Blogger
1 minggu lalu · 246 view · 8 min baca · Sosok 15092_28925.jpg
Dok. Pribadi - Aaron Swartz dan Oktovisnus Pogau

Aaron dan Okto: Informasi Adalah Power

Di dunia ini, meskipun ada orang yang mencoba mempromosikan kelakuan kediktatoran seperti di Korea Utara, selalu ada tunas-tunas baru lahir untuk meruntuhkannya. 

Indonesia membalikkan sistem Soeharto karena suara muda berkumandangkan di Senayan. Jika pelajar-pelajar Indonesia tidak berdemo pada tahun 98, saya pikir kita masih hidup tanpa kebebasan yang hakiki.

Karenanya, semangat-semangat baik seperti yang mahasiswa lakukan pada 98, menurut saya, saya melihat ada dua orang yang melakukan misi yang dibilang sama dengan gerakan mahasiswa Indonesia 1998.

Kedua orang itu ialah Aaron Swartz (1986 - 2013) dan Oktovisnus Pogau (1992-2016). Oktovianus berasal dari Tanah Papua, sedangkan Aaron adalah orang Amerika.

Kedua sosok ini mempunyai perjuangan yang berbeda, namun hasilnya adalah untuk orang banyak. Aaron berjuang di dunia internet gratisan, open sources, dan Okto memperjuangkan di dunia jurnalis, media, yang tidak bisa sampai di ruang publik.

Okto dan Aaron menunjukan karismanya yang sama untuk merestorasikan keadaan karena mereka menganggap bahwa keberadaan hidup mereka sama seperti di zamannya Soeharto dan slogannya 'piye kabare enak jamanku toh' walaupun negara sudah dalam garis demokrasi - Amerika dan Indonesia.

Tiga kata, “Information is POWER”, adalah identik dengan kedua orang ini dalam kehidupan mereka. Bahkan kalimat ini tertera di kalimat pertama pada manifesto Aaron: Guerilla Open Access Manifesto.

Mereka punya kontribusinya memang akui di sekitar orang-orang jelata, bahkan di ruang publik. Oktovianus, misalnya, namanya dijadikan piala penghargaan: Oktovianus Pogau Award dari Pantau Foundation. 

Terus, di bawah ini adalah pembuktian hasil aktivisme kerja dari kedua aktivis ini, seperti berkampanye dan mendirikan medium untuk orang banyak.

Berkampanye untuk Perubahan Orang Banyak

Open access atau open sources untuk semua orang adalah tongkat berekspersinya kedua aktivis ini. Paywalls data-data akademik atau pelarangan berlebihan dari otoritas atas penggunaan internet di dunia maya dan forbidden peliputan media di Papua adalah luka bernanah yang tertempel di kedua tokoh ini.


Bagi Aaron, artikel-artikel akademik harus tersedia gratis untuk dibaca di mata publik. Tulisan riset tidak perlu paywalls (bayar uang atau berlangganan sebelum akses). Dia pikir bahwa hal itu adalah penyakit baginya. Penelitian akademisi tidak harus dikunci di ruang pembayaran oleh penerbit dan otoritas.

Karena penerbit jurnal-jurnal adalah kepala batu dan tidak mengizinkan secara bebas di khalayak, dia mungkin punya keyakinan untuk mengunduh jutaan artikel-jurnal tanpa izin. 

Dia dituduh secara ilegal mengunduh sekitar empat juta artikel dari website akademik JSTOR dengan menggunakan jaringan milik Institut Teknologi Massachusetts, MIT, Amerika. Sebuah tindakan yang membawa dia pada bunuh diri.

Dia juga tukang berkampanye guna melawan Stop Online Privacy Act (SOPA) yang berupaya memata-matai pengguna internet untuk pelanggaran hak cipta dan perdagangan konten bajakan lewat online. 

Kalau ini, kan, manusia Indonesia sudah tahu toh? Saya kira kebanyakan pengguna Windows OS di Indonesia adalah pembajakan. Saya tidak perlu menempelkan sumbernya, itu sudah jelas.

Itu yang Aaron kampanyekan bahwasanya otoritas tidak boleh seperti FPI Indonesia, contohnya. Mereka tidak harus menyensori sesuka FPI. Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Agung Supario menyatakan, lembaganya berencana mengawasi konten digital media baru. Nah, hal-hal ini, Aaron tidak mau.

Sedangkan Oktovianus, dia memperjuangkan media-media nasional yang tidak kunjung datang sentuh langsung dengan isu HAM Papua. Forbidden media coverage, pelarangan, dan minimnya liputan di Papua adalah salah satu dosa Jakarta untuknya. 

Kecintaan Okto terhadap bangsa Papua tidak bisa diragukan sebagaimana Made Supriatman dan Zely Ariane menulis artikel di Indoprogress, Bintang Kejora yang Mati Muda.

Dalam artikel itu, mengutip bahwa Okto beraksi di ibu kota negara Indonesia - Jakarta:

“Di Jakarta, Okto tergabung ke dalam organisasi Aliansi Mahasiswa Papua (AMP). Karena kebutuhan untuk melakukan aksi di tingkat nasional, dia juga menjadi perwakilan Komite Nasional Papua Barat (KNPB) konsulat Indonesia Barat. KNPB adalah sebuah organisasi pemuda, pelajar, dan mahasiswa Papua yang banyak mengangkat isu ketidakadilan di negerinya - Papua.”

Umumnya, proses Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) 1969 itu dinilai sangat kontroversial oleh para pemuda Papua yang bergabung dalam organisasi ini. Termasuk, kurangnya suara-suara Papua tidak diangkat serius oleh media-media. 

Okto angkat suara di Jakarta untuk menyadarkan masyarakat Indonesia dan dunia bahwa kebohongan negara dan media di Papua adalah benar-benar ada.

“Tidak heran kalau para pemuda ini menuntut diadakannya referendum untuk menentukan masa depan Papua,” tulis Supriatman dan Ariane.

Lanjut, artikel yang sama, Pogau juga kritis dan berani menyuarakan apa yang tidak boleh disuarakan oleh media-media lokal Papua maupun media nasional. Itulah kenapa, dalam demonstrasinya, ia selalu mempertanyakan kebijakan pemerintahan yang melarang masuknya media-media asing dan nasional di Tanah Cenderawasih.

Okto dan Aaron sepenuhnya berorasi tentang kebebasan untuk mendengar, mengambil, meliput, dan memublikasikan data-data secara bebas tanpa ada tekanan dari otoritas.


Aaron menuntut pemerintah untuk mengeluarkan UU tentang pengiriman data-data secara free di dunia maya tanpa filtering dan paywalls jurnal-jurnal akademik seharusnya dihapuskan. Sedangkan, pelarangan meliput berita di Papua dan mencari hilangnya sejarah pepera Papua untuk meluruskan adalah orasinya Okto.

Tentu saja Okto mendorong advokasi hak-hak sipil politik ekonomi serta sosial budaya orang-orang Papua. Ia tak pernah menjadi sekadar jurnalis atau penulis saja.

Aaron sama saja. Ia bukan hanya programmer. Dia juga turun jalan melawan kebijakan negara yang bersifat mata-matai orang di dunia internetan.

Tongkat Estafet

Tiga tahun setelah Aaron Swartz mengambil nyawanya (commit suicide) karena stress gara-gara pencurian artikel akademik di MIT, kemudian diberikan pasal berlapis, warisan advokatnya terus berlanjut berdemo atas keterbukaan internet. Gerakan open access "akses terbuka" yang dipromosikan Swartz lebih kuat dari sebelumnya.

Kalau saya tidak salah, sebagian citizen Indonesia mulai angkat bicara mengenai FPI yang mau mem-filter film-film dewasa dan anak-anak di Netflix dan di platform lain. Ah, pokoknya itulah. Untuk itu, kita berterima kasih kepada tuan Aaron. Dia duluan marah kepada otoritas kejadian semacam itu, bukan?

Sama juga di Indonesia. Mahasiswa Papua masih angkat bicara Papua meskipun Mepa, panggilan akrab di kalangan pelajar Papua, tiada. Saat hari-hari bersejarah buat orang Papua tiba, tidak salah juga, mereka terus kasih tahu Jakarta bahwa di manakah sejarah orang Papua disembunyikan?

Ketika Aaron membuang kutipannya yang terkenal, berbunyi: “What is the most important thing you could be working on in the world right now? ... And if you're not working on that, why aren't you?"

Okto bisa menjawab dengan, “Saya seorang jurnalis di suarapapua.com, cuma aktivis Papua. Hidup sederhana dan suka jalan-jalan. Masih dan akan terus berjuang untuk tanah airku!” kutip di bio Twitter Okto. Amsal Aaron ini adalah teguran keras untuk kita juga!

Mendirikan Platform untuk Publik

Pogau dan Swartz meninggalkan jejak dengan melahirkan tools untuk dipergunakan (berfaedah) bagi orang banyak.

Aaron memulai coding bahasa komputer pada usia 12 tahun. Pada saat berusia 14 tahun, ia menciptakan standar sindikasi internet RSS (Really Simple Syndication) yang memungkinkan pengguna internet untuk mengumpulkan konten yang menarik bagi mereka. Infonya bisa baku bagi dengan orang atau web lain.

Jika Anda pernah mengunjungi website Archive.org atau Open Library, perpustakaan umum berbasis digital ini, dia adalah salah satu pembuatnya. Tentu Anda bisa temukan referensi buku-buku dan artikel di website ini secara bebas.

Selain itu, ia adalah salah satu co-founder pembuat aplikasi Reddit - media sosial yang paling banyak dikunjungi dengan peringkat ke-5 di AS (menurut Alexa). Reddit ini mirip kaskus - berbagi informasi. Saya menekankan lagi di sini bahwa Reddit adalah tempat baku tukar pikiran apa saja, penting informasi harus diketahui oleh banyak orang.

Dia juga menulis sebagian besar kode yang menopang Creative Commons (CC), sebuah sistem yang bertujuan untuk berbagi pengetahuan dan kreativitas orang dan membangun dunia yang lebih adil, mudah diakses, dan inovatif (wikipedia.id).


Sementara, Oktovianus Pogau berpikir bahwa media sosial adalah alat yang penting dalam perjuangan Papua di era modernisasi. Okto sungguh-sungguh menggunakan medium ini untuk berdiskusi dan mengasah gagasan-gagasan politik Papua.

Ia mulai menulis sejak duduk di bangku SMP dan SMA. Di sana, Okto mengirim tulisan-tulisan di koran lokal di Papua dan berpartisipasi menulis di beberapa media di Jakarta. Salah satunya ialah media berbasis bahasa Inggris, Jakarta Globe. Ia terjun ke Jakarta hanya untuk melebarkan suara minor Papua yang hampir tidak didengar di muka publik.

Untuk itulah Okto dan kawan-kawannya mengambil langkah untuk mendirikan media online Suara Papua. Di Indoprogress pernah menulis, penderitaan bangsa Papua perlu disuarakan. Pada tanggal 10 Desember, bertepatan dengan hari Hak-hak Asasi sedunia, dia melahirkan Suara Papua. Moto yang dipakai pun mencerminkan pendiriannya, yakni “Menyuarakan Kaum Tak Bersuara”.

Media online Suara Papua yang kemudian pemerintah Indonesia pernah dikasih blokir lantaran pemberitahuannya kritis dan peliputannya ialah benar-benar apa yang terjadi di Merauke sampai Sorong. Pemberitaannya tidak seperti media nasional yang berat sebelah - sumbernya diambil dari TNI/Polisi dan pemerintahan. Suara masyarakat tidak didengarkan, bahkan tidak diliput.

Seakan publik menyadari bahwa laporan dari militer adalah suara emas, padahal di sana ada kata liar, pembohongan. “Pemblokiran dari kominfo pun tidak berdasarkan dasar hukum yang kuat,” seperti diberitakan media SuaraPapua.com dibawah titel “Blokir Lima Situs di Papua Indonesia Dinilai Bungkam Ekspresi Maya Rakyat Papua”.

Tentu saja benar bahwa Mepa diperjuangkan lebih untuk rakyat Papua. Kemudian, Okto mengajarkan anak-anak Papua untuk mulai menulis dan berpikir kritis.

Kedua tokoh ini mengekspresikan emosi atau situasi mereka baik maupun buruk di blog pribadi masing-masing. Aaronsw.com adalah milik weblog Aaron, sementara blog pogauokto.blogspot.com adalah weblognya Pogau.

Tutup dan Pesan

Kedua pria cerdas ini sepenuhnya mengambil tindakan-tindakan yang berpihak pada orang banyak, bukan berpikir supremasi dan egoisme sendiri. Mereka membantu hidup orang lain lebih baik dan lebih menarik.

Aaron dan Okto ingin membuat dunia menjadi tempat yang lebih terbuka, bukan seperti kehidupan Papua yang selalu ada tekanan. Orang Papua menulis tulisan opini tentang HAM saja di media, sebentar ada inbox masuk dari orang tidak kenal. Entah dari siapa, tidak tahu sendernya.

Saya harap rohnya mereka dapat menghidupkan kita untuk melakukan penetrasi-penetrasi baru di dunia kita. Kita belajar dari mereka dan memperbaikinya. Karena memetik, menyebarkan, dan berbagi informasi apa saja adalah sangat penting untuk membuka wawasan manusia guna menyapu bersih kedunguan kita.

"The purpose of freedom is to create it for others." ~ Nelson Mandela.

Semoga manifesto dari Aaron: Guerilla Open Access Manifesto dan Okto: Kenapa Rakyat Papua Tuntut Referendum jadi teladan bagi kita untuk menyadarkan pikiran-pikiran neraka kita.

Artikel Terkait