Bisa saya katakan, pijakan awal memahami gejolak di Timur Tengah diawali oleh fenomena Musim Semi Arab atau dikenal dengan The Arab Spring. Hasilnya gelombang demonstrasi dapat menggulingkan otoritarianisme kepemimpinan di Tunisia, Libya, Mesir dan Yaman.

            Akan tetapi, kalau kita bertanya –tanya apakah jatuhnya para pemimpin otoriter searah dengan idealisme masyarakat yang ingin hidup berkecukupan? Sangat disayangkan harapan besar itu “gagal” disebabkan tindakan represif pemerintah dan separatisme yang berujung pada krisis kemanusiaan,  kegagalan ekonomi dan politik negara.

            Enam tahun konflik berkecamuk, organisasi Hak Asasi Manusia melaporkan akibat konflik Suriah 400.000 warga sipil menjadi korban, arus migrasi terbesar dalam sejarah, ratusan demonstran meninggal di Mesir, Libya dan ribuan korban jiwa lainya di Iraq.

            Sebagaimana Suriah dan Iraq, Yaman adalah satu negara yang masih dilanda perang. Sayangnya konflik Yaman tidak mendapatkan perhatian khusus dan terkesan diabaikan bahkan media-media internasional menyebutkan konflik Yaman adalah “one of the World’s forgotten conflict”  konflik yang dilupakan. Padahal krisis di negara ini sudah mencapai titik tertinggi.

            Saya berusaha mencoba menguraikan bagaimana sebetulnya akar konflik Yaman, bagaimana ketelibatan aktor-aktor lokal serta pengaruhnya terhadap situasi sosial-ekonomi dalam negerinya.

Akar konflik Yaman

            Kalau kita melihat secara geografis, Yaman sebenarnya berada pada posisi yang sangat strategis. Menjadi salah satu negara Teluk dan berbatasan dengan laut lepas di bagian selatan  menjadikan negara ini sebagai jalur pelayaran minyak tersibuk di dunia. ditambah lagi dengan  cadangan minyak dan gas hingga pulau Socotra yang dapat dijadikan sebagai objek wisata yang menjanjikan.

            Letak geografis yang penting, berbanding terbalik dengan kondisi rakyatnya. Yaman justru menjadi negara termiskin di Timur Tengah. Sebagaimana laporan dari Yemen Poverty Assasment peiode 2005-2006 mencatat tingginya prosentase kemiskinan mencapai 70 % di wilayah Amran serta 60 % dwilayah Sabwah dan al-Baida.

            Selain faktor ekonomi, faktor lain yang menjadi penyebab buruknya kondisi ekonominya adalah faktor politik. Selama 33 tahun dibawah kepemimpinan Ali Abdullah Saleh, persoalan korupsi, kolusi dan nepotisme terus terjadi dalam lingkaran pemerintahannya.

            Faktor ekonomi dan politik ini dinilai sebagai penyebab mendasar lahirnya demonstrasi dan pemberontakan. Akhirnya terinspirasi dari revolusi di Tunisia dan Mesir, ribuan warga menuntut Ali Abdullah Saleh untuk mundur dari kursi kepresidenan. Akan tetapi tindakan represif pemeritah serta jatuhnya korban jiwa semakin memperkeruh keadaan.

Peta Konflik Intern Yaman 

            Dalam sudut pandang politik, sebenarnya dimanapun terjadinya konflik tidak hanya didalangi oleh aktor intern, tetapi juga adanya  keterlibatan pihak-pihak luar dan  menjadi sebab sulitnya proses rekonsiliasi. Seperti pada kasus Yaman, secara internal dapat dipetakan menjadi tiga aktor utama yaitu milisi Syiah Houthi, loyalis Abdo Rabbo Mansour Hadi dan AQAP (Al-Qaida in Arabian Peninsula).

            Banyak yang menilai, konfrontasi antara kubu milisi Houthi dan loyalis Mansour Hadi disebut sebagai proxi war karena satu pihak didukung oleh Dewan Kerjasama Teluk (GCC) dan pihak lainnya didukung oleh Iran. Inilah yang saya maksudkan setiap konflik selalu adanya keterlibatan pihak lain dengan kepentingan-kepentingan tertentu.

            Semantara pihak ketiga adalah militan AQAP dianggap sebagai salah satu cabang al-Qaida yang cukup efektif. Memiliki beberapa ratus anggota dan memiliki daya tarik lokal terbatas secara intensif melakukan penyerangan tehadap pihak milisi Houthi dan pendukung Mansour Hadi.

            Eskalasi konflik selama dua tahun dan perebutan wilayah kekuaasan antar aktor yang bertikai akhirnya menyebabkan terjadinya fragmentasi. Milisi Houthi dapat menguasai sebagian besar wilayah utara dan membentuk pemerintahan sendiri, pendukung Mansour Hadi menguasai wilayah selatan dan Timur dan berusaha memukul mundur milisi Houti dan AQAP. Sementara para militan berada pada wilayah pegunungan serta intensif melakukan penyerangan dalam skala kecil terhadap basis-basis pemerintah.

Konflik Yaman dan Pengaruhnya terhadap Situasi Regional 

            Perang Yaman telah menciptakan salah satu bencana kemanusiaan paling serius di dunia. 70-80 % penduduknya membutuhkan bantuan kemanusiaan dan lebih dari separuh penduduknya menghadapi krisis pangan.

            Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) memperkirakkan terjadinya konflik mengakibatkan lebih dari 10.000 jiwa menjadi korban dalam pertempuran, 470.000 anak-anak mengalami kekurangan gizi dan 10.000 anak lainnya meninggal akibat penyakit dan  hampir 3 juta warga mengungsi.

            PBB juga memperingatkan akibat konflik Yaman menyebabkan terjadinya malapetaka kemanusiaan “Humanitarian Catastrophe”. Menurut Human Right Report pada 2017 melaporkan akibat dari serangan koalisi telah menewaskan 800 warga sipil dan menghancurkan infrastruktur seperti rumah sakit, pasar, sekolah dan tempat ibadah.

            Sebuah konflik pada akhirnya memberikan kerugian besar dan  selalu mengakibatkan krisis kemanusiaan. perlu kita pahami bersama setiap manusia memiliki hak untuk menjalani hidup, mendapatkan hak sebagai warga negara. Jangan hanya sebatas sentimen idelogis atau mempertahankan kekuatan politik semata membuat kita buta memahami realitas masyarakat.

            Hemat saya, solusi dari konflik Yaman adalah dialog antara  ketiga pihak yang bertikai. Setiap  pihak seharusnya  membuka diri  dan melepas atribut kepentingan dimana selama ini menjadi penyebab konflik. Kemudian adanya usaha untuk menfasilitasi akses kemanusiaan keseluruh wilayah termasuk daerah yang dikuasai milisi dan militan serta melakukan rekonsiliasi politik serta berusaha mengintegrasikan keamanan dan ekonomi regional, melakukan proses negosiasi antar aktor yang terlibat.