5 Agustus 2018, Lombok Utara diserang gempa berkekuatan 7 skala richter. Gempa ini cukup menghancurkan tempat tinggal warga di sana sampai rata dengan tanah. Lalu pemadaman listrik pun membuat warga menjadi resah karena gelapnya malam.

Gempa ini tak terjadi hanya sekali, namun berkali-kali. Sebelumnya, tanggal 29 Juli 2018, Lombok juga diserang gempa dengan kekuatan yang lebih kecil, yaitu 6,2 skala richter dan disusul dengan gempa susulan lainnya dengan skala yang lebih kecil.

Banyak tempat tinggal warga yang hancur: tempat penginapan, tempat ibadah, terutama masjid, banyak yang roboh dan rata dengan tanah.

Banyak warga yang menggelar tenda di depan rumah mereka, bahkan sebagian tidur di lapangan umum terbuka, meninggalkan rumah demi keselamatan diri. 

Tak sedikit korban yang berjatuhan di jalan raya. Banyak korban yang jatuh saat berkendara lalu tertimpa motor, banyak yang tertimpa bangunan masjid saat mereka sedang melakukan salat. Selain itu, banyak pula keluarga yang merasakan kesedihan mendalam akibat ditinggalkan oleh anggota keluarga mereka.

Para korban yang mengalami luka ringan maupun berat, dirawat di rumah sakit atau posko dengan bantuan para dokter yang didatangkan dari pulau seberang. Rumah sakit sendiri tidak berani membawa pasiennya ke dalam karena takut akan terjadi gempa susulan yang akan membuat para pasien semakin tidak tenang dan cemas. Seluruh rumah sakit membuat tenda di luar gedung demi keamanan para pasien yang dirawat.

Beberapa bantuan dari pulau seberang dan warga Lombok sendiri juga berdatangan. Banyak yang menyumbang uang, tikar, selimut, pakaian pantas pakai, obat-obatan, alat medis, dan masih banyak lagi.

Ada beberapa dampak yang diakibatkan oleh gempa, salah satunya adalah kurangnya pasokan air bersih. Sumber mata air seperti Narmada menjadi keruh untuk beberapa hari. Lalu produksi air minum Narmada pun terhambat akibat keruhnya mata air.

Selain itu, beberapa akses jalan mengalami longsor seperti di daerah Pusuk, jalan menuju Lombok Utara dan Sembalun, terhambat.

Lalu dampak lainnya adalah ekonomi di Lombok menurun drastis. Pemasukan berkurang, bahkan berhenti, apalagi untuk para pengusaha besar seperti hotel dan mal, karena orang tidak berani berlama-lama di mall.

Masalah lain adalah tersebarnya isu bahwa sudah terjadi tsunami yang mengakibatkan para warga yang tinggal di dekat pantai harus meninggalkan rumah mereka dengan perasaan yang gelisah dan cemas. Selain itu, banyak yang menyebarkan isu bahwa akan terjadi gempa yang lebih besar lagi, membuat keresahan warga semakin menjadi-jadi.

Isu-isu tersebut digunakan oleh para pencuri untuk memasuki rumah-rumah warga dan mengambil barang-barang berharga dari sana. Tidak hanya 1 karung barang yang mereka ambil, malah sampai beberapa truk yang mereka dapatkan dari rumah warga yang ditinggal untuk mengungsi. 

Bukankah ini suatu perbuatan yang melenceng? Bukankah seharusnya mereka merasa simpati dan empati? Terutama pada keluarga yang ditinggalkan oleh anggota keluarganya, lalu mereka harus kehilangan barang berharga mereka juga?

Di sinilah perubahan sosial terjadi secara eksternal. Warga yang harus menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada agar memampukan mereka untuk bertahan hidup. Bencana alam yang memicu mereka untuk melakukan hal-hal yang melenceng dan membuat warga lainnya semakin resah akibat adanya maling.

Para warga harus berusaha menyesuaikan diri. Tak memandang lagi derajat, tak ada lagi yang di atas atau di bawah karena semuanya sama dan harta tak berarti apa-apa.

Kalau sudah begini, siapa yang salah? Siapa yang disalahkan? Apakah kita menyalahkan Tuhan jika terjadi seperti ini?

Lalu pada hari Minggu, 19 Agustus 2018 kembali terjadi gempa berkekuatan 6,9 skala richter dengan gempa susulan yang skalanya tidak kecil namun tak berpotensi tsunami. Hal ini pun membuat warga yang sudah merasa aman kembali terancam dan harus selalu menyiapkan diri jika ada gempa susulan datang.

Kesimpulan saya di sini, tidak ada yang tahu mengenai bencana alam. Tidak ada yang harus disalahkan dan tidak ada yang salah.

Justru dengan adanya bencana alam, kita mengintrospeksi diri dan mengingat apa saja perbuatan yang kita lakukan selama ini sehingga kita dapat melakukan pertobatan.

Tetap saling membantu dan saling toleransi. Tidak membeda-bedakan ras, suku dan agama, karena kita harus bersatu demi Lombok bangkit!

Kita harus mengembalikan rasa persatuan dan kesatuan kita, saling berjabat tangan dan mengulurkan tangan kita untuk membantu sesama kita yang membutuhkan uluran tangan kita.

Kita harus mengembalikan keindahan Lombok yang tidak diketahui oleh banyak orang. Kita harus mengembalikan slogan: "Jangan ke Lombok, nanti tidak mau pulang."

Orang-orang harus melihat betapa indahnya pulau Lombok ini, dengan pantai yang indah apalagi saat matahari terbenam. Masih banyak lagi hal-hal yang indah di pulau Lombok ini.