Di abad 21 ini, pencapaian manusia pada teknologi adalah tanpa tandingan jika disandingkan dengan masa yang lalu. Namun, satu yang menjadi lubang menganga di abad teknokrasi ini, yaitu hilangnya keagungan seni, yang sudah disumbangkan oleh abad-abad sebelumnya, pada wilayah seni mana pun. 

Shakespeare, Tolstoy, Proust, Valmiki, Homer pada sastra, Da Vinci, Brumidi, Rafael, Picasso pada lukis, dan Michelangelo pada ukir patung.

Mengapa? Pada zaman di mana semua hal telah siap di depan mata, namun pencapaian seni tak dapat sama sekali disandingkan dengan abad yang lalu? Patutkah jika kondisi abad 21 ini dipersalahkan? Jika iya, seharusnya temukanlah mula-mula apa yang menjadi titik bedanya dengan abad-abad yang telah lalu. 

Persoalan awal bukan tentang manusianya, namun kondisi luar diri manusialah yang lebih berpengaruh dalam kebangunan pola manusia sekarang. Jika aku dituduh lebih behavioris dan menganggap aku menuduh manusia abad 21 ini, sama saja dengan manusia purba yang total menyerah pada alam, biar saja.

Karena memang sedikit banyak dapat disamakan, beda hanya dalam permukaan saja. Manusia purba pasrah total dengan keadaan sumber alam di sekitar sejauh yang dapat dia jangkau. 

Sedangkan manusia abad 21 ini pasrah total pada deretan alat yang membuat dia terus dalam posisi yang pasti, sinyal yang harusnya terus lancar, gawai yang harusnya terus berperforma baik, aplikasi yang seharusnya terus tanpa kesalahan, agar, semuanya dapat dia tarik, ke depan matanya.

Yang menjadi beda terbesar antara yang dulu dengan abad 21 ini adalah kecepatannya. Di abad ini, semuanya terlipat dan teringkas, hanya mengizinkan yang terpentinglah yang boleh muncul untuk mendapat perhatian mata manusia. 

Namun, seni, tidaklah mengenal kecepatan, dia hanya akrab dengan ketekunan dan kepekaan, yang dua hal itu sama sekali tak beririsan dengan kecepatan. Penulis tak dapat menjamin bahwa jika Valmiki hidup dalam masa ini dia takkan dapat menciptakan epos Mahabarata.

Namun, yang titik beda bahwa abad-abad yang lalu berjalan dengan laju yang lambat, membuat para manusia, dalam hal ini adalah para seniman agung itu berkesempatan untuk mencerap berbagai kepingan-kepingan kejadian di kehidupan dengan cermat sehingga menghasilkan pemahaman yang mendalam. Dan, tak ada satu pun karya seni besar yang tak lahir dari pemahaman sang maestro yang mendalam tentang hidup.

Lalu, jika memang begitu duduk perkaranya, apa jadinya seniman hari ini? Tetap bertekuk lutut dengan pencapaian para maestro yang telah lalu itu? Karena jika titik awal pikiran kita adalah perbedaan kecepatan masing-masing zaman, maka memang sepertinya kecil kemungkinan akan lahir mahakarya yang abadi. 

Dan jika memang ingin bersanding juga, apakah para seniman masa ini harus berjalan lambat-lambat, mengamati, mencerap segala kepingan kejadian dalam hidup lalu menumpahkannya dalam karyanya? Dan jika sudah melakukannya, akankah dunia ini akan menerima, karena ketika karya itu lahir, mungkin keadaan dunia telah berubah lagi?

Seakan seni tak mempunyai kesempatan, harus diapakan? Haruskah seni mulai meminggirkan diri ke dunia dataran anggapan manusia kebanyakan? 

Bahwa seni adalah dunia bungkus, dunia mempercantik, dunia memperelok, dunia menaikan nilai jual. Dengan begitu, seni tetap ada, tetap hidup, tetap dihargai namun hanya sebagai bungkus, tak lagi membawa subtansi dan pesan—seperti karya-karya agung masa dulu. Dengan subtansi dan pesan itulah seni masa dulu hidup dan menghidupi pandangan manusia abad itu, lalu abadi, setidaknya hingga saat ini.

Mungkin benar bahwa semua itu ada seninya. Tetapi apakah dengan seperti itu untuk menjadi cukup jika tarian daerah ‘hanya’ sebagai pembuka dari peresmian komplek perbelanjaan? Menjadi cukup untuk menempelkan lukisan sebagai pemanis tembok rumah, tanpa tahu apa pesan di dalamnya.

Tak sepenuhnya benar juga bahwa seni untuk seni, karena War and Peace oleh Tolstoy tidak ditulis hanya karena ingin memuaskan ambisi pribadinya atau intellectual masturbation. Dia lahir dari kesadaran pengarangnya yang jernih ketika melihat bentangan hidup di sekelilingnya. Brumidi pun dibayar mahal ketika melukis Apotheosis di Gedung Capitol.

Namun semua karya di atas adalah agung. Dan abad 21 hanya sebagai penikmat, karena untuk berdiri di belakangnya pun agaknya masih belum. 

Sebenarnya, tanpa seni, manusia takkan mati, jika kita masih dalam anggapan seni adalah dunia bungkus. Hanya saja, manusia akan merasa mati, takkan ada keindahan, yang, hanya senilah memilikinya.

Dengan begitu, subtansi dan pesan-pesan kehidupan pun sebentar lagi akan kebingungan untuk menentukan jalan apa agar dia dapat sampai ke dalam diri manusia, secara diam-diam, secara indah. Dan jika subtansi dan pesan-pesan hidup itu menyerah dengan keadaan yang begitu bising ini, maka apakah yang akan mengisi akal budi dan hati manusia? Kehampaan?