Biographer
11 bulan lalu · 2599 view · 6 menit baca · Sosok 85932_92950.jpg
Sabine Jamieson (Foto: Babylon/Johnny Nicolaidis)

Sabine, Peragawati Yahudi Jatuh Cinta pada Perjuangan Rakyat Papua

"Ketika Anda menjadi model, Anda memiliki kekuatan."

Ketika pada 22 November 2016 Sabine Jamieson dinyatakan kalah dalam ajang final  the Next Top Model Australia (AusNTM) musim ke-10,  banyak warga Negara Kanguru marah. Mereka tidak rela wanita berdarah Yahudi itu hanya menempati posisi runner up. Mereka menganggap juri 'merampok' gelarnya untuk diberikan kepada rivalnya, Aleyna Fitzgerald, gadis berusia 16 tahun asal Newcastle, Australia.

Apalagi kemenangan Aleyna ditentukan oleh keunggulan tipis pada tantangan terakhir mereka: hanya 0,5 poin. Itu semakin membuat penggemarnya merasa sedih. Sabine dipandang lebih layak.

"Saya tidak percaya: Kim Kardashian, Hilary Clinton, dan Sabine semuanya dirampok tahun ini #AusNTM, " Demikian seorang penggemarnya bernama  Claire dengan akun Twitter @ThirdWardTril, menulis pada  22 November 2016. Ia menyamakan nasib Sabine dengan Hilary Clinton yang dikalahkan Donald Trump dalam pemilu AS.

"Sabine dirampok," kata Adrian dengan akun Twitter @adrian_dmimasi.

"Saya sangat marah kenapa bukan Sabine tersayang yang menang. NoNoNoNoNo," tulis seseorang dengan akun Twitter @emmahasgone.

"Australia Top Next Model sangat curang bahkan tidak lucu. Sabine dirampok," komentar Danielle Ries dengan akun Twitter @dani_ries.

"Sangat sangat bangga padamu Sabine," tulis Ruby, dengan akun Twitter @OkBabyAustralia.

Apa yang membuat Sabine lebih difavoritkan dan mengapa juri menganggap rivalnya lebih layak, tulisan ini tidak hendak membahasnya. 'Kehebohan' atas kekalahannya dalam tulisan ini dipakai sebagai titik beranjak untuk melihat sisi menarik lain dari Sabine. Yang hendak disoroti adalah sekelumit sisi lain hidupnya dan cita-citanya di luar berkarier di dunia model kelak, yaitu keinginannya aktif dalam soal penegakan Hak Asasi Manusia (HAM).


(Sabine Jamieson. Foto: Babylon/JohnnyNicolaidis)


Dalam tulisan mengenai dirinya di sebuah   media online komunitas Yahudi Australia, Australia Jewish News pada bulan Oktober 2016, Sabine digambarkan sebagai model berdarah Yahudi berusia 18 tahun (ketika itu). Dia memiliki cita-cita yang unik di luar sebagai peraga busana.


Ketika diwawancarai dalam rangka audisi, dengan gamblang ia mengatakan bahwa ia tidak ingin sekadar menjadi model. Dia ingin mendedikasikan karier modelnya untuk menyuarakan permasalahan Papua ke dunia internasional.

Sabine mengatakan ketimbang sekadar berwajah rupawan, ia   berharap karier modelnya dapat menjadi platform baginya untuk berbicara tentang isu-isu sosial, "terutama genosida di Papua (Barat) dan krisis pengungsi Australia."

Menyuarakan keprihatinan pada Papua bukan aktivitas baru bagi Sabine. Ia sudah menjalaninya sebagai relawan. Ia, misalnya, bersama adik kembarnya, telah terlibat dalam penggalangan dana untuk masyarakat Papua  melalui produksi T-shirt. Produk itu mereka jual dan hasilnya disumbangkan kepada gerakan pembebasan Papua lewat wadah United Liberation Movement for West Papua (ULMWP).

"Ketika Anda menjadi model, Anda memiliki kekuatan bersama media, kekuatan untuk menempatkan sorotan pada berbagai isu yang berbeda," kata Sabine, sebagaimana dikutip oleh Jewish News.

Ia mengatakan belum banyak sorotan yang diarahkan kepada isu Papua. "Masyarakat internasional menutup mata. Kita memiliki kekuatan teknologi untuk menunjukkan apa yang terjadi di sana, sehingga benar-benar penting bahwa kita melakukan itu," kata dia.

Dari Byron Bay ke Panggung Dunia


Pada tahun 2014, Sabine masih tinggal bersama keluarga dan saudara kembarnya, Nakisha, di Byron Bay, Australia, ketika mimpinya untuk bekerja terwujud. Ia bekerja di majalah Real Living. Bekerja di majalah itu ternyata membuka matanya terhadap industri fesyen. Dari sana pula ia jatuh cinta pada dunia itu.

Lalu pengalaman itu menginspirasinya untuk pindah ke Sydney. Di sana ia tinggal bersama nenek dan kakeknya, Sandra dan Yoram Gross.


Yoram Gross bukan kakek sembarangan. Ia  terkenal dengan keterlibatannya sebagai sutradara dan produksi film  animasi Blinky Bill, sebuah film yang berfokus memberi edukasi tentang Holocaust kepada anak-anak. Yoram memang adalah salah seorang korban Holocaust yang selamat. Ia berimigrasi kei Australia dari Polandia setelah masa perang.

Kedatangan Sabine ke Sydney menggembirakan Yoram. Yoram pun memperkenalkan cucunya kepada komunitas Yahudi setempat. Dari sana Sabine semakin mencintai industri hiburan.

"Semuanya tampak sangat menarik pada saat itu," kenang Sabine. "Pindah ke Sydney, tinggal bersama kakek yang memanjakan saya," kata dia.

Namun duka kemudian datang. Pada tanggal 20 September 2015, Yoram meninggal. Ini membuat seluruh keluarga terkejut dan berduka.

"Keluarga saya semua datang ke Sydney untuk pemakaman dan mereka semua berkabung," Sabine mengenang.

Kematian sang kakek sempat mematahkan semangatnya. Lalu ia memutuskan akan pulang ke kampung halamannya, ke kota kecil Byron Bay yang tenteram.

"Saya sedang bersiap untuk terbang kembali ke Byron Bay dengan mereka ketika saya melihat sebuah iklan untuk musim ke-10 program televisi The Australia's Next Top Model. Dan saya punya perasaan bahwa saya harus ikut. Saya merasa 'saya harus melakukan itu'.  Saya mengatakan kepada rumah produksi, bahwa saya hanya punya waktu satu setengah- jam, karena saya harus mengejar pesawat."

Sabine,  siswa kelas 11 di Emanuel School saat itu, mengatakan bahwa dia tidak punya harapan akan lolos audisi. Namun betapa terkejutnya dirinya ketika di kemudian hari ia menerima email yang memberitahukan bahwa dia lolos, dan  benar-benar menjadi peserta AusNTM.

Kemenangan itu memberi kesempatan baginya mengenang dan berterimakasih kepada kakeknya yang telah memperkenalkannya kepada industri hiburan. Pada 20 September 2016, tepat setahun setelah kakeknya berpulang, episode pertama AusNTM disiarkan di Fox8. Jamieson menontonnya bersama neneknya.

"Kakek dan keluarganya adalah pengungsi setelah perang. Keluarga saya meraih kesuksesan (sebagai imigran) karena mereka dibantu oleh masyarakat Australia, dan saya akan senang bila dapat melakukan hal yang sama kepada orang-orang (imigran) di generasi ini," kata dia,

Membumi dan akan Bersuara

Kemenangan demi kemenangan kemudian telah membawanya beranjak dari Byron Bay ke kota-kota besar dunia, hingga ke Milan. Kisah hidupnya bersama sang kakek banyak memunculkan simpati kepadanya.

Selain itu, kepribadiannya yang 'membumi' dipandang sebagai salah satu keistimewaannya. Ia mencintai masa kecilnya di Byron, yang menurutnya, memberinya banyak kebebasan sebagai anak-anak. Hal itu melahirkan kepercayaan diri yang sangat besar.


(Sabine (kiri) bersama sang Kakek, Yoram Gross. Foto: Ist)

"Untuk beberapa alasan, bertumbuh dan besar di Byron memberi Anda kepercayaan diri bahwa Anda akan dapat kemana saja di dunia ini untuk mencapai apa pun, mungkin karena saya memiliki kebebasan yag sedemikian besar ketika masih kecil," kata Sabine kepada dailymercury.com.

Sabine menekankan adalah penting untuk tetap menjadi diri sendiri kendati sorotan publik semakin luas.

"Saya kira sangat penting untuk tetap menjadi diri sendiri. Banyak orang mengatakan itu, tetapi buat saya itu merupakan pelajaran yang terus-menerus hendak saya pegang," kata Sabine.

Pujian kepada Jamieson datang dari Jennifer Hawkins, pembawa acara AusNTM. Ia mengikuti dan mengagumi perkembangan yang dialami Sabine sejak masih 'mentah' dalam soal modeling hingga kini telah menjadi seorang profesional.

"Saya kira Sabine akan jadi 'kuda hitam' dalam ajang ini," kata dia.

"Sejak pertengahan musim dia mulai bersinar. Dia sangat membumi tapi di belakangnya dia benar-benar terdorong dan dia tahu apa yang diinginkannya," kata Jennifer.

Sebelum hasil final diumumkan, Jennifer mengatakan baik Sabine maupun Aleyna berpeluang meraih juara. Keduanya, kata dia, memiliki kemampuan untuk meraih cita-cita yang mereka impikan.

Meskipun demikian, ada perbedaan antara Sabine dan Aleyna dalam memandang model sebagai karier masa depan. Aleyna sudah meyakini dan memutuskan akan fokur berkarier di dunia model hingga ke panggung dunia. Sabine lain. Ia berencana untuk kembali ke Sydney dan berkarier di negaranya sendiri.

Bersamaan dengan itu, Sabine bertekad akan menyeimbangkan karier di dunia model dengan kegiatan kemasyarakatan dan amal. "Saya ingin melanjutkan karier di dunia model tetapi banyak hal yang saya ingin angkat dan bicarakan, seperti soal Hak Asasi Manusia," kata dia.

Dalam hemat Sabine, dunia model adalah karier yang mewah dan karena itu ia merasa harus ada sesuatu yang ia lakukan untuk 'membayar' apa yang sudah ia peroleh.

Di balik kekalahannya dalam ajang AusNTM, Sabine meraih keberuntungan.Rumah mode Priscillas Model Management telah mengikat kontrak dengan Sabine. Lebih asyiknya lagi, Sabine boleh tetap berkarier di Sydney, seperti yang ia inginkan. Dari kota ini ia akan melenggang di catwalk, seraya akan terus menyuarakan pelanggaran HAM di mana pun, termasuk di Papua, seperti yang sudah ia lakukan.

Referensi:

Artikel Terkait