Al-Qur’an bersumber dari Allah, sebagaimana yang telah diyakini oleh umat Muslim pada umumnya, al-Qur’an sendiri menyepakati pernyataan tersebut dalam bentuk ayat-ayatnya. 

Keyakinan bahwa al-Qur’an adalah wahyu Allah yang diterima oleh Muhammad telah menjadi keyakinan dasar dalam pokok bahasan teologi Islam. 

Seorang akan menyatakan dirinya Muslim, apabila telah meyakini keyakinan tersebut. Sampai detik ini, ternyata keyakinan tersebut menjadi polemik di kalangan Orientalis.  

Selama bangsa Eropa masih di ambang kejayaan dari masa Renaisans, posisi Barat belum dapat “ditaklukkan” oleh bangsa Timur hingga saat ini. 

Sehingga para ilmuwan-ilmuwan Barat dapat berkehendak semaunya dalam menilai ajaran Timur, tanpa melihat dan mempertimbangkan asal-usul ajaran Timur sendiri.

Membahas kehidupan orang Barat yang mengkaji aspek-aspek ketimuran tidak akan ada habisnya, karena pasti akan mengundang banyak pro dan kontra baik dari kalangan internal maupun eksternal.

Mengkaji peradaban yang terpaut jarak yang sangat jauh dapat menjadi faktor, salah satunya dalam memposisikan sudut pandang sesuai pada tempatnya. 

Dengan demikian, mengetahui aspek kehidupan “lawan” sangatlah penting. Bahkan membahas sejarah atau asal-usul al-Qur’an juga mengundang banyak kritikan dari Orientalis. 

Tak sedikit sejarah al-Qur’an yang telah dikritik oleh sarjana Barat karena banyaknya hal yang menurut mereka kurang masuk akal.

Peristiwa perang Salib juga menjadi salah satu faktor sarjana Barat dalam mengkaji aspek ketimuran, setelah adanya peristiwa tersebut kebencian orang Barat terhadap Timur kian menambah. 

Upaya apapun dilakukan oleh orang Barat untuk bisa menghancurkan umat Islam, salah satu upaya mereka adalah dengan mempelajari ajaran ketimuran dalam berbagai aspek.

Orientalisme adalah istilah untuk menyebutkan sebuah penelitian yang dilakukan oleh orang Barat dalam mengkaji dunia “Timur” dalam berbagai aspek, baik bahasa, budaya, agama, sejarah, dll.

Atau bisa dibahasakan dengan sederhana, orientalisme adalah disiplin ilmu tentang ketimuran.  

Penggunaan kata ‘Orientalisme’ tidak bertahan lama, dulunya orientalis mengkaji semua aspek yang berkenaan dengan dunia “Timur” baik itu bahasa, agama ataupun budayanya. 

Akan tetapi, lambat laun apa yang mereka kaji bergeser hanya condong mengkaji agama Islam. 

Agama Islam telah diakui oleh bangsa Barat sebagai salah satu nama agama, karena itu sekarang ‘Orientalis’ diganti menjadi ‘Studi Agama-agama’, dan istilah ‘Orientalis’ pun juga diganti menjadi ‘Sarjana Barat’.



Asal-usul al-Qur’an

Pada masa abad pertengahan, paham yang digagas oleh para kontemporer mengenai asal-usul atau sumber al-Qur’an memiliki kesamaan dengan paham yang berkembang di Barat sampai saat ini. 

Muhammad dianggap sebagai penipu, tukang sihir, serta ajaran al-Qur’an dianggap sebagai ajaran Kristen yang melenceng. 

Dibalik gagasan yang diutarakan oleh sarjana Barat memiliki kepentingan tertentu yaitu apologetik atau bersifat pembelaan keyakinan kristiani. 

Hasil karya Barat modern yang berusaha mengusut sumber-sumber al-Qur’an berawal dari dipublikasikannya karya Abraham Geiger tahun 1833, Was hat Mohammed aus dem Judentum aufgenommen? (Apa yang telah dipinjam Muhammad dari Agama Yahudi?).  

Dalam buku ini Geiger memaparkan asumsinya, bahwa kepercayaan (agama) yang datang terlebih dahulu memiliki rasa otoritatif lebih tinggi daripada agama yang datang sesudahnya. 

Abraham Geiger termasuk dalam golongan kelompok yang masih mempertimbangkan kontekstualisasi teks al-Qur’an, sehingga dari pertimbangan tersebut ia pun menghasilkan keyakinan bahwa al-Qur’an meminjam ajaran Yahudi.

Penulisan dan kompilasi al-Qur’an juga dimanfaatkan oleh kaum orientalis untuk menyerang teks al-Qur’an. 

Beberapa kritik orientalis mempertanyakan, mengapa Umar masih merasa khawatir mengenai banyaknya para huffadz yang wafat di perang Yamamah dan terdapat kemungkinan lenyapnya al-Qur’an ini perihal kematian mereka, jika al-Qur’an sudah ditulis sejak zaman Nabi Muhammad saw?

Kritikan para orientalis disini dikarenakan kedangkalan ilmu yang mereka miliki, sehingga mereka dapat lebih mudah berasumsi seperti itu tanpa memperhatikan sejarah asal-usul al-Qur’an yang lebih akurat.

Kritik yang diutarakan oleh Theodor Noldeke mengenai susunan al-Qur’an yang sangat tidak sistematis, menjadi latar belakang mengapa ia dapat berasumsi bahwa al-Qur’an itu bukan berasal dari Tuhan melainkan dari manusia.

Noldeke adalah salah satu tokoh orientalis yang mencoba menyusun surat-surat al-Qur’an lebih kronologis. 

Setelah penyusunan al-Qur’an secara kronologis ia selesaikan, ternyata mengundang pro dan kontra dari kalangan orientalis sendiri.  

Karya Noldeke ini mendapat banyak pujian, karena karyanya telah dijadikan rujukan dan standarisasi utama studi al-Qur’an. 

Richard Bell (orientalis) mengomentari karya Noldeke karena ada beberapa bagian surat yang telah ia susun tetapi tidak sistematis. 

Noldeke termasuk kelompok orientalis yang kontra dengan ke-orisinalitas dan ke-otentisitas al-Qur’an, oleh karena itu mengapa ia sepakat dengan asumsi Abraham Geiger bahwa al-Qur’an itu meminjam ajaran Yahudi.

Sikap terhadap Orientalis

Setelah pemaparan mengenai orientalisme, asumsi-asumsi dasar, tujuan orientalis, serta upaya-upaya dasar yang mereka gunakan untuk menghancurkan Islam, baik berupa penerbitan buku-buku, jurnal ataupun berupa terjemahan al-Qur’an. 

Dalam benak kita pasti muncul pertanyaan, akankah kita diam saja ketika orientalis mulai menggerogoti dan ingin menguasai kajian ilmu pengetahuan kita? Apa yang harus kita lakukan untuk menyikapi upaya orientalisme?

Pelajaran yang mungkin perlu diambil dari orientalis bukan dari kajian ketimurannya, melainkan dari sikap kritis para orientalis dalam menganalisis suatu hal yang bertentangan dengan pemikiran mereka. 

Sebagaimana yang telah diketahui karya tulis mereka lebih berkualitas, dari sinilah umat Islam juga perlu meningkatkan kualitas karya tulis terutama di bidang keagamaan, sehingga informasi-informasi Islam semakin berkualitas dan lebih akurat. 

Lebih pentingnya lagi penggunaan bahasa sangat perlu diperhatikan, terutama ketika merespon orientalis dalam sebuah tulisan, bahasa yang kita gunakan harus sopan dan sesuai kaidah penulisan ilmiah, sehingga audience pun akan menerima informasi tersebut dengan sangat bijak, tak terkecuali perdamaian dikalangan semua pihak pun akan terjalin dengan sendirinya.

Daftar Pustaka

Al-A’zami, Muhammad Musthafa. 2014. Sejarah teks al-Qur’an dari Wahyu sampai Kompilasi. Jakarta: Gema Insani

Amal, Taufik Adnan. 2011. Rekontruksi Sejarah al-Qur’an. Jakarta: Muslim Demokratis

Rauf, Hasan Abdul. 2007. Orientalisme dan Misionarisme Menelikung Pola Pikir Umat Islam. Bandung: Remaja Rosdakarya

Saeed, Abdullah. 2016. Pengantar Studi al-Qur’an. Yogyakarta: Baitul Hikmah Press

Said, Edward W. 2010. Orientalisme: Menggugat Barat dan Menduduki Timur sebagai Subjek. Yogyakarta: Pustaka Pelajar