Melalui buku inspiratif Badshah Khan: Kisah Pejuang Muslim Antikekerasan yang Terlupakan, akan menginformasikan kepada kita bahwa di saat ada kekerasan tidak dibalas dengan kekerasan. Sebuah informasi yang sangat dibutuhkan bagi umat manusia hari ini yang haus terhadap kekerasan, kebencian, dan permusuhan.

Sosok yang menawarkan jalan dan perjuangan antikekerasan untuk melawan kezaliman adalah Abdul Ghaffar Khan (lahir 1890), ia dipanggil dengan Badshah Khan. Pejuang muslim antikekerasan berdarah Pathan sebuah daerah perbatasan Pakistan dan Afghanistan, setelah India merdeka; Pathan menjadi daerah Pakistan.

Ketika Inggris menggempur bangsanya dengan senjata, ia tidak mengangkat senjata dan tak sekali pun tergerak untuk membalas, sebaliknya ia menyerukan antikekerasan. Ini yang membuat saya penasaran atas sikap pejuang muslim ini, kenapa menyerukan antikekerasan disaat bangsanya digempur dengan senjata?

Pejuang muslim ini dengan semangat perjuangan, ia bergerilya dari kampung ke kampung menyeru perdamaian dan mengajak para pemuda untuk mendukung gerakan khudai khidmatgar (gerakan antikekerasan) dengan tujuan membendung kekerasan dengan semboyan kebebasan dan memiliki tujuan pelayanan.

Abdul Ghaffar Khan merupakan sahabat dekat dari Mahatma Gandhi seorang tokoh kharismatik India, dua tokoh ini sama-sama membebaskan bangsanya dari kekerasan tanpa bersimbah darah; Gandhi membebaskan India dan Badshah Khan membebaskan suku Pathan.

Suku Pathan mempunyai iman yang sederhana tetapi penuh gairah kepada Tuhan mendasari segenap aspek kehidupan mereka. Dengan mengetahui bahwa mereka kurang dalam pengetahuan agama membuat mereka mencari spiritualitas dalam kehidupan seseorang yang benar-benar taat.

Abdul Ghaffar terinspirasi dari kehidupan Gandhi, ia merespons gaya hidup sederhana Gandhi dan keteguhannya dalam kebenaran serta sikap antikekerasan dalam segala permasalahan kehidupan.

Dalam diri Gandhi, Abdul Ghaffar mengenali sosok Mahatma, sang “Jiwa Besar” orang sejiwa, seorang pencari yang tengah berupaya melayani Tuhan dengan melayani makhluknya yang paling miskin.

Maka dari itu, Abdul Ghaffar tidak bisa diam ketika ia melihat kemiskinan, kebodohan, ketidakpedulian, dan kekerasan disekitarnya sehingga ia mendirikan sekolah dan berjuang melawan kekerasan.

Dunia sekarang ini sedang berjalan ke arah yang aneh kata Abdul Ghaffar, anda bisa melihat kalau dunia ini sedang menuju kehancuran dan kekerasan. Hal yang dilakukan oleh kekerasan adalah menciptakan kebencian dan ketakutan di antara umat manusia.

Saya seorang yang percaya pada antikekerasan dan saya mengatakan bahwa tidak akan ada perdamaian atau keselarasan lahir di tengah-tengah umat manusia di dunia kecuali antikekerasan dipraktikkan.

Antikekerasan adalah cinta kasih dan kasih itu mengobarkan keberanian di hati manusia, demikian kata Abdul Ghaffar kepada pewawancara di Afghanistan pada tahun 1985.

Menurut keyakinanku yang terdalam “Islam adalah amal (pengorbanan tanpa pamrih), yakeen (iman) dan muhabat (cinta, kasih sayang).” Demikian kata Abdul Ghaffar Khan yang dijuluki Gandhi dari perbatasan.

Amal tanpa ketiga ini, sebutan muslim adalah bunyi terompet dan denting simbol. Alquran menyebutkan dengan sangat jelas bahwa iman kepada Tuhan Yang Esa tanpa ada yang kedua dan kerja keras, cukup untuk menjamin keselamatan seseorang.

Buku setebal 322 halaman ini layak dibaca, bagaimana pejuang muslim ini dalam perannya mengkampanyekan antikekerasan disaat ada kekerasan sehingga membuka pikiran bahwa kekerasan bukanlah jalan mendapatkan kedamaian dan ketenangan.

 “Dua jenis pergerakan dilancarkan di provinsi kita….

Pergerakan dengan kekerasan (perlawanan sebelum 1919)

Menciptakan kebencian di benak rakyat kita terhadap kekerasan. Namun, pergerakan tanpa kekerasan memenangkan cinta, hasrat dan simpati rakyat.”

(Abdul Ghaffar Khan, Badshah Khan)….

Vazira Fazila-Yacoobali Zamindar, menulis kisah Bacha Khan dan Gandhi dimuat di Republika (2 Februari 2018) menyebutkan gerakan khudai khidmatgar telah sebagian besar dilupakan orang pada hari ini atau hanya diceritakan sebagai pengecualian besar dalam sejarah pemberontakan.

Tapi apakah mereka gemilang di masa lalu? Apakah hanya sekedar gerakan kecil dan tidak relevan yang bertahan beberapa saat, terhadap ketidakadilan dan penaklukan kekuatan militer terbesar dan paling maju pada masanya?

Dalam otobiografinya, dia menceritakan sebuah percakapan dengan Gandhi di asramanya. Dia meminta Gandhi apakah dia terkejut bahwa dengan gerakan khalid khidmatgar yang terakhir itu telah menerima pelatihan tanpa kekerasan, serta merupakan orang yang paling disiplin dan tabah.

Gandhi menjawab  bahwa dia sama sekali tidak terkejut. Apalagi  karena gerakan antikekerasan itu juga berati perlawanan tanpa senjata membutuhkan setidaknya sebanyak keberanian seperti perlawanan bersenjata dan karena itu, orang-orang Pathan memiliki sejarah keberanian yang panjang. (Republika).

Menolak kekerasan dengan kekerasan, Allama Muhammad Iqbal, sastrawan dan pemikir Islam asal India, sosok yang menggagas melahirkan Pakistan juga berpandangan bahwa kekerasan tidak dapat dibalas dengan kekerasan, dan darah tidak bisa dibersihkan dengan darah pula.

Hal ini Iqbal menolak konsep komunisme yang berusaha mencapai tujuan dengan menghalalkan segala cara dan tidak setuju suatu revolusi dilandasi oleh kebencian dan permusuhan. (Pemikiran Politik Islam: Dari Masa Klasik Hingga Indonesia Kontemporer, 2010).

Melihat perjuangan Abdul Ghaffar sebagai pejuang muslim antikekersan, merupakan gambaran dari ajaran dan nilai-nilai Islam yang luhur dan sempurna serta agama yang membawa rahmat dan kedamaian pada umat manusia.

Nabi Muhammad Saw dengan sikap muslim sejati telah mempraktikkannya ketika melawan orang-orang yang memusuhinya dan tidak senang kepada agama Islam dengan jalan akhlak, etika yang mulia mampu mengalahkan kekerasan dan kebencian.

Info Buku

  • Judul Buku: Badshah Khan: Kisah Pejuang Muslim Antikekerasan yang Terlupakan.
  • Penulis: Eknath Easwaran
  • Tahun Terbit: Cetakan Pertama, Desember 2008
  • Tempat Terbit: Yogyakarta
  • Penerbit: Bentang
  • Jumlah Hlm: 322