19113_93060.jpg
KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG
Olahraga · 2 menit baca

Merawat Kesetaraan di Asian Para Games 2018

Euforia masyarakat Indonesia akan gemerlap Asian Games 2018 seakan belum sepenuhnya hilang. Masyarakat masih ingin melihat kemeriahan yang sama namun dengan acara yang berbeda. Dan itu telah ditunjukkan pemerintah pada Asian Para Games 2018.

Pembukaan upacara Asian Para Games dapat dikatakan menyentuh dan mengetuk hati masyarakat Indonesia. Presiden Indonesia, Jokowi melakukan prosesi memanah bersama salah satu atlet panahan, Bulan Karunia Rudianti.

Kata "disability" dipanah hingga kata tersebut hancur dan menjadi "ability". Hal ini menunjukkan bahwa sejatinya tak ada perbedaan mencolok antara Asian Games dengan Asian Para Games.

Mereka, para atlet Asian Para Games, sama-sama berjuang meraih medali terbaik. Sama-sama berjuang memperoleh hasil yang terbaik. Dan, sama-sama juga berjuang mengharumkan nama bangsa Indonesia.

Mereka, para atlet Asian Para Games, sama-sama berlatih dalam jangka waktu tertentu. Sama-sama mengorbankan waktu keluarga untuk kemudian berlaga. Dan, sama-sama saling mendukung satu sama lain agar semangat tidak pernah kendur dan pantang menyerah.

Asian Para Games 2018 dihelat sejak tanggal 6-14 Oktober. Waktu seminggu lebih yang seharusnya mampu dimanfaatkan oleh penggemar olahraga untuk memenuhi bangku-bangku penonton yang tersedia.

Pemerintah juga memberikan kursi-kursi gratis untuk beberapa cabang olahraga tertentu agar menarik minat masyarakat Indonesia. Agar mereka sadar bahwa pentas Asian Para Games penting untuk digaungkan dunia internasional.

Apakah kita bisa mengulangi kesuksesan seperti Asian Games 2018? Tentu saja, kita bisa. Dukungan dari media sosial, dukungan langsung ke arena, dan dukungan dari pemerintah adalah tiga hal yang saya yakini mampu meningkatkan prestasi Indonesia di Asian Para Games 2018.

Di Guangzhou, China tahun 2010, kita mampu menempati peringkat 14. Saat itu kita mendapat satu medali emas, lima medali perak, dan lima medali perunggu. Suatu prestasi yang oke mengingat 2010 adalah tahun pertama Asian Para Games diselenggarakan.

Di Incheon, Korea Selatan tahun 2014, kita mengalami peningkatan medali yang luar biasa. Kita mampu meraih sembilan medali emas, 11 medali perak, dan 18 medali perunggu. Lonjakan yang luar biasa menandakan bahwa atlet--atau lebih sering dikenal paralympic--Indonesia sangat mampu bersaing dengan atlet-atlet dari negara Asia lainnya.

Saya optimis bahwa paralympic Indonesia akan menyamai prestasi teman-teman sebelumnya di Asian Games 2018. Sebab, dukungan berlimpah biasanya akan berbanding lurus dengan prestasi. Yang tentu saja menjadi berkah.

Bukti keberkahan mulai tampak. Hingga hari ini, setiap harinya atlet Indonesia mampu meraih medali emas. Membawa bendera Indonesia. Mengumandangkan lagu Indonesia Raya.

Dan jangan lupa, ketika mereka berhasil meraih medali, pemerintah selayaknya memberikan bonus serupa seperti apa yang dilakukan saat Asian Games 2018. Bonus merupakan stimulus. Menjangkau atlet agar mereka meraih prestasi yang komplet.

Euforia ini perlu dijaga dan dirawat. Supaya ketika kita menggelar acara serupa, dunia internasional percaya dengan kemampuan kita dalam mengelola acara olahraga.

Hari ini dunia internasional melihat, menghargai sekaligus menghormati. Bahkan, mengakui bahwa level Indonesia menggelar acara olahraga sangat baik. Tak heran, Indonesia juga dijagokan mampu menjadi tuan rumah olimpiade.

Yang jelas, saat ini kita harus terus merawat asa. Menjaga mimpi. Mengelola harapan. Supaya acara apa pun yang digelar Indonesia bisa sukses. Termasuk perhelatan Asian Para Games 2018.

Kita pasti bisa. Karena kita adalah energi Asia. Yang menginspirasi Asia. Yang menjadi sumber kehidupan Asia. Dan, yang mampu merawat atau mengelola relasi dengan negara-negara Asia.