Terinspirasi dari jalan-jalan liburan musim panas kali ini, dan film A moment to remember (2014). 

Teruntuk suamiku, terima kasih senantiasa menunjukkan kepadaku keindahan bumi Heksagon. 

Cineraria, Sebuah Nostalgia

Kau dan aku, kita berdansa di atas reruntuhan
Mengayunkan kaki-kaki kelelahan di antara puing-puing berserakan
Kita berjumpa dalam pedihnya duka, dalam cabikan masa lalu
Dalam ketidakmengertian diri,
tersayat dan menyakiti mereka yang mencinta dan dicintai
Tapi mampu ku mengecap segala rasamu,
mampu kusentuh dasar dari dasar hatimu
Mampu kau pahami lapis terdalam jiwaku

Lantas pantai pun menjadi saksi cinta kita
Debur ombak melantunkan denting nada-nada indah iringi angin membisikkan janji setia
Berdiri teguh benteng-benteng kokoh di atas pasir karamel
Ditemani bunga-bunga kuning bertangkai beludru abu-abu
Mengintip tersenyum di antara merah bebatuan 

Bulir-bulir luka itu telah luruh kekasihku
Kala kita menyatu dalam nikmat desah harapan
Tuk menua bersama dalam tubuh tak lagi muda
Tuk membelai helai rambut putih menutupi kening bergaris-garis halus
Meski rahimnya benihmu, rahimku benihnya
Meski ingatan melemah,
Biar dalam waktu yang tersisa,
Kuhirup semerbak harummu
Abadi melekat pada tiap relung sukma

Terlambat mungkin kita bertemu
Tapi biar kita berendam dalam hangat romantisme senja,
Menatap langit merona jingga, menyambut rembulan muncul malu-malu
Ciumlah aku, kekasihku, gadis remajamu yang tersipu
Bukankah cinta tak kenal ruang dan waktu
Jika ia semegah tanjung Levi dan seindah Irlandia
Jika ia seliar La Côte Sauvage dan sedamai Ile de Noirmoitier
Biar yang terakhir,
Kurengkuh cineraria, sebuah nostalgia
Kucintai kau hingga hari ku menutup mata

*Cineraria, bunga kuning bertangkai beludru abu-abu, melambangkan nostalgia.

A Moment to Remember

Sampaikan padaku si perempuan tua itu
Bila tak lagi kukenali wajahmu
Kau laki-lakiku, kunanti ribuan tahun lalu
Membangunkanku dari tidur panjangku
Membaringkanku di rerumputan hijau di depan gereja tua
Menciumku di taman berbunga puri-puri indah
Memelukku dalam kapel mungil seraya nikmati senyum Bunda

Katakan padaku, kekasihku, kala ingatan tidak lagi ada
Kau yang menari bersamaku dikelilingi peri-peri berdansa dengan kurcaci-kurcaci
Ditemani kerlip bintang di hamparan megah tanjung Levi
Kita menutup hari dengan bercumbu di atas pasir manis bermadu
Hangatkan tubuh dari dingin angin liar Côte Sauvage
Bersiap menghirup kedamaian esok
Melabuhkan cinta kita dalam keindahan puitis Port Racine

Kekasihku, bisikkan di telingaku saat tak mampu lagi kudengar lembut suaramu
Tentang kaktus yang berbunga di kebun penuh kerikil
Tentang rumah putri duyung dari bebatuan merah menyala
Tentang desa keemasan di kaki tebing di tepi sungai Dordogne
Tentang Yesus menyapa umat di bawah tanah
Tentang Melanie Klein di jembatan Vaison-la-romaine

Biar kini kekasihku
Bawa diriku kemanapun kau pergi
Dari desa ke kota, dari pantai ke lembah,
Dari tanjung ke benteng, dari gua ke biara
Biar kau dan aku mengukir jutaan momen tuk kita kenang kala senja

Pernikahan Kita

Lonceng gereja-gereja tua sudah berdentang kekasihku
Di timur, selatan, barat, dan utara
Langkah ringan kaki-kaki mungil ria gembira
Bahagia membuncah pada senyum ceria
Kau dan aku, kita menuju altarnya
Tuk ucapkan janji setia
Cinta abadi selamanya
Ibu Kita yang Di Bumi senantiasa memberkati 

Anggur-anggur Cinta

Dari Bergerac hingga Beaujolais
Kita mengecap anggur-anggur cinta
Puaskan dahaga asmara

Dari kapel ke kapel,
Dari gereja ke gereja, dari biara ke biara
Mengukir ribuan kenangan indah
Menerima berkat-berkatnya,
Biar darah tercurah, membuat cinta kekal selamanya 

Cinta yang Menghidupkan

Kita kembali merasa muda, kasihku
Cinta begitu menghidupkan
Kita ingin melihat dunia dengan senyum lebar, mengunjungi tempat-tempat menakjubkan,
Mengagumi semua keindahan
Membiarkan diri tertawan kecantikan langit empat musim

Bawa aku kemanapun kau inginkan
Kemanapun kau pergi, ku kan selalu di sana
Karena kuikuti hatiku, dan hatiku mengikutimu

Catatan.

Heksagon atau segi enam adalah sebutan untuk Prancis, karena bentuknya memang menyerupai heksagon. 

Port Racine, sering disebut-sebut sebagai pelabuhan terkecil di Prancis. Ia terletak di ujung barat peninsula Le Cotentin, yang pemandangannya sangat indah.

Keindahan Port Racine sendiri sulit dilukiskan dengan kata-kata. Ada ketenteraman luar biasa yang memasuki perlahan hati kita, kita akan terbuai dalam kekaguman, rasa takjub tapi sekaligus menenangkan jiwa.

Begitu damai.. Sekaligus mengantarkan kita pada berjuta khayal, imajinasi.. Saya merasakannya sebagai keindahan yang begitu puitis...

Mungkin karena itu tidak heran jika Jacques Prévert, penyair Prancis menjadikan Port Racine ini sebagai salah satu tempat favoritnya.

Ibu Kami Yang Di Bumi. Feminis teologis mengkritik representasi Tuhan sebagai laki-laki.  Sementara itu, kelompok ekofeminis melihat keterhubungan bumi dengan perempuan. Saya sengaja mengganti “Bapa kami yang di surga” dengan “Ibu kami yang di bumi”.

Jembatan di kota Vaison-la-romaine sudah berusia lebih dari 2000 tahun tetapi masih dalam kondisi yang sangat baik.

Penutup

Selamat ulang tahun Indonesiaku.
Biar kaki ini tak lagi menjejak bumi pertiwi
Jiwaku tetap mencintaimu...

Normandie, Agustus 2020.