Freelancer
3 bulan lalu · 1580 view · 2 menit baca · Puisi 60159_36754.jpg
https://goo.gl/images/eDJSEF

YakUSa

Dinda,
     Sebelum tanya melepas yakin
     Kapak hati juga pikirmu
     Mestilah setajam kapak Ibrahim

Dinda,
     Serpihan kecil berhala keyakinan
     Membuai api dilebur besi
     Andai kapakmu terpercik
     Usahamu hanya akan lebur dalam karat sebatang besi

Dinda,
     Pada gunung diam Ibrahim
     Bertanyalah,
     Sepikah yang melahap tiap kemungkinan
     Sepenggal berhala dalam sunyi
     Sebelum sampai pada ketiadaan

Dinda,
     Dimanakah muara yakinmu?
     Pada setiap keringat usahamu
     Perahu berlayar
     Tak tentu muaramu

Dinda,
     Sayap-sayap kematianlah kepastian
     Yakinmu dirunduk sukma
     Butir-butir usaha dalam peluh ketiadaan
     Jika tak sampai kau, dinda
     Meniadakan setiap ketiadaan
     Biar api yakinmu melebur usaha dalam kapak kepastian
     Sampaimu ditempa kepasrahan

---------

Abatasa Api


Alif

Biar tegak tak tentu lurus

Ba'

Perahu kayuh satu roda

Ta'

Perahu kayuh dua penumpang

Sa

Berombak laut dimana pantai


Piah!!!!

Gadai langit

Melahap bumi

Tuah seribu tuah

Hianat semesta 


Piah!!!!

Ditikam langit

Digilas tanah

Biar api

Mantra abatasaku abadi

-----------


?

Suara-suara itu kembali menggema

Untuk siapa jalanan  diaspal?
Untuk siapa gedung bertingkat dibangun?
Untuk siapa mobil mewah dibeli?
Untuk siapa pesawat-pesawat dibikin?
Untuk siapa keamanan?
Untuk siapa pendidikan?
Untuk siapa rumah sakit?
Untuk siapa pajak ditagih?

Siapa yang menindas?
Siapa yang ditindas?

Melarat
Kaya
Sejahtera

Kata mana untuk kami?
Kata mana untuk tuan?

Katanya negeri ini surga
Tongkat kayu jadi tanaman
Zamrud katulistiwa

Surga untuk siapa?
Zamrud yang mana?

Tolong jangan biarkan suara-suara ini bergema tuan!

----------


Puisi Untukmu Dik

Dik, saat malam kau seduh tanpa gula
Masihkah kau harapkan puisi lahir dari rahim hati?


Puisi bukan sekedar rangkaian kata indah, dik
Seremuk apapun kata
Selama ia lahir dari hati dengan makna
Ialah puisi


Kata-kata indah
Dari bajingan yang nyeracau rindu itu berat
Tanpa hati
Tanpa makna
Hanya sekedar bualan kata
Luka puisi, dik


Karenanya
Seduhlah malam dengan gula, dik
Biar seduhan malammu mengarti hati
Sebab matahari terlalu tengik
Jadikan ia payung teduhmu

Mengertilah
---------

Tuhan Atas NamaMu

Terlalu tinggi langit didaki
Terlalu dalam samudra diselami

Lagit tak sampai kau daki
Atas nama tuhan kau berkata
Dasar samudra tak kau selami
Atas nama tuhan kau berkata

Dibawah kakiku kalian menghamba
Pendaki langit
Penyelam samudra
Tuhan menitah
Tiadakan selain aku

Iblis diujung neraka
Bawa apimu kedasar samudra

Langit terlampau tinggi
Samudra terlampau dalam

Di bumi kaki berpijak
Siapa bersayap
Atasnama tuhan
Permata dasar samudra
---------


Pagelaran Wayang

Gamang di kotamu
Malam menyulam rindu
Disudut gelap pagelaran wayang
Senyum juga tangismu luruh
Airmata dibibirmu
Berbisik pada layu mataku
Ingin aku seperti wayang
Tawa dan tangis siapa yang tau
Diujung jari para dalang
Lakon berjalan
Melesat panah Sri Rama
Tangismu pecah bersamanya
Melekik haru kekalahan rahwana
Dimatamu yang kaca Sinta berbisik
Setiap kelahiran dalam setiap kematian
Tak ada yang lebih aku rindu
Selain raksasa dendam para dewa
Api kematian dalam setiap kelahiranku
Amuk kapak takdir kesatria
Samudra hati
Ombak luka
Memecah darah
Hanya menerima atas segala
Dasamuka Rahwana
Samudra cinta penuh dendam
Diahir tangismu
Rahwana diambang kematiannya
Berbisik pada seutas senyum
Akulah sang wayang
Tawa dan tangis siapa yang tau
Diujung jari para dalang
Lakon berjalan


----------



Nona Penjual Bunga

Nona manis penjual bunga
Ceritakan padaku
Bagaimana bungamu begetu harum merekah
Sementara dalam tiap musim
Bunga ditaman yang kujaga begitu enggan  merekah

Tuan penjaga taman
Tidakkah tuan lihat
Senyumku masih membekas
Pada embun dikelopak bunga itu

Bolehkah kubawa senyummu, nona
Biar kujaga bungamu
Di taman kering yang kujaga
Agar wanginya bida kita nikmati bersama

---------



Ptah!

Perempuan tua di emperan toko
Menimbang kehendak dan kuasa
Embun matanya
Saksi kuasa atas kehendak

Dimasa mudanya
Telah ia uji kesetian angka
Hingga keriput usia
Tak pernah sekalipun mereka berhianat

Perempuan tua di emperan toko
Menyulam kehendak dengan satu kata hidup
Angka-angka tak pernah berhianat
Begitulah yang ia tau dari kata, ptah!

Bertumpuk-tumpuk kehendak yang ia sulam
Hingga usia tua tak juga ia pahami
Satu kata, ptah!
Kuasai segala kesetian angak atas kehendak

Perempuan tua di emperan toko
Melipat kehendak atas kuasa
Ptah!
Embun matanya

---------


03:00


Hanya suara jangkrik

Krik krik krik

Katanya kau turun

Jangan-jangan malah bersembunyi dibalik suara jangkrik


Dingin


Selimut memanggil

Kau tak datang


Menunggu subuh


Tetap tak datang

Lalu lelap 

---------


Sore di Sebuah Surau


Matahari hampir keperaduan

Menunggu magrib dengan tembakau murah dan secangkir kopi

Surau tua diramai masjid

Senyap, anak-anak tak lagi berlagu


Jaman ini, kata muadzin tua 

Anak-anak begitu pintar

Tak butuh lagi mereka pada ejaan lama kaum tua

----------