Siswa SMA Tunas Daud
5 bulan lalu · 87 view · 4 menit baca · Gaya Hidup 60599_85466.jpg
nadiykassim.wordpress.com

Masa Kecil dan Kebersamaan yang Berharga
Television Never Dies

Ada sesuatu pada kenangan yang mengajak kita untuk kembali kepadanya: keseruan menonton televisi bersama keluarga.

Bila kita melihat perkembangan keluarga yang memiliki televisi sekarang ini dengan kondisi di tahun 2000-an, pastilah sangat berbeda. Saat itu, hanya beberapa keluarga yang memiliki televisi. Juga jumlah stasiun televisi tak seramai seperti sekarang ini. Hanya beberapa. TVRI, SCTV, RCTI, TPI, dan Indosiar misalnya.

Karena hanya beberapa keluarga yang memiliki televisi, tentu saja rumah yang memiliki televisi selalu ramai dengan kedatangan tetangga. Tayangan favorit bersama tentu saja kartun maupun olahraga seperti sepak bola maupun bulu tangkis. Dan hanya orang dewasa yang menonton pertandingan tinju.

Di era modernisasi seperti sekarang, keadaan televisi diganggu oleh smartphone. Kebanyakan orang menghabiskan waktu dengan smartphonenya daripada bersama keluarganya. Bukankah makan bersama keluarga dengan menonton televisi lebih baik daripada dengan smartphone? Malahan kita bisa makan dengan khusyu’ kedua tangan memegang alat makanan ditambah dengan keseruan apabila menonton Asean Games misalnya.

Ketimpangan sosial seseorang warga maupun bencana alam melalui sorotan kamera televisi juga bisa menjadi topik yang hangat bersama keluarga. Tentunya berujung pada kesadaran dan pergerakan warga untuk mau membantu. Dan membuat kita harus selalu bersyukur dengan keadaan yang kita alami sekarang. Karena kita tahu bahwa kita masih dapat menikmati televisi bersama keluarga sedangkan masih ada orang lain diluar sana yang bahkan tak memiliki tempat untuk berteduh.

Televisi tentu menjadi sarana hiburan keluarga. Karena dalam menikmatinya, bisa mendapatkan quality time untuk lari sejenak dari kepenatan dunia masing-masing. Memang acara televisi Indonesia sekarang banyak diisi oleh FTV, Reality Show maupun Talk Show yang tak memberikan banyak faedah yang baik. Bukankah dengan begitu dapat melatih untuk bisa berpikir kritis menanggapi acara tersebut? Menerima masukan dan pendapat dari anggota keluarga dan malah kita bisa tahu kekurangan yang harus diperbaiki stasiun televisi Indonesia.

Televisi juga menampilkan informasi teraktual yang penting kita ketahui. Masalah korupsi, kolusi, nepotisme misalnya. Juga kehidupan para artis yang beritanya selalu bisa menjadi menjadi buah bibir emak-emak yang sedang menunggu anaknya pulang sekolah. Walaupun berita di televisi disaingi dengan mencari berita langsung di internet, tentu saja tak seasik berebutan remote untuk mencari berita siapa yang harus di explore terlebih dahulu.

Menonton televisi memang memberikan dampak yang sangat berarti bagi lapisan masyarakat. Memberikan kenangan masa kecil misalnya. Siapa yang rela bangun pagi pada hari minggu hanya untuk menonton kartun kesayangannya? Siapa yang dengan bangga menceritakan episode kartun kepada temannya ketika mereka ketinggalan episode? Siapa yang bahkan rela berkelahi hanya untuk memperebutkan posisi Power Rangers merah?

Namun, entah mengapa KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) menghilangkan banyak sekali progam kartun tersebut dari stasiun televisi Indonesia. Kalau pun tak dihilangkan, mereka menyensor bagian-bagian tubuh maupun adegan yang mereka anggap tak senonoh.

Bukankah kalau adegan-adegan tubuh tersebut di sensor, malahan membuat timbulnya rasa ingin tahu? Apakah nikmatnya menonton adegan pertarungan Naruto yang tak sampai sedetik saja? Juga adegan darah disensor menjadi hitam putih, apa nikmatnya warna hitam putih di era televisi berwarna?

Kalau sudah begitu, cara paling mudah untuk menonton kartun ataupun anime adalah di internet. Tapi tetap saja, kartun dengan dubbing bahasa Indonesia lebih menggema di hati.

Atau akumulasi saja uang yang harus di habiskan ketika menonton di internet melalui warnet ataupun melalui smartphone pribadi. Bukankah akan lebih mahal ketimbang membayar televisi langganan? Dan juga maybe it’s okay jika menonton secara streaming, bagaimana jika di-download, menghabiskan banyak ruang penyimpanan, bukan?

Tapi sebenarnya yang terjadi bukanlah menonton kartun maupun anime, malah menonton porno dalam kategori kartun atau yang dikenal dengan hentai. Malah akan lebih berbahaya menonton langsung di internet.

Soal tontonan dan perilaku manusia kerap dianggap punya hubungan. Maksudnya begini, di Indonesia beberapa orang beranggapan bahwa anime sebagai konten pornografi atau, lebih konyol dari itu, dianggap sebagai pornografi anak. Menonton anime dicap sebagai paedofil maupun pelaku penyebaran konten porno yang akhirnya berujung pada pemerkosaan anak dibawah umur. Tapi yang jelas ini tidak membenarkan anime berisi hal-hal berbau pornografi.

Tapi, salahnya suka anime apa? Ini seperti terkena tuduhan maling karena jago Pencak Silat. Lantas kalau jago Pencak Silat, apakah jadi alasan seseorang untuk maling? Kan tidak. Malah labelling tak penting seperti ini menjadikan masalah lebih rumit dari yang seharusnya.

Emang iya, begitu? Tentu semua bisa dibantah. Dalam konteks Indonesia, kekerasan terjadi ya karena kemiskinan, minimnya edukasi, dan mudahnya mendapatkan senjata api. Senjata api bisa di beli di online shop, kan?

Kalau setiap tontonan punya pengaruh langsung pada perilaku seseorang, harusnya dunia damai. Bagaimana tidak, setiap Jumat dan Minggu umat pergi ke rumah ibadah, bertemu agamawan dan mendengar khotbah tentang kebaikan. Nyatanya, dunia tidak serta-merta jadi lebih baik

Namun tetap saja modernisasi tak dapat dihindari. Kebersamaan dalam menonton televisi tergantikan smartphone yang dalam penggunaannya hanya sendiri-sendiri. Kebersamaan tersebut hilang oleh kesendirian yang berhakiki. Asik dengan dunianya sendiri. Kalau pun tak sendiri, pasti sedang bermain Fruit Ninja.

Waktu boleh terus melaju, teknologi boleh tak berhenti berkembang, status boleh naik dari jomblo ke akut, majalah boleh berganti dari Bobo ke majalah kelinci yang lain, tontonan boleh berganti dari Naruto ke MV Blackpink, tapi tetap saja kebersamaan tak boleh fana dan harus terus di rawat. Karena kelak kita akan jauh dan tak lagi tinggal bersama ayah, ibu, maupun kakak dan adik kita lagi.

Bagaimanapun juga, menonton televisi jangan menjadi candu, hingga lupa akan dunia yang harus dijalani.