutik. Aborsi ini dilakukan untuk menyelamatkan hidup atau kesehatan (fisik dan mental) seorang wanita hamil. Ada dua jenis aborsi terapeutik: aborsi terapeutik langsung dan aborsi terapeutik tidak langsung.

Aborsi terapeutik langsung adalah aborsi terapeutik yang tindakan medisnya ditujukan langsung untuk membunuh janin. Aborsi terapeutik tidak langsung merupakan aborsi terapeutik yang tindakan medisnya tidak ditujukan langsung untuk membunuh janin itu. Sebagai contoh, pengangkatan rahim demi keselamatan ibu menyebabkan janinnya ikut mati.

Ketiga, aborsi eugenik. Aborsi ini merupakan aborsi yang dilakukan terhadap janin yang cacat atau jenis kelaminnya tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Keempat, keguguran (miscarriage, spontaneous abortion). Aborsi ini merupakan aborsi yang terjadi secara alami, tanpa campur tangan manusia, sehingga tidak menimbulkan masalah moral.

Maraknya Aborsi

Kendatipun merupakan sebuah pembunuhan, aborsi semakin marak terjadi. WHO (World Health Organization), misalnya, memperkirakan bahwa setiap tahun ada 46 juta orang yang disarankan melakukan aborsi; 19 juta dari 46 juta orang tersebut mempraktekkannya dengan cara yang tidak aman.[1]

Di Indonesia, walaupun bukti-bukti yang dapat dipercaya tidak tersedia, para peneliti memperkirakan bahwa setiap tahunnya terjadi sekitar dua juta kasus aborsi yang diinduksi.[2]

Ada berbagai macam fenomena sosial yang dapat dipotret di balik maraknya kasus-kasus tersebut.[3] Pertama, fenomena yang terjadi ketika aborsi tidak dilegalkan. Dengan kata lain, pelaku aborsi mendapat stigma dan dapat diseret ke ranah hukum.

Dalam situasi aborsi yang tidak dilegalkan seperti ini, banyak perempuan yang tidak menghendaki kehamilannya kemudian menggunakan cara-cara aborsi yang tidak aman, seperti pengobatan oral, pemijatan, suntikan, benda asing yang dimasukkan ke dalam vagina atau rahim, atau akupunktur.

Kedua, fenomena yang terjadi ketika aborsi dilegalkan. Beberapa negara melegalkan aborsi dan kebijakan tersebut berpengaruh secara langsung terhadap praktek aborsi oleh masyarakat dalam negara tersebut. Jepang dan Singapura, misalnya, melegalkan aborsi pada tahun 1948 dan 1967.

Kebijakan itu memicu kenaikan praktek aborsi. Di Singapura, kenaikan kasus aborsi berlangsung sampai tahun 1985, yakni dari 1.913 ke 23.512 kejadian. Di Jepang, kenaikan kasus aborsi berlangsung sampai tahun 1955, yakni dari 246.104 ke 1.170.143 kejadian. Di Cina, selain bahwa aborsi dilegalkan, pertimbangan pemerintah untuk membatasi kepemilikan anak juga berpengaruh pada tingkat aborsi yang tinggi.

Keberagaman Sikap terhadap Aborsi

Ada berbagai macam sikap terhadap aborsi. Yang dikenal secara luas adalah sikap “pro life”, yakni sikap menolak aborsi, dan sikap “pro choice”, yakni sikap menerima aborsi. Baik penolakan maupun penerimaan tersebut memiliki dasar-dasar keyakinan yang digunakan.

Sikap pro life, misalnya, bisa berdasarkan ajaran agama tertentu, sedangkan sikap pro choice, misalnya, bisa berdasarkan pada perjuangan kebebasan perempuan hamil yang tidak menghendaki kehamilannya.

Dalam kasus kehamilan karena perkosaan, misalnya, pertimbangan yang kerap digunakan oleh kelompok pro choice adalah rehabilitasi kondisi fisik dan psikis korban, sehingga aborsi dapat ditolerir karena bayi yang dilahirkan dapat membawa trauma tertentu.

Lain lagi pertimbangan kelompok pro life dalam kasus tersebut. Aborsi bagi mereka merupakan pembalasan dendam/reaksi atas perbuatan jahat yang salah sasaran. Kemarahan dan dendam kepada pelaku perkosaan ditimpakan kepada janin atau manusia baru yang tidak bersalah.

Sikap yang beragam terhadap aborsi tersebut juga tampak dari negara-negara tertentu. Seperti telah disebutkan di atas, Cina, Jepang, dan Singapura, menjadi contoh negara-negara yang melegalkan praktek aborsi. Filipina, Sri Lanka, Arab Saudi, menjadi contoh negara-negara yang tidak melegalkan praktek aborsi.

Indonesia menjadi salah satu di antaranya, kendatipun hukum di Indonesia mengenai aborsi[4] memuat kemungkinan-kemungkinan dilakukannya praktek aborsi. Walaupun bahasa yang digunakan untuk aborsi adalah samar-samar, secara umum hukum tersebut mengizinkan aborsi bila perempuan yang akan melakukan aborsi mempunyai surat dokter yang mengatakan bahwa kehamilannya membahayakan kehidupannya, surat dari suami atau anggota keluarga yang mengijinkan penguguran kandungannya, dan test laboratorium yang menyatakan perempuan tersebut positif dan pernyataan yang menjamin bahwa setelah melakukan aborsi perempuan tersebut akan menggunakan kontrasepsi.[5]   

Persoalan Awal Kehidupan Manusia

Pertanyaan boleh atau tidaknya aborsi kerap kali didasarkan pada pandangan sejak kapan manusia hidup. Aristoteles terkait dengan hal ini pernah mengembangkan gagasan mengenai delayed animation/late animation. Ia berpandangan bahwa jiwa manusia tidak serta merta ada dalam proses pembuahan, tetapi masuk kemudian setelah beberapa hari/minggu.

Jiwa yang masuk kemudian itu ditandai dengan “gerakan” (quickening) ketika dalam pandangan Thomas Aquinas janin laki-laki berumur 40 hari atau janin perempuan berumur 90 hari dan pembedaan bagian-bagian (lengan, mata, dsb).

Dengan demikian, mengembangkan pandangan Aristoteles, Thomas Aquinas berpandangan bahwa sebelum berumur 40/90 hari, manusia berada dalam tahap yang tidak penuh, yakni berada dalam tahap vegetatif, kemudian tahap animal, dan baru setelah jiwa masuk, manusia tersebut menjadi manusia rasional yang penuh.[6] Konsekuensinya, aborsi yang dilakukan sebelum manusia berumur 40/90 hari tidak digolongkan menjadi dosa berat sebab manusia belum mencapai taraf kemanusiaannya secara penuh.

Pandangan lain yang cukup banyak diikuti mengenai awal kehidupan manusia adalah pandangan yang berpendapat bahwa embrio sampai berumur 14 hari setelah pembuahan bukanlah individu manusia, sebab masih memiliki kemungkinan untuk membelah diri (menjadi kembar). Pun embrio tersebut memiliki kemungkinan parthenogenesis. Konsekuensi pandangan ini adalah bahwa aborsi yang dilakukan sebelum embrio menjadi individu manusia (11 hari setelah pembuahan) dapat diterima.

Pada saat ini, telah umum diterima paham bahwa individu manusia terbentuk setelah proses pembuahan selesai. Banyak ahli embriologi sepakat bahwa hidup manusia dimulai dari saat selesainya proses pembuahan.

Keith L. Moore dan T. V. N. Persaud, misalnya, mengatakan, “Zigot: sel ini merupakan hasil persatuan antara sel telur dan sperma selama pembuahan. Zigot adalah permulaan manusia baru.”[7] Demikian pula Ronan O’Rahilly dan Fabiola Mueller menegaskan, “Meskipun hidup adalah suatu proses yang berlangsung terus-menerus namun pembuahan … adalah sebuah kejadian yang kritis sebab dalam lingkungan yang normal, terbentuklah sebuah organisme manusia yang baru dan berbeda secara genetis ketika kromosom dari pronukleus laki-laki dan perempuan menyatu di dalam sel telur.”[8]

Setelah proses pembuahan selesai, individu manusia baru telah terbentuk, dia memiliki hak hidup sebagai hak asasi yang paling dasar. Aborsi merupakan tindakan membunuh individu baru yang tidak bisa membela diri. Dengan kata lain, merampas hak hidup seorang pribadi.

Demikianlah perbedaan pandangan mengenai awal kehidupan manusia yang kerap menjadi sumber persoalan boleh tidaknya aborsi dilakukan. Namun, pantas diingat bahwa aborsi bukanlah persoalan kapan awal kehidupan manusia, seakan-akan aborsi menjadi legal dengan ditemukannya suatu titik manusia mulai hidup, melainkan bahwa aborsi merupakan tindakan membunuh dan menghentikan upaya Allah dalam mencipta manusia. Itulah mengapa bagaimanapun juga aborsi tidak dapat dibenarkan.


[1] Deborah Mesce, Unsafe Abortion, Population Reference Bureau, Washington:2005, 3.

[2] Gilda Sedgh dan Haley Ball, “Aborsi di Indonesia”, Guttmacher Institute, New York:2008, No. 2., mengacu pada  Utomo B dkk., Insiden dan Aspek Sosial-Psikologis dari Aborsi di Indonesia: Survei Komunitas di 10 Kota dan 6 Kabupaten, Tahun 2000 (Insidence and Social-Psychological Aspects of Abortion in Indonesia: A Community-Base Survey in 10 Major Cities and 6 Districts, Year 2000), Jakarta Indonesia: Pusat Penelitian Kesehataan, Universitas Indonesia, 2001.

[3] Bdk. Muhadjir Darwin, “Fenomena Aborsi dan Usia Kawin dari Aspek Sosial Demografi”, diunduh dari www.ebsco.com.

[4] Hukum tentang aborsi di Indonesia didasarkan pada hukum kesehatan tahun 1992, yakni Hukum Kesehatan 23/1992.

[5] Gilda Sedgh dan Haley Ball, “Aborsi di Indonesia”, 1.

[6] Matthew Lu, “Embryology: Medieval and Modern”, diunduh dari www.ebsco.com.

[7] Kusmaryanto, Bioetika, Penerbit Buku Kompas, Jakarta:2016, 18, mengutip Keith L. Moore and T. V. N. Persaud, The Developing Human: Clinically Oriented Embryology, Saunders, Philadelphia:2003, 2.

[8] Kusmaryanto, Bioetika, 18, mengutip Ronan O’Rahilly and Fabiola Mueller, Human Embryology & Teratology, Wiley-Liss, New York:2001, 31.