Sekali lagi, kaki ini getir menginjakkan kaki di gapura yang bertuliskan Selamat Datang Para Pendaki, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Perjalanan yang tidak hanya special namun juga spiritual bagi saya. mengenal seorang sosok yang meninggal di antara bentang vegetasi ini sejak duduk di bangku SMA. Persona dirinya mengubah dan memengaruhi begitu banyak pilihan hidup saya.

Mengenalnya dari citra yang ditampilkan Nicholas Saputra ternyata daku tertipu beberapa tahun sebelum masuk bangku perkuliahan. Di masa-masa kuliah yang mengasyikkan itu, daku mulai lebih dalam mengenalnya, sosok yang cerewet dan suka bercanda namun galak dan bebas dalam berpikir. Daku tidak merasa kecewa karena perbedaan jauh karakter dengan filmnya. Daku malah semakin tertarik masuk ke dalam, lebih jauh.

Kini daku berada semakin dekat darimu, bahkan dari tempatmu pergi. 16 Desember, beberapa dekade lalu. Engkau lepas jasad yang tak seberapa itu, untuk tidur selamanya. Barangkali taka ada ragu kala itu bagimu, karena tugasmu di dunia telah usai. Telah berserakan bibit-bibit yang engkau bawa. Pemikiran, kami penyebutnya.

Begitu istimewa jalan yang dikau tempuh hingga matimu. Tak semua orang bisa dan mau hidup penuh siksa kegelisahan sepertimu. Hingga mati ditempat paling masygul untukgelisah, gunung. Menyatu bersama alam, sumber segala inspirasi puisi-puisimu.

Daku bukalah orang yang dekat dengan Tuhan, bahkan barangkali acap kali bertanya-tanya tentangnya. Namun, bertahun-tahun hidup dengan pertanyaan, tak pernah sekalipun daku berani berkelakar dan berseru pada orang lain bahwa daku ragu. Sampai akhirnya catatanmu yang berani itu benar-benar menghantam daku. Dikau katakana bahwa dikau adalah orang yang ragu dan mencari. Belum pernah ada yang seradikal itu dalam bacaanku kala itu.

Kaki ini sudah ada beberapa ratus langkah pertama. Bata-bata yang tak berbentuk sudah mulai menghilang. Keringat dan keringat mulai membalut badan bersama datangnya dengan gelisah yang semakin jelas ini. Semak ini mulai ganas, tumbuh menyesak dan membntuk labirin. Inikah jalan yang kau sempat pilih dulu, Gie? Jalan setapak di tengah belantara yang kau jadikan tempat pijakan puisi-puisi dan kegelisahanmu?

Kini kegeilsahanmu berbuah pergolakan pemikiran para kaum muda yang bergulat dengan ideal dan realitanya. Boleh jadi kau tersenyum di sana, atau boleh juga sekarang engkau menangis darah karena layer negara ini telah keok dimakan badai dan kini kami berlayar entah kemana.

Dikau pernah berucap bahwa tiada yang bisa merasakan kesedihan dan kegelisahan yang dikau rasakan. Sebuah pengakuan yang ditulis dengan getir dan memafestasikan pemikiran. Kalimat itu kini banyak menyuarakan kegilisahan orang-orang di sekitarku, lebih dari apa yang orang-orang Senayan bisa suarakan.

Aku teringat, katanya dulu dikau kirimkan gincu dan bedak pada kawan-kawanmu yang diminta duduk di Senayan. Keberanianmu sunggu membekas. Acap kali aku bertemu situasi sulit, ceritamu itu membawaku berani bertaruh bersama integritasku sendiri. Integritas yang aku kira hanya hidup di utopia-utopia kitab suci saja.

Tak terasa, di tanjakan-tanjakan pertama yang mulai menyempitkan jalan, Pos Pertama telah terlewati. Pikiran yang penuh dan berlebihan memang tak pernah baik. Di saat-saat inilah daku diderap ketakutan tentang akankah daku pulang dengan selamat atau tinggal nama. Sama sepertimu atau Aristides Katappo yang begitu gelisah di malam-malam sebelum dikau pergi, Gie.

Seluruh pendaki pasti percaya, ketakutan tak beralasan sebenarnya menyiratkan suatu hal yang lebih besar. Namun, mereka lebih tahu bahwa ketakutan itu lebih baik dilahap sendiri. Membaginya tak pernah dianggap bijak.

Setelah sekitar tiga jam berjalan dengan berbagai medan, sampailah daku di sebuah paronama tentang kedamaian, di mana tidak ada musuh untuk dibenci dan tidak ada waktu yang labih baik daripada sekarang, Ranu Kumbolo. Hamparan air yang menggenang dalam massa yang besar memberi kehidupan untuk sekitarnya. Begitu memilukan namun juga menenangkan. Inikah keindahan yang dikau nikmati juga, Gie? Samakah lekuknya dengan puluhan tahun lalu?

Tak bisa berlama-lama di sini, kami harus segera menanjak lagi. Namun jalur yang kami lewati harus berpisah dengan jalur yang engkau tempuh sesaat sebelum daku pergi. Jalur Ayak-Ayak terlalu berbahaya untuk manusia-manusia modern yang manja sepertiku. Sampai jumpa lagi di Arcopodo, Gie!

Kadang dalam perjalanan menuju Kali Mati dan Arcopodo, aku bertanya mengenai dari mana datangnya nama-nama mereka. Nama-nama tempat yang begtu magis ini. Cemoro Kandang yang gelap dan sunyi menyambut setelah hamparan bunga ungu di Oro-Oro Ombo menenggelamkan. Tentu tidak sulit untuk menerka-nerka apa maksud Cemoro Kandang. Namun perjalanan setelah itu, kami bertemu dengan berbagai tempat dan nama yang otak ini tak sempat lagi menerka karena energi terkuras untuk memroduksi peluh. Seberapa besar makna yang ingin disampaikan nama-nama itu, pertnyaanku lagi, hingga daku teringat ksiahmu, kembali.

Aku juga kerap getir mendengar kisahmu yang tak ingin berganti nama. Nama Tionghoa yang kau dapat tak akan merubah keindonesiaanmu, percayamu. Tak perlu ada yang ragu akan hal itu. Mengutip Shakespeare, apalah arti sebuah nama.

Baca Juga: Menemukan Gie

Enam jam lamanya hingga sampailah kami di Kali Mati, tempat para pendaki berkumpul dan mendirikan tenda sebelum mengenal kejamnya puncak Mahameru. Kami tak sanggup untuk melangkah lagi ke Arcopodo. Malam yang kami salahkan karena kelemahan kami, ditambah lagi abu vulkanik juga sudah turun, berbahaya. Sesekali, hal-hal seperti abu yang begitu kecilnya membuat daku takut akan mati, padahal datang ke sini saja harusnya sudah ikhlas untuk tak kembali pulang. Begitu munafiknya diri ini, rasanya.

Kami bangun tenda dengan tenaga yang tersisa. Sekaligus kompor dan makanan segera diolah, tak lupa nasi ditanak, maklum orang Indonesia masih butuh sensasi kenyang untuk berenergi. Setelah semua itu, kami jatuh tertidur, tak susah karena lelah seharian sangat membantu menggiring kami ke dalam ruang-ruang hampa mimpi.

Namun, daku masih saja terjaga meski sudah berbalut sleeping bag dan dihimpit teman seperjuangan demi saling menghangatkan. Pikiranku kembali padamu, Gie! Seorang sosok yang multidimensional. Setiap orang bisa mengaguminya dengan berbagai pendekatan, romatik, aktivisme, atau seorang yang kesepian disepanjang hidupnya.

Tak terasa ternyata waktu bergelincir hingga pukul 01.00 pagi sudah. Kami bangun dan bersiap untuk potongan cerita yang paling mistis, spiritual dan kejam, puncak Mahameru. Perjalanan sudah memakan setengah napas kami di awal-awal karena debu vulkanik dan tanah bercampur baur dengan tertawanya setan-setan melihat anak manusia banyak gaya seperti kami. Jalan semakin menanjak. Lama semakin lama, tanah yang keras sudah tidak terasa di kaki kami, hanya pasir dan pohon cemara sebagai tempat berpegang.

Beberapa jam setelah memulai, daku mulai menyesal. Lelah dan peluh memprovokasi untuk berkata sudahlah, kembali saja! Naik gunung memang benar-benar mental, fisik hanyalah faktor pendukung. Namun aku ingat pesan-pesanmu tentang mengapa mahasiswa harus naik gunung.

Di dalam suratmu 15 Juli 1969 untuk Karini, cintamu yang kandas, dikau menuliskan bahwa masa-masa kuliah ini Cuma sebentar, mengapa tidak menjalani hidup yang ramai dan sedikit petulangan sebagai mahasiswa. Dengan peluh yang membasahi muka hingga menetes ke pasir-pasir itu, daku ingat mengapa daku di sini. Bersama kantuk yang menderu bak kuda Troya dalam perang, daku bangkit dan melangkah lagi dan lagi.

Kini taka da lagi pohon cemara terakhir. Rupa-rupanya daku telah melewati vegetasi terakhir. Sekarang hanya ada pasir dan bahaya akan datangnya batu yang menggelinding dari atas menghantam kepala hingga remuk. Tidak ada pilihan untuk tidur meski nikmatnya tiada tara.

Rahang daku mulai mengeras, marah rasanya karena tidak sampai-sampai. Lelah perkara selanjutnya namun istirahat secukupnya karena bisa-bisa duduk berlebih berujung tidur dan mati. Sekarang daku tak bisa lagi berdiri dengan dua kaki daku. Merangkak daku bak binatang. Tiga kali tubuh ini merangkak ke atas, satu kali pasir membawaku turun lagi ke bawah.

Jangan-jangan di sinilah dikau mulai memikirkan mereka yang diperlakukan bak binatang oleh negaranya sendiri. Teringat kisahmu melihat seorang malang yang benar-benar malang, memakan kulit mangga dari tong sampah. Ia dan sampah itu hanya dua kilometer dari istana negara, tempat Soekarno dan istri-istrinya berpesta. Dikau geram dengan semua itu. Dikau lawan Soekarno yang dikau tubuh menghianati kemerdekaan.

Dikau juga adalah manusia dengan prinsip. Kemanusiaan adalah di atas segalanya bagi dikau. Seberapa besar dikau anti-komunisme dan manifestasinya dalam bentuk PKI, namun pembantaian orang-orang yang berafiliasi dengan mereka, dikaulah salah satu orang pertama yang menentangnya. Sebuah prinsip kemanusiaan yang lebih penting dari menang-kalah ideologi.

Di sini, di antara entah berantah, berlakon bak binatang yang tak sanggup melangkah dengan dua kakinya. Daku mulai mengerti mengapa dikau menyerukan untuk naik gunung. Kadang kami lupa mengenai kemanusiaan dan hubungannya dengan menjadi menusia. Kadang kami terlalu egois atas segala hal yang membantu diri menjadi lebih unggul dari lainnya. Dengan ini dikau ingatkan kami!

Berjam-jam kami harus berjalan dengan kaki dan juga tangan menapak di pasir yang panas itu, sampailah kami di titip tertinggi pulau Jawa. Di sinilah tempatmu pergi dan tidak kembali. Meinggalkan kami dengan catatan-catatanmu yang abadi.

Semua tampak kecil di sini. Begitulah kiranya Tuhan melihat kita di dunia, makhluk lupa ukuran yang congkak bin angkuh. Horizon sudah merekah penuh warna. Di kejuahan terlihat Bromo dan hamparan hutan. Indonesiaku begitu indahnya dan juga rapuh. Negara ini terlalu berharga untuk tergadai akan kepentingan-kepentingan golongan sesaat. Terlalu luas untuk ambisi dan ego kita yang sempit. Terlalu kaya untuk merasa rakus dan miskin.

Gie tak perlu menjelaskan panjang lebar mengenai kepana gunung adalah pilihan terbaik untuk kembali memanusiakan diri sendiri. cukup lakukan dan jawaban akan berjodoh dengan para pendaki yang merenung. Aku terduduk, tak ada niatku untuk mengabadikan ini, karena sebenarnya hanya pemikiranlah yang benar-benar abadi. Pemikiran akan tetap menjalar dari satu orang ke orang lain. Memengaruhi hidup si sat uke satu yang lain. Itulah sosok Gie yang abadi dalam pemikirannya yang berani, polos dan jujur.

Omong-omong, dahulu di catatanmu, dikau pernah mengutip seorang filsuf Yunani tentang kematian. Sebenarnya itu adalah pandangan Friedrich Wilhelm Nietzsche, seorang filsuf Jerman. Tak disangka, pandangannya bahwa nasib terbaik setelah tidak dilahirkan adalah mati muda dan yang paling sial adalah mati di usia tua, menjadi nasibmu. Tepat di sini, pusaramu, Gunung Semeru.

“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”

Soe Hok Gie