Mengantuk! Satu kata kerja yang pasti semua orang di bumi ini pernah mengalami. Mengantuk adalah satu sinyal dari tubuh bahwa raganya perlu istirahat barang sejenak. 

Lalu apa jadinya jika kebutuhan ‘vital’ me-ngaso atau istirahat itu diabaikan? Apa akibatnya jika dalam kondisi mengantuk ini, seseorang tetap memaksa diri beraktivitas? 

Fatal! Ya, fatal, itulah akibatnya. Terlebih jika aktivitas tersebut membutuhkan konsentrasi dan mengandung risiko yang besar. Gak percaya?

Kematian artis Vanessa Angel dan Febri Ardiansyah, suaminya, beberapa waktu lalu merupakan satu contoh fatalnya mengabaikan kondisi mengantuk.

Kepolisian mengafirmasi kalau kecelakaan itu karena sopir mengantuk. “Mobil yang ditumpangi Vanessa tiba-tiba menabrak beton pembatas kiri ruas tol dikarenakan sopir mengantuk,” begitu ucap AKBP Dwi Sumrahad, Kasat PJR Dilantas Polda Jatim.

Dari pemberitaan yang ku-searching di media online, kusaksikan beberapa video kecelakaan di Tol Jombang itu. Hatiku pun terasa pilu. 

Sekejap terbayang, artis ini harus meregang nyawa saat tubuhnya terpelanting keluar mobil, sebelum kepalanya menghantam ruas beton jalan tol.

Dalam banyak berita, kondisi mengantuknya sopir bernama Tubagus Joddy itu tetap menjadi unsur pokok yang disimpulkan kepolisian dalam kecelakaan ini. “Iya, pastinya sopir akan diperiksa,” tegas AKBP Dwi Sumrahadi.

***

Akibat fatal mengantuk pun nyaris kualami, meski tak setragis Vanessa. Sebagai kuli tinta yang terkadang harus berada di jalanan untuk mengejar target, aku acap kali terkantuk di atas jok empuk motorku. 

Biasanya ini terjadi siang hari ketika terik berada di ubun-ubun dan asupan nutrisi mulai menipis, ditambah lagi jalan lurus tak berkelok. Perlahan tapi pasti otakku terasa melemah dan kesadaran mulai berkurang. 

Angin semilir jalanan pun menambah kondisi mengantuk kian menerpaku. Membuka katupan kelopak mata begitu berat. Antara sadar dan tak sadar. 

Tarikan gas tangan pun mulai mengendor. Seiring dengan itu, laju motor kian melambat. Dan tak sekali terjadi,  arah motor menengah di jalur cepat. Daaaannn.... Thiiiiiiinnnn....

Suara keras klakson mobil di belakang mengagetkanku dan membuatku terjaga dari alam tidur. Sesegera mungkin aku membanting setir ke kiri. 

Sekejab dadaku berdegup kencang seraya berucap “Ya Tuhanku, ya Tuhanku...”. Sejurus dengan itu terdengar suara teriakan dari balik kaca mobil yang menyalibku: “Hooiii... pengen mati ya...!”

Kutepikan motorku. Kebetulan tak jauh dari situ ada mini swalayan. Motor kuparkir. Kumasuk swalayan. Kuambil sebotol minuman dingin. Kubayar, dan langsung kuteguk. 

Kusadarkan diriku sesadar-sadarnya dan memastikan kondisiku sudah fresh....

***

Mengantuk! Sebuah kondisi sangat normal dan manusiawi (dan bahkan mungkin juga hewani karena hewan pun bisa mengantuk, hehe). 

Kantuk atau mengantuk adalah kondisi ketika seseorang merasa ingin tidur. Kondisi ini biasa terjadi pada malam hari namun tak kurang banyaknya juga pada siang hari. 

Rasa mengantuk umumnya muncul saat seseorang kurang tidur atau kelelahan.

Dunia kedokteran mengenalnya dengan istilah microsleep. Microsleep adalah kondisi ketiduran atau terkantuk-kantuk atau mengantuk. 

Hal ini disebabkan karena otak memasuki kondisi fisik istirahat sedangkan kondisi tubuh masih terjaga. 

Kondisi ini terjadi ketika seseorang sedang dalam kondisi kelelahan, sehingga otak pun tertidur meski mata masih terbuka. 

Inilah kondisi paling berbahaya terutama bagi sopir: mata kelihatannya melek tetapi sebagian otak sudah tertidur. Akibatnya terjadilah kondisi setengah sadar dan setengah tidur.

Menguap dan mata berair merupakan tanda atau sinyal berbahaya bagi seseorang yang sedang beraktivitas, pekerja pabrik, khususnya sopir. Acapkali sandaran jok mobil yang empuk makin meninabobokan si sopir. 

Dan bisa dipahami pula mengapa tak jarang pekerja shift malam sebuah pabrik pemotongan kertas ataupun baja, mengalami kecelakaan kerja karena mengantuk yang ditahan.

Meskipun terkesan sederhana, mengantuk pun bisa memicu munculnya berbagai masalah seperti mengganggu konsentrasi, produktivitas, dan emosi. 

Maka tak perlu terkejut manakala seorang pegawai selalu salah ketik melulu di siang hari, karena asupan nutrisi berkurang dan energi mulai menipis alias kelaparan.  

Namun demikian, tak selalu mengantuk itu hal yang wajar. Mengantuk bisa saja menjadi tak wajar manakala mengantuk itu menjadi tanda dari suatu penyakit, misalnya sleep apnea, narkolepsi, insomnia, restless leg syndrome, depresi, ataupun diabetes.  

***

Terlepas dari mengantuk sebagai tanda dari suatu penyakit, kondisi mengantuk tidak boleh diremehkan apalagi diabaikan. Sebaliknya, rasa kantuk harus direspon dan diakomodir. 

Bagi seseorang dengan profesi yang membutuhkan konsentrasi, rasa kantuk yang muncul hendaknya segera diperhatikan. 

Jangan sampai kondisi mengantuk berubah menjadi kondisi fatal, karena mengabaikan rasa kantuk.

Satu-satunya solusi terbaik untuk merespon rasa kantuk terlebih kondisi microsleep adalah istirahat atau bahkan tidur (sejenak). 

Jika kondisi telah mencapai microsleep maka sruputan atau tegukan kopi dan hisapan rokok tak mampu mengubah kondisi tersebut. 

Hanya tidurlah satu-satunya yang mampu mengembalikan kesadaran otak seperti sediakala. Waktu yang dibutuhkan untuk sampai pada kondisi fresh antara 20-30 menit.

Rasa mengantuk sebetulnya bisa diatasi. Tak mungkinlah setiap bekerja kita mengantuk.  Jadi rasa mengantuk itu bisa diantisipasi, bahkan dihalau. 

Tidur yang cukup, asupan gizi yang jitu, dan olahraga yang tepat, merupakan hal-hal yang bisa menghalau datangnya rasa mengantuk. 

Jika ketiga hal tersebut kita lakukan, insyaallah rasa mengantuk tak selalu merecoki aktivitas kita di siang hari.

Kita pun dapat mengurangi akibat fatal mengantuk, dengan selalu mengingatkan teman atau saudara di dekat kita jika mengantuk. Mengingatkan untuk istirahat sejenak.

Yuk jangan anggap remeh rasa mengantuk! Semoga tak ada lagi Vanessa-Vanessa lain yang menjadi korban akibat membiarkan rasa mengantuk menguasai diri masing-masing. 

Jangan sampai Anda seperti saya, baru terbangun dari microsleep saat di tengah jalan diteriaki: “Hooiii... pengen mati ya...!” ***