Mahasiswi
4 bulan lalu · 248 view · 3 menit baca · Gaya Hidup 94770_41819.jpg
Popbela.com

Yang Pernah Membenci Diri Sendiri

Saya tidak cukup baik memulai sebuah percakapan. Sering ragu ngetik chat di grup karena (kelamaan) mikir berulang-ulang hal yang tak penting. Pemilihan katanya sudah tepat atau belum. Apakah mereka yang baca bisa paham atau tidak dengan maksud saya. Kalau mereka salah paham bagaimana? Seperti apa ya nanti respons mereka kalau baca ini.

Ujung-ujungnya terkadang keluar dari chat room itu, dan memilih tak jadi ngetik.

Saya sering menyepelekan hati kecil, sampai akhirnya ngedumel sendiri, “Kan, benar. Harusnya tadi diikutin aja." Saya juga mudah menampakkan ketidaknyamanan. “Kamu sakit ya?”, “Senyum dong, kusut banget tuh muka,” dan sebagainya.

Ssaya sering sekali menganggap sesuatu itu beban. Sampai akhirnya tidak fokus ke solusi. Tapi malah muter-muter di masalah. Yang enggak enak menolak dan juga enggak enak minta tolong. Yang mengakui kebanyakan menye-menye ketimbang berusaha.

Yang lebih sering memilih menyalahkan dan mengutuk diri sendiri. Yang kebanyakan mengeluh daripada bersyukur. Yang belum mampu sepenuhnya menjadi perempuan usia 21. Dan yang yang yang lainnya. 

Memang gampang banget kalau kita mencari kelemahan diri sendiri. Tulisan di atas tentang saya pun masih kurang.


Sampai akhirnya saya memutuskan untuk menerima diri saya. Dan seketika hati rasanya tenang. Biarlah kekurangan saya di sana sini, saya akan terus belajar. Tapi, saya tidak bisa sendiri.

Saya harus berdamai dengan jiwa saya. Harus mampu merangkul diri sendiri, membawanya untuk bersama-sama benahi diri.

Bagaimanapun, nilai lebih lainnya dari tulisan di atas ialah saya dapat mengenal diri. Paham bagaimana caranya menangani dan menyikapi diri. Kelak, hal-hal kurang baik di atas akan berganti dengan yang baik. Yang menjadi kekurangan, akan diubah menjadi kelebihan.

Semua ini hanya soal menerima, mencintai, memperbaiki, dan menyerahkannya pada waktu. Memulai menulis di sini juga menjadi salah satu cara saya untuk belajar menerima dan memperbaiki diri.

Mari kita sama-sama mulai belajar mencintai diri. Sebab saya yakin, bukan hanya saya sendiri yang mengalami.


Segera bangkit dan bangun kepercayaan diri. Mari bergegas untuk terus berupaya memperbaiki. Bukan tugas kita menjadi nomor satu, tugas kita adalah memperbaiki diri. Melampaui batas, namun bukan berarti lepas. 

Segera penuhi hal-hal positif dalam kepala dan hatimu. Isi hal-hal baik di setiap hari-harimu.

Kamu terlalu berharga untuk berdiam diri. Kamu terlalu merugi jika tak mensyukuri apa yang sudah diberikan. 

Hal yang perlu dicatat juga ialah, memperbaiki diri, mengolah dan mengembangkan bakat adalah cara kita sebagai wujud syukur kepada Tuhan atas karunia yang sudah diberikan.

Ada beberapa langkah yang saya lakukan untuk dapar mengatasi "kelamahan" saya ini.

1. Jangan memberi diri batas. Artinya, jangan telalu terkekang pada aturan atau batas yang ada. 

Misal, kamu melihat si A seorang pemimpin yang memiliki kebiasaan mengkritik. Dan kamu menilai bahwa itu adalah salah satu nilai lebih seorang pemimpin. Menurutmu, jika kamu memgkritik maka kamu terlihat lebih "tegas". 

Akhirnya ketika kamu menjadi pemimpin, kamu menilai hal yang harus kamu punya adalah kemampuan untuk mengkritik orang atau anggotamu. Di kepalamu, mengkritik orang itu ialah salah satu ciri pemimpin. Padahal, pemimpin pun tidak boleh asal kritik. Harus ada substansi yang jelas sebelum melontarkan kritik. 

Maka dari itu, lepaslah semua batasan-batasan itu. Jadilah dirimu sendiri. Pemimpin versimu sendiri.

Contoh lain yang berkaitan dengan poin di atas ialah, jangan menentukan ukuran tertentu dalam menilai sebuah kesuksesan. 


Kebanyakan orang berpikir bahwa sukses adalah berhasil memiliki penghasilan sekian juta per bulan, sekolah di sekolah favorit, kuliah di luar negeri, bekerja sebagai wirausahawan, dan lain-lainnya. Jika di luar itu maka belum mendapatkan kesuksesan.

Padahal kamu bisa menemukan kesuksesan versimu sendiri. Tak harus mengikuti stereotipe seperti itu. Bahkan, jika kamu merasa bahagia saja artinya kamu sudah sukses. Kamu berhasil membuat dirimu bahagia, merasa bersyukur.

2. Maafkan dan terima dirimu sendiri. 

Seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya, kita harus bisa memaafkan jika dirimu belum mampu seperti apa yamg kamu inginkan. Toh kamu masih memiliki waktu untuk memperbaikinya. Bukankah hidup adalah proses belajar? 

Setelah memaafkan, belajarlah untuk menerima kekurangan dirimu sendiri. Jangan memaksakan. Sebab tiap orang telah diberikan jatah kelebihan dan kekurangannya. 

Maka kita hanya perlu bersyukur dan menerima.

Artikel Terkait