Dalam hidupnya, manusia dihadapkan dengan problematika yang sangat kompleks, yang akan berkaitan dengan dirinya dan manusia lain. Mengapa kemudian, bisa saja persoalan individu menjadi persoalan bersama? 

Karena, pertama-tama adalah bahwa ia sebagai individu hidup dalam nuansa universalitas yaitu humanitas, kendati tiap manusia secara individual memiliki kehendak bebasnya masing-masing. 

Namun, kemudian apakah kehendak bebas itu juga manusiawi, bila dihadapkan pada pilihan yang rumit, menganulir hidup yang lain supaya dapat diterima dalam lingkungan sosial tertentu. 

Ini tercermin dalam kasus aborsi, di mana perdebatannya tak pernah usai, dan selalu dihadapkan pada persoalan-persoalan. 

Apakah kita mengedepankan kehidupan individu dan menghargai kehendak bebasnya—memilih aborsi karena takut terkena stigma negatif sebagai konsekuensi dari kebebasan itu sendiri (barangkali?).

Atau ia menerima situasinya dan memperjuangkan hidup individualnya dan calon anaknya?

Penggalian persoalan aborsi melalui pemikiran Thomas Aquinas dapat disimpulkan ke dalam dua pokok pembahasan. 

Sebelum memasuki hukum kodrat/hukum kodrat positif, kita terlebih dahulu ingin mencari petunjuk bagaimana susunan kodrat manusia yang ada dalam pembahasan Thomas Aquinas. Maka, kita perlu merujuk sumber lain dari karya Thomas Aquinas, selain Summa Theologiae, yaitu Summa Contra Gentiles

Setelah kita mengetahui detail pasti mengenai hal-hal ihwal tentang manusia, barulah kita dapat masuk pada pendalaman hukum kodrat dan implikasinya terhadap kasus konkret dari aborsi. 

Bagaimana andaian manusia Thomas Aquinas menjadi sangat penting ketika kita ingin melihat dengan kacamata Thomas Aquinas tentang perilaku aborsi[1]. 

Setelah itu, kita dapat memahami secara luas bagaimana keputusan yang tepat ketika kita sendiri—dalam kehidupan sehari-hari—ternyata dihadapkan pada situasi tersebut, baik secara individual maupun orang-orang terdekat kita. 

Aborsi dalam Nuansa Post-Truth 

Aborsi merupakan tindakan untuk menghentikan pertumbuhan janin. Penghentian janin ini kemudian diikuti dengan dikeluarkannya janin dari rahim sang ibu. Aborsi sendiri tidak selalu secara sengaja, namun ada juga aborsi spontan/keguguran, di mana disebabkan oleh perkembangan janin yang tidak normal. 

Apa yang jadi persoalan kemudian, aborsi yang dilakukan dengan sengaja karena kehamilan yang tidak diinginkan, dengan berbagai alasan tertentu. 

Langkah aborsi ini juga banyak dipraktikkan oleh orang-orang yang hamil di luar nikah dengan alasan takut tidak diterima oleh orang tua/masyarakat karena dianggap berdosa (alasan religius). 

Tentu di sini penulis tidak terburu dengan menganggap orang yang hamil di luar nikah, dengan atau tanpa melakukan aborsi, adalah berdosa, namun persoalan yang paling penting dan menyangkut hidup seseorang adalah apakah aborsi adalah baik?

Pendapat umum mengatakan bahwa aborsi merupakan tindakan pembunuhan. Pembunuhan dalam arti karena kita membunuh calon bayi yang sudah berkembang di dalam rahim. Banyak sekali kemudian konsekuensi dari pemikiran seperti ini[2]. 

Banyak sekali argumen yang lahir dari perdebatan aborsi dan kebaikannya. Di satu sisi, ada yang mendukung aborsi karena menghargai hak dan pilihan dari sang ibu, di mana pilihan itu adalah manusiawi. 

Di sisi lain, ada yang menolak aborsi karena bagaimanapun janin adalah manusia, yang tidak seharusnya kita bunuh. Bukankah kita tidak berhak atas hidup orang lain[3]?

Hingga tahun 2020 kemarin, di Indonesia, terjadi sebanyak dua juta kasus aborsi di Indonesia. Tentu saja aborsi yang disengaja masih ilegal di Indonesia. Di Indonesia sendiri, aborsi diatur melalui hukum kesehatan 1992. 

Tentu, berita-berita di Indonesia menggambarkan aborsi sebagai tindakan tabu. Padahal ada persoalan serius dibalik itu, adalah bahwa pendidikan seksual di Indonesia masih sangat kurang. Ini juga mendorong tindakan aborsi yang tidak sehat, yang justru akan mempengaruhi nyawa sang ibu. 

Banyak orang nekad memilih melakukan aborsi—khususnya aborsi ilegal, karena kondisi sosial yang menganggap tabu ketika ada kehamilan di luar pernikahan. 

Hal tersebut menciptakan kondisi di mana seseorang sulit mengakses aborsi yang sehat melalui dokter karena hukum di Indonesia yang hanya memperbolehkan tindakan aborsi bila kehamilan dirasa mengancam nyawa sang bayi (tumbuh kembang bayi yang cacat, atau kondisi rahim yang tidak normal) dan sang ibu.

Selayang Pandang, Thomas Aquinas dan Fetus 

Dalam memandang fenomena aborsi, pertama-tama Thomas Aquinas membedakan tahapan-tahapan perkembangan fetus menjadi (setidaknya) dua tahap, tahap awal dan tahap akhir, antara potensial menjadi manusia dan manusia sebagai aktus

Dalam tahap awal fetus bukanlah manusia, karena tidak terkandung jiwa manusia di dalamnya. Tubuh biologis yang terkandung sebagai potensi tidak dapat dikatakan sebagai manusia sesungguhnya. 

Artinya, sifat kontingensi dari janin menjadi titik tolak khusus bagaimana dia bisa menjadi manusia atau tidak. Dikatakan pula oleh Thomas Aquinas bahwa kehidupan-ku pada tahap awal fetus bukan kehidupan yang sebenarnya, maka manusia masih belum eksis. 

Tentu, ini akan melibatkan pandangan eksistensial Thomas Aquinas melalui pemikiran metafisikanya. Dalam basis metafisika Thomas Aquinas, pertama-tama janin memiliki nutritive soul, kemudian baru muncul sensory soul, dan yang terakhir rational soul. Ini bukan ingin menggambarkan bahwa jiwa ada tiga macam. 

Ia berpendapat bahwa ketika rational soul tumbuh, jiwa-jiwa sebelumnya akan memudar, karena sesuatu hanya memiliki satu forma substansi. Maksud Thomas Aquinas adalah bahwa kita memiliki kehidupan yang sebenarnya, ketika kita telah melewati tahap-tahap sebelumnya sebagai batu pijakan menuju kehidupan. 

Dia menekankan bahwa pada tahap terakhir dari fetus, barulah kita dapat menyebut fetus sebagai manusia. Ketika kita menghancurkan fetus (tahap awal), maka kita sebenarnya tidak membunuh manusia. 

Kita hanya membunuh entitas yang akan menjadi manusia. Karena, proses generatif memastikan fetus (tahap awal) akan keluar sebagai eksistensi manusia tertentu, kecuali kalau kita membunuhnya. Sebagai gambaran, saya sebagai pribadi tidak akan pernah dapat diaborsi, karena saya belum bereksistensi. 

Implikasi dari Pemikiran Thomas Aquinas

Sedikitnya, kita memiliki pemahaman baru dengan pembahasan singkat di atas bahwa Aquinas masih mengizinkan aborsi sejauh fetus masih berada di tahap awal. 

Andaiannya, bahwa fetus masih bukan manusia yang utuh karena tidak memiliki kesadaran dan kapasitas rasional. Bila di terapkan kemudian, akan menghasilkan hukum yang sama sekali berbeda dan mempengaruhi cara pandang etis kita. 

Dengan mengetahui persona dari fetus, sebenarnya kita telah melangkah untuk mendalami kodrat dari eksistensi manusia dalam tahap awalnya. Selain itu secara legal formal kita dapat merubah pandangan bahwa bisa saja aborsi dilegalkan (khususnya di Indonesia) dengan persyaratan khusus. 

Persyaratan itu tidak saja hanya alasan-alasan yang sudah ada seperti korban perkosaan, dan kondisi kesehatan yang mengharuskan tindakan abrosi. Lebih terbuka, kondisi yang lain sudah diterapkan di beberapa negara bagian Amerika dan negara-negara lain. 

Thomas Aquinas tidak secara eksplisit menyatakan bahwa ia mendukung tindakan aborsi, namun ia berusaha memilah dan menjernihkan manusia di dalam eksistensinya. Walau demikian, dalam perkembangan sejarah kita dapat melihat banyak kritik maupun persetujuan kepada argumentasi ini.



  

 

[1] Pendekatan ini diperlukan supaya kita tidak hanya berdiri pada satu konsep dengan terjebak pada kesimpulan etis (andaian subjektif tentang yang baik dan buruk) kita sendiri tentang manusia. Perlu ada referensi pasti dan penulis akui bahwa ini perlu pendalaman tafsir supaya pemahaman kita tidak dangkal dan terkesan menghakimi. Tiap pemikiran tentang etika perlu ada landasan ontologis manusia yang kuat, khususnya ketika kita memahami pemikiran Thomas Aquinas yang terkesan sangat teologis (padahal belum tentu). 

[2] Ada juga yang berpendapat bahwa masturbasi pada pria juga merupakan pembunuhan dan dosa, karena membunuh/menghentikan suatu "potensi" untuk menjadi kehidupan.

[3] Tentu pandangan ini secara umum dilandaskan pada aturan-aturan iman (atau dalam term Thomas Aquinas adalah hukum ilahi positif) seperti yang kita tahu di Agama Katolik mengenal sepuluh perintah Allah, di mana dituliskan paling pertama bahwa manusia tidak boleh membunuh sesamanya.