Sejak kemarin sampai dini hari, saya melihat nama Adullah Hehamahua riuh diperbincangkan di berbagai platform media sosial, juga berita-berita di media mainstream, atas gelaran aksi pengawalan sidang sengketa pilpres di depan Mahkamah Konstitusi yang dilakukannya dengan kira-kira membawa masa aksi kurang-lebih 1.500 orang.

Saya agak merasa nama itu begitu akrab di benak saya. Saya tahu, dia adalah mantan Wakil Ketua KPK sekaligus sosok yang sepuluh tahun menasihati KPK hingga kemudian dirinya dijadikan sebagai pijakan spirit, teladan, ladang animo bagi generasi KPK setelah dirinya.

Selama menjabat di KPK, dia jarang menggunakan mobil dinas untuk urusan-urusan pribadi. Bahkan di sela-sela urusan kantor, dia ingin bertemu seseorang yang tidak berkaitan dengan pekerjaan kedinasan yang kerap menitipkan mobil dinas dulu, baru pergi menggunakan tranportasi umum. 

Tapi saya rasa bukan ke-KPK-an dia yang membuatnya begitu akrab dalam benak pikiran saya.

Ke beberapa sumber, saya berusaha cari tahu siapa sebenarnya Abdullah Hehamahua itu. Tak berselang lama, keganjilan di balik keakraban dalam benak saya tergenapi: dia adalah senior saya di Himpunan Mahasiswa Islam, regional Makassar, dan pernah menjabat sebagai Ketua PB HMI bentang waktu 1978 - 1981.

Setelah tahu itu, sebagai junior, saya mendapati diri saya dililit "lupa diri" karena tidak mengenali kakanda saya sendiri—kakanda yang turut meletakkan spirit kepemimpinan dan perjuangan di tempat di mana saya diajari ilmu kanuragan sampai tak lagi gagap membaca alur hidup. Saya yakin, dari 1.000 kader HMI, hanya 3 atau 2 orang saja yang tahu bahwa AH adalah mantan Ketua PB HMI.

Saya memang berdosa, tetapi apakah saya yang paling salah atau mereka yang senantiasa tongkrongi ruang-ruang perkaderan di HMI, yang berapi-api menyampaikan ceramah, namun lupa menyampaikan silsila kepemimpinan Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam kepada peserta basic training (LK I)? Dan saya hanyalah korban dari perkaderan yang dijalankan separu hati.

Melihat senior AH yang sudah berumur 70 tahun, yang sudah menganggap dirinya sendiri rentah, tapi masih turun ke jalan demi memastikan area persidangan kondusif, keadilan terselenggara dalam tatanan sosio-politik publik dan kelangsungan hidup demokrasi, saya bangga sekaligus malu karena mungkin saja AH yang notabenenya seorang HMI hanya datang sendiri tanpa ditemani junior-junior HMI yang idealis, pure supremasi hukum dan demokratisasi.

Sebelum turun aksi, AH sempat menuliskan sebuah surat terbuka dengan judul "Kita Harus Terima Presiden Hasil Kecurangan?" Ini adalah surat yang tak menuduh secara langsung siapa yang curang dan siapa yang dicurangi, tetapi secara terang-terangan menampar marwah mahasiswa pada umumnya, dan kader HMI pada khususnya. 

Akan saya kutip utuh demi semua mahasiswa mendapat keutuhan tamparan. Begini isi suratnya:

Haruskah aku lagi yang sudah renta ini turun ke jalan karena mahasiswa masa kini tak tahu lagi dirinya siapa?

Sebenarnya saya tidak ingin komentari kisah ini karena saya sudah membacanya beberapa kali sejak lima tahun lalu. Cuma saya tergelitik dengan apa yang terjadi beberapa pekan belakangan ini, di mana presiden, para menteri, dan penegak hukum, khususnya kepolisian, bertingkah seperti mahasiswa Indonesia yang belajar di Prancis tersebut.

Sebenarnya, sebagian besar kalangan termasuk saya pribadi sudah melupakan kecurangan yang terjadi pada Pilpres 2014 yang lalu.

Ditakdirkan, Ketua MK yang mengadili sengketa Pilpres 2014 itu, junior saya di Unhas, sehingga saya tahu jalan cerita kecurangan Pilpres 2014 tersebut. Lalu sebagian masyarakat termasuk saya pribadi tenggelam dalam kesibukan rutin masing-masing sehingga kecurangan Pilpres 2014 itu terlupakan.

Namun, ada sekitar 700 orang petugas KPPS meninggal dunia dalam waktu relatif bersamaan pasca pilpres. Lalu Menkes melarang autopsi mayat mereka. Kemudian ditemukan ratusan selongsong peluru tajam yang dilepaskan Brimob dalam menghalau demonstran tanggal 21 hingga 22 Mei.

Saya lalu melihat pengakuan mahasiswi Indonesia yang belajar di Prancis tersebut bahwa kesalahan yang dilakukan sebagai persoalan sepele, sama seperti pengakuan KPU, Bawaslu, presiden, menteri, dan penegak hukum.

Apakah DNA mahasiswi itu sama dengan yang dipunyai Menkes, Brimob, dan presiden yang merasa bangga dapat menipu sistem yang ada demi mencapai ambisi pribadi? Lalu, kita harus terima presiden hasil kecurangan yang kedua kalinya?

Bangsa ini betul-betul sedang sakit parah. Lalu terbayang masa muda saya sebagai mahasiswa di Makassar yang sering masuk dan keluar sel dan penjara karena memperjuangkan aspirasi mahasiswa.

Saya menunggu dan menunggu tampilnya mahasiswa seperti tahun 1965-1967, 1974, dan 1998 yang karena people power mereka, dua presiden fenomenal dilengserkan.

Saya lalu mengkhayal, apakah dalam usia senja ini, saya harus turun ke jalanan lagi untuk merasakan bagaimana makanan di sel dan penjara.

Bahkan saya juga mengkhayal bagaimana nikmatnya Hasan Albana, Sayid Kutub, dan pahlawan dari kampung saya sendiri, Ahmad Lusi (Pattimura), meninggal di tiang gantungan karena keteguhan melawan penguasa yang curang dan zalim.

Apalagi memperhatikan piagam Wira Karya saya yang dianugerahkan pemerintah karena memiliki andil dalam pembangunan integritas nasional, khususnya di KPK.

Lalu muncul pertanyaan dahsyat, “Hei Abdullah Hehamahua, kamu salah seorang cucu Pattimura, masihkah kamu berintegritas?”

Ya Allah, aku rindu menjumpaiMu sebagai seorang syuhada. Aamiin Yaa Robbal Aalamiin!

***

Masing-masing dari kita merdeka memilih apa, memastikan dengan cara yang tak mesti seragam apa yang mesti dilakukan untuk tatanan demokrasi, masyarakat, dan bangga.

Sumpah mahasiswa masih sama: Mengaku bertanah air satu, tanah air tanpa penindasan; mengaku berbangsa satu, bangsa yang gandrung akan keadilan; berbahasa satu, bahasa tanpa kebohongan.

Terkhusus bagi yang pernah dan masih menyandang "Kader HMI", saya sepakat dengan pendapat Muhammad Mualimin bahwa agar HMI tak mati, ia mesti kembali pada khitah perjuangan dan sprit kaderisasi. 

Saya kader biasa yang selalu percaya kakanda yang baik pasti tahu dan selalu tahu bahwa adinda yang loyalis adalah yang menjalankan gagasan-gagasan besar darinya—bukan yang nurutin arahan-arahan kecil, "over puja-puji", cari tampang dengan ngeshare link dan "minta izin share" postingan remeh-temeh.

Walaupun saling support sangatlah penting, tapi "saling support" selalu punya bobot subtantif dan dilatari intensif (kesungguh-sungguhan), bukan insentif. 

HMI lahir dan tubuh dari rahim pikiran yang dikonsolidasi dengan keluhuran cita perjuangan. Bila itu tak tersandung batu pragmatisme, sinar HMI mustahil redup di perguruan tinggi, di ingatan sejarah dan masa depan masyarakat Indonesia; HMI kan yakin hingga sampai?