Learner
11 bulan lalu · 522 view · 8 menit baca · Filsafat 75572_92551.jpg
By Katarzyna Bialasiewicz

Abad 21, Abad Kesepian dan Bunuh Diri

Sudah. Tak perlu berdebat soal generasi dan zaman mana yang lebih baik. Sebab, tiap generasi dan zaman punya problematikanya sendiri. Nietzsche, filsuf Jerman, pernah berkata: ketidakadilan adalah menyamakan apa yang sejatinya tak pernah sama.

Daripada bersitegang, mengapa kita tak fokus diri saja membuat solusi bagi masalah nyata di depan mata?

Kini, kesepian (loneliness) dan bunuh diri (suicide) merupakan salah satu masalah zaman paling nyata. Ini jelas fenomena aneh. Dunia semakin bising dan populasi manusia melonjak tak karuan. Namun, di saat yang sama, kesepian menggentayangi peradaban kita dari dalam sudut pikiran tergelap.

Tak hanya itu, kini bunuh diri sedang populer mengantar manusia kepada maut daripada perang dan kelaparan. Bahkan, keduanya kini telah berkembang mencapai level epidemi dan menular.

Baca: Fenomena Bunuh Diri di Kalangan Artis

Ya, kita kini sedang berada di abad kesepian dan bunuh diri. Manusia sedang menghadapi masalah yang belum pernah dihadapi peradaban sebelumnya sepanjang sejarah.

Bagaimana mungkin manusia yang disebut animal rationale dan zoon politicoon bisa dibungkam kesepian dan memilih jalan bunuh diri? Tampaknya, definisi manusia dari Aristoteles itu kini mesti disanggah ulang.

Mencari Akar

Lonceng tanda bahaya telah didentingkan oleh WHO. Dalam publikasinya, diperkirakan sebanyak 804.000 kematian akibat bunuh diri terjadi di seluruh dunia pada tahun 2012. Hal ini sama saja artinya dengan 1 kematian setiap 40 detik.

Menariknya, negara-negara terkaya menyumbang angka kematian terbesar. Di negara berpenghasilan rendah dan menengah, justru angka kematian jauh lebih kecil.

Terkait dengan usia, tingkat bunuh diri tertinggi terjadi di usia 70 tahun ke atas baik pada pria ataupun wanita. Namun, di beberapa negara, tingkat bunuh diri sangat tinggi di kalangan muda.

Bunuh diri adalah penyebab utama kematian terbanyak kedua pada usia 15-29 tahun. Tahun 2017, WHO merilis info terbaru: setidaknya 4% dari remaja berusia 13-17 tahun melakukan percobaan bunuh diri minimal satu kali dalam setahun terakhir. Lantas, apa artinya fenomena ini?

Secara filosofis, bunuh diri adalah sebuah keputusan. Dan tentu, setiap keputusan pasti melibatkan aktivitas rasional.

Sebagai animal rationale, hanya manusia yang dapat mengambil keputusan untuk bunuh diri. Tak ada satupun organisme—selain manusia—melakukan tindakan destruktif yang demikian. Dengan kata lain, bunuh diri adalah fenomena khas manusia.

Fenomena bunuh diri sudah ditemukan sejak dulu. Ia inheren bersama peradaban manusia itu sendiri.

Di Eropa abad pertengahan, bunuh diri dipandang sebagai sebuah kejahatan karena buah bisikkan setan dalam hati dan kepala. Maka, orang yang melakukan bunuh diri dicap sebagai pengikut setan.

Persoalan bunuh diri juga mengundang perdebatan para filsuf. Hal ini membuka beragam pandang dan pendapat.

Baca: Albert Camus dan Fenomena Bunuh Diri

Immanuel Kant, misalnya. Ia merumuskan sebuah prinsip yang disebut sebagai prinsip imperatif kategoris. Prinsip ini berarti: bertindak sesuai dengan motivasi tindakan yang bisa diterapkan sebagai hukum universal.

Maksudnya, lakukanlah perbuatan yang motivasinya dapat disetujui dan diterapkan sebagai hukum umum bagi setiap orang. Dari sudut pandang ini, bunuh diri tak dapat dibenarkan.

Arthur Scopenhauer, filsuf Jerman, punya pendapat berbeda. Baginya, bunuh diri justru dibolehkan ketika rasa sakit kehidupan jauh lebih besar daripada kehidupan itu sendiri. Pada kondisi tertentu, bunuh diri bisa dilihat sebagai tanda kebebasan manusia atas dirinya sendiri.

Di masa Yunani Kuno, Plato juga menyumbang pendapatnya tentang bunuh diri. Baginya, tindakan bunuh diri terjadi akibat seseorang sudah tak mampu lagi melihat nilai-nilai luhur kehidupan.

Terlepas dari semua itu, tak bisa dipungkiri jika bunuh diri adalah realitas yang kompleks. Penelitian terkini mengungkap interaksi antara faktor psikologis, kultur, biologis dan lingkungan dalam mendorong perilaku tindakan bunuh diri.

WHO cenderung menitikberatkan persoalan bunuh diri dalam lingkup sosial-kenegaraan. Hal ini terlihat pada pernyataan awal dari publikasi mereka.

Bagi mereka, kejadian bunuh diri dapat merebak karena abainya pemerintah dan para pemangku kebijakan. Hal ini berdampak pada sulitnya mengakses dan mendapat perawatan kesehatan mental yang dibutuhkan lewat otoritas berwenang.

Baca juga: Bunuh Diri dalam Kacamata Sosial

Di samping itu, konstribusi sosial-masyarakat dalam membentuk stigma tentang bunuh diri makin memperparah keadaan. Stigma yang berkecambah adalah akibat ketabuan dan ketidaktahuan kita. Konsekuensinya, orang yang ingin melakukan dan rentan terhadap bunuh diri justru makin terpojokkan.

Sementara, akses terhadap bunuh diri kini juga sangat gampang. Metode yang digunakan pun makin bervariasi. Secara global, metode yang biasa digunakan adalah senjata api, gantung diri, dan obat-obatan.

Sampai di sini, masih adakah faktor risiko lainnya? Ya, salah satunya adalah depresi (depression). Bagi saya, ini merupakan faktor paling berpengaruh dibanding faktor lainnya. Hampir lebih dari 300 juta orang kini hidup dalam depresi. Parahnya, persentase meningkat lebih dari 18% dari tahun 2005-2015.

Kini, depresi adalah salah satu gangguan mental terbesar yang diidap seluruh penduduk dunia. Ia terjadi di populasi umum; menyerang berbagai lapisan usia.

Kecenderungan menjadi depresi sangat rawan didukung oleh kemiskinan, pengangguran, kehilangan orang yang dicintai atau putusnya hubungan, penyakit fisik dan penggunaan alkohol serta narkoba. Ia pun memiliki gejala khas yang bisa dideteksi, meliputi kesedihan, kehilangan minat atau kesenangan, perasaan bersalah atau rendah diri, tidur terganggu atau nafsu makan, perasaan lelah, dan konsentrasi yang buruk. Kondisi demikian berlangsung selama 6-8 bulan.

Jika ingin lebih radikal lagi, apa pendorong utama timbulnya depresi? Bagi saya, jawabannya singkat saja: kesepian (loneliness). Banyak penelitian telah mengungkap jika depresi-kesepian tak bisa dilepaskan satu sama lain. Epidemi bunuh diri (suicide) ternyata cenderung dibarengi oleh melonjaknya depresi (depression) global dan berakar pada kesepian (loneliness) yang bersemayam dalam benak setiap orang.

Fenomena Gunung Es

Jika ingin diringkas secara padat: bunuh diri adalah sebuah fenomena gunung es. Laporan data yang diungkap hanyalah sebuah fenomena kecil permukaan. Di baliknya, tersembunyi motif yang jauh lebih besar. Di antaranya depresi, dan yang harus paling diperhatikan—kesepian.

Sebagai zoon politicoon, manusia akan selalu terikat dengan sesamanya. Dalam komunitas atau negara, misalnya. Idealnya, kondisi ini menciptakan sebuah tujuan yang mulia: mencapai kebahagiaan bersama. Dan tentu: menyemai perasaan tak sendirian.

Namun, hidup memang tak pernah ideal. Kondisi relasi-ikatan itu kini sedang digerogoti oleh virus kesepian yang mematikan. Ini membuat kita terisolir satu sama lain. Bagaimana bisa hal itu terjadi?

Logikanya, pembengkakan populasi manusia mestinya membuka peluang untuk mempererat tali relasi-ikatan itu, bukan? Lantas, mengapa justru kesepian itu bisa muncul dan merebak?

Dalam Psychology Today Magazine, edisi Maret 2018 berjudul A Cure for Disconnection, dinyatakan jika kesepian kini tengah pasti menjadi virus menular. Hampir sejalan dengan depresi, ia kini juga menjadi epidemi.

Bahkan, para editor di Psychology Today mencatat jika kesepian kini sedang mengalami pelonjakan. Pada tahun 2010, sekitar 40 persen warga Amerika melaporkan merasa kesepian secara konsisten, naik sekitar 20% dari tahun 1980-an.

Tak hanya melonjak, konsekuensi dari kesepian pun kini amat mengkhawatirkan. Psikolog dari Universitas Birmingham Young, Julliane Holt-Lunstand dalam penelitiannya menunjukan bahwa efek fisiologis kesepian setara dengan merokok dan obesitas, bahkan lebih. Penelitiannya menjadi bukti kuat bahwa kesepian dapat menyebabkan risiko kematian dini.

Baca: Depresi dan Mental yang Anomali

Lantas, apa tepatnya arti kesepian itu sendiri? Menurut John Cacciopo, direktur Pusat Kognitif dan Sosial Universitas Chicago, kesepian adalah kondisi psikologis yang melemahkan ditandai oleh rasa kekosongan mendalam, tidak berharga, kurangnya kontrol, dan ancaman pribadi.

Di sisi lain, tak selalu orang yang sendirian pasti merasa kesepian. Beberapa individu justru menikmati kesendiriannya tanpa merasa kesepian.

Sebaliknya, ada orang merasakan kesepian mendalam walau ada di tengah keramaian. Dengan kata lain, kesepian adalah kondisi yang sepenuhnya subjektif, di mana kita merasa terputus dari orang lain, baik secara sosial maupun emosional. Singkatnya, kesepian itu menyangkut soal perspektif.

Nyatanya, kesepian tak pilih-pilih untuk singgah. Ia dapat hinggap dalam benak semua orang. Bahkan, 60% orang yang mengalami kesepian adalah orang yang sudah menikah.

Masih menurut Psychology Today Magazine, di Inggris, golongan remaja dan dewasa muda amat rentan mengalami kesepian. Di Amerika, kesepian sangat menyakitkan bagi para veteran militer yang telah kembali dari masa tugasnya.

Mengapa hal itu bisa terjadi? Dalam kasus remaja dan dewasa muda, penggunaan media sosial menjadi kambing hitam atas tumbuhnya bibit kesepian. Penggunaan media sosial memutus keterampilan seseorang dalam berinteraksi di dunia nyata.

Pada kasus veteran militer, hilangnya rasa persaudaraan dan ikatan saat menjalani misi bersama lenyap ketika mereka kembali ke tengah masyarakat sipil yang kini cenderung bercorak independen dan terisolasi.

Kultur digital juga dianggap berandil besar dalam membuat kita makin terisolir. Walaupun tak bisa digeneralisasi, namun memang ada kecenderungannya membuat kita tenggelam dalam kesepian. Banyak peneliti telah mengungkap hal ini. Salah satu dampaknya adalah menumpulkan kemampuan interaksi kita dengan sesama di dunia nyata.

Baca juga: Anti-Sosial di Era Media Sosial

Tumpulnya kemampuan interaksi berbuah krisis empati massal yang memang kini tak habis-habis digaungkan para ilmuwan dan aktivis. Ternyata, semangat pencerahan dan kemajuan kultur virtual kita bak pisau bermata dua: ia dapat menceburkan kita ke lautan kesepian yang dalam jika tak dikelola dengan pertimbangan matang.

Tapi, apakah cukup sampai di itu? Tidak. Guy Winch Ph.D mengatakan, dalam level genetika, kesepian adalah sebuah perilaku yang cenderung dapat diwariskan.

Tingkat kecenderungan ini akan semakin tinggi jika gen itu semakin banyak. Artinya, kesepian yang sudah mewabah sampai ke dalam lapisan sosial kita, semakin gampang diwariskan ke generasi selanjutnya.

Jalan Keluar?

Siapa di dunia ini yang tak pernah mengalami kesepian? Saya pikir tidak ada. Semua pasti pernah mencicipinya. Hanya saja, kadar tiap orang berbeda-beda: dari kesepian ringan hingga kronis. Hal yang kedua inilah yang mesti diwaspadai. Sebab, kesepian kronis yang mendalam akan mengaktifkan potensi bunuh diri.

Sampai di sini, dapat diakui jika manusia memang punya bakat untuk bunuh diri dan mengalami kesepian. Ia bersemayam di benak setiap orang. Artinya, potensi dan eksistensi keduanya harus kita akui dan justru bukan dicaci atau ditolak. Mengakui eksistensi keduanya justru akan melatih kita agar waspada dan tidak tinggal dalam kubangan ketabuan.

Apabila keduanya memang punya nilai potensi dan eksistensi, maka untuk mencegahnya, tak ada jalan selain menghilangkan semua pemicu. Atau, setidak-tidaknya, meminimalisasi. Jika punya banyak pemicu, maka ada banyak cara juga untuk meredamnya.

Dilihat sebagai zoon politicoon, apa yang disarankan oleh WHO nampaknya tepat. Di lingkup sosial-masyarakat, menghapus stigma adalah salah satu cara untuk mencegah potensi bunuh diri. Pemerintah dan negara pun turut campur tangan dengan membuat kebijakan dan fasilitas pelayanan kesehatan mental yang memadai dan mudah diakses.

Kondisi relasi-ikatan sosial kita pun kini mesti dibenah. Mungkin sudah saatnya kita kembali pada momen saling menyapa tetangga. Atau, terlarut dalam sebuah obrolan intim tanpa diganggu ponsel-ponsel pintar.

Dan yang terpenting, upaya itu bisa juga dengan mempromosikan budaya mendengar dan bukan menghakimi ke dalam masyarakat kita. Kini, kita sama tahu bahwa zaman sekarang lebih mudah untuk menghakimi daripada mendengar dan memahami.

Sebagai animal rationale, memperluas perspektif adalah salah satu cara subjektif yang bisa dilakukan. Sudah terbukti, jika kedangkalan dan sempitnya wawasan akan mempermudah kita tenggelam dalam kesepian. Maka, banyak berdiskusi dan membaca dapat menjauhkan kita dari risiko kesepian mendalam dan bunuh diri.

Baca: Catatan untuk yang Ingin Bunuh Diri

Terlepas dari itu semua, rasa kesepian dan bunuh diri adalah ekspresi kegetiran manusia di hadapan kehidupan yang serba tak pasti ini. Ya, bunuh diri memang membutuhkan sebuah keberanian. Namun, menjalani hidup dengan semua ketidakpastiannya, butuh lebih banyak keberanian.

Saya jadi teringat Soe Hok Gie: “Hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya, tanpa kita mengerti tanpa kita bisa menawar. Terimalah dan hadapilah.”