Tahun ajaran baru akan segera dimulai. Calon mahasiswa baru tengah mempersiapkan diri, mulai dari membeli sepatu yang trendy, memilih pakaian yang stylish layaknya orang-orang borjuis, hingga keperluan logistik yang tak bisa dinafikan adanya. Tapi ada satu hal yang harus mereka pelajari sebelum memasuki dunia kampus, yaitu OSPEK dan segala permasalahan di dalamnya. 

OSPEK merupakan fase awal bagi mahasiswa baru, katanya. OSPEK adalah singkatan dari Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus yang berdasarkan keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 25 tahun 2014. Tujuan umumnya untuk memberikan pembekalan kepada mahasiswa baru agar dapat lebih cepat beradaptasi dengan lingkungan kampus, khususnya kegiatan pembelajaran dan kemahasiswaan. 

Berdasarkan keputusan tesebut, pelaksanaan OSPEK hanya boleh dilaksanakan dalam rentang waktu dua hingga empat hari, terhitung mulai dari pukul 07.00 pagi dan berakhir pada sore hari pukul 17.00, dengan memberikan materi-materi yang telah dirumuskan meliputi :

  • Wawasan kebangsaan
  • Pendidikan tinggi di Indonesia
  • Kegiatan akademik di perguruan tinggi
  • Pengenalan nilai budaya, tata krama dan etika keillmuan
  • Organisasi dan kegiatan kemahasiswaan
  • Layanan mahasiswa
  • Persiapan penyesuaian diri di perguruan tinggi

Berdasarkan keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 38 tahun 2000, dinyatakan bahwasanya pengenalan terhadap program studi dan program pendidikan di perguruan tinggi hanya boleh dilaksanakan dalam rangka kegiatan akademik oleh pimpinan perguruan tinggi. Maka, seluruh kegiatan yang tidak ada hubungannya dengan kegiatan akademis, bersifat ilegal. 

Meskipun sudah terdapat beberapa regulasi yang mencegah adanya bullying dalam OSPEK, tapi praktik tersebut masih terus berlangsung. Sejak tahun 1995, kasus OSPEK mulai diliput media karena menelan banyak korban. 

Kasus terbaru di salah satu Universitas di Manado. Beredar video yang mempertontonkan para mahasiswa baru yang terdiri dari laki-laki, sedang terlentang di tanah dan kepala mereka bertumpu sambil menggosokan pada bagian paha mahasiswa lainnya. Menurut keterangan lain, mereka bukan hanya menggosokan kepala ke bagian paha, tapi mereka melakukannya ke bagian kemaluan juga. Hal ini menuai banyak kritikan dari publik karena kasus tersebut merupakan tindakan asusila.

Berdasarkan keterangan di atas, menurut penulis setidaknya ada tiga hal yang harus dihapus dari OSPEK.

1. Berhenti mendidik seseorang untuk menaruh rasa hormat terhadap orang lain.

Berhenti mengajarkan seseorang untuk menghormati orang lain, apalagi untuk mengajarkan seseorang menaruh respect pada setiap orang. Jika kita melihat Oxford dictionary atau Merriam-Webster, kita bisa mengetahui apa yang dimaksud dengan respect.

Respect adalah perasaan mengagumi seseorang karena karakteristik atau achievement yang mereka miliki. Hal ini sangat sesuai dengan apa yang difatwakan oleh Jordan Bernt Peterson seorang psikolog dari Kanada dalam salah satu lecture-nya yang menyatakan bahwasanya sangat keliru apabila kita memberikan rasa hormat kepada semua orang, hanya karena kita mengatakan peradaban manusia akan bergerak menuju arah yang lebih baik jika kita menghormati satu sama lain. 

Peradaban manusia sejatinya akan maju dan akan tetap maju jika kita menghormati orang yang pantas dihormati. Kalian tidak menghormati secara random, apa gunanya hormat jika kita menghormati seseorang secara random? Ini seperti nilai mata uang yang tidak berarti ketika uang terlalu banyak yang beredar (inflasi). 

Menghormati semua orang hanya membuat kehormatan menjadi tidak bernilai. Rasa hormat seharusnya hanya terbatas untuk beberapa kategori orang yang pantas dihormati (karena sifat, pencapaian, perbuatan, dll). Jadi, apa yang dimaksud dalam ruang wacana akademik kita sebenarnya adalah sopan santun di antara orang-orang, dan itu bukanlah rasa hormat. Penggunaan definisi di sana amatlah penting. Respect is earned not given

2. Berhenti mengubah kepribadian atau sifat mahasiswa baru.

Di hampir semua universitas yang melaksanakan OSPEK, khususnya di Indonesia, terdapat  KOMDIS (Komisi Disiplin) atau setara dengan divisi keamanan dan ketertiban yang bertujuan untuk mendisiplinkan mahasiswa baru dan mengajarkan nilai-nilai atau karakter maupun kepribadian yang seharusnya dimiliki oleh mereka. 

Hal yang dilaksanakan oleh KOMDIS tersebut amatlah naif dan omong kosong. Berdasarkan observasi yang dilaksanakan oleh psikolog dari University of Illinois, Amerika Serikat, Nathan W. Hudson dan Brent W. Roberts, mereka menemukan banyak orang-orang yang ingin mengubah kepribadian ataupun karakteristik dari diri mereka sendiri. 

Dalam observasi tersebut, mereka juga menyadari bahwa mengubah kepribadian seseorang itu teramat sulit. Meskipun selama empat bulan mereka menyediakan psikolog untuk membantu mengubah kepribadian para participant, tetapi sulit untuk mencapai perubahan yang signifikan. Maka dari itu, sangatlah naif apabila kita mempercayakan para senior kampus yang tidak memiliki keahlian di bidang psikologi, untuk mengubah kepribadian atau sifat dari juniornya dalam waktu dua hingga empat hari.

3. Tidak mewajibkan OSPEK kepada mahasiswa baru.

Di banyak kampus, OSPEK menjadi syarat mutlak apabila kamu ingin aktif dalam kegiatan kemahasiswaan. Bahkan, salah satu syarat kelulusan harus memiliki sertifikat OSPEK. Menurut penulis, ini absurd karena tidak sesuai dengan dunia akademis itu sendiri. Setiap mahasiswa dan sivitas seharusnya dinilai berdasarkan kemampuan, ESQ ataupun tindakan yang pernah ia lakukan, bukan berdasarkan ospek. 

Mewajibkan OSPEK tidak akan mengajarkan rasa tanggung jawab pada mahasiswa, karena seharusnya setiap mahasiswa bertanggung awab terhadap diri dan tindakannya bukan karena paksaan. Ini menjadi alesan kegiatan OSPEK di luar negeri bukan suatu hal yang wajib.

Jadi, buat kalian yang kini menjadi panitia OSPEK maupun calon mahasiswa yang akan mengikuti OSPEK, jangan jadikan kegiatan OSPEK sebagai alat untuk melestarikan budaya feodal. Kalau bisa, kegiatan OSPEK sebaiknya dihapuskan saja dari sistem pendidikan Indonesia.