Cerpenis
4 bulan lalu · 160 view · 4 menit baca · Pendidikan 70108_63452.jpg

Jasa Kertas Bagi Peradaban Kita

Memandang kertas yang pipih, polos, layaknya kita memandang sebuah ruang kenyataan. Karena kertas itu sendiri, telah membantu kita untuk menyatakan sesuatu.

Sebab bentuk kertas yang pipih--kertas yang lebih kita kenal bentuknya sebagai wadah tulis ini--kita dapat mengerti sebuah gagasan, sikap dan ide-ide seorang tokoh atau ilmuan. Kertas-kertas yang pipih ini kemudian bersampul menjadi buku. Pada buku inilah, kertas-kertas yang pipih ini tidak lagi sekedar barang murah yang sekali basah bisa hancur dan sekali terkena api menjadi lenyap terbakar.

Sebab ceruk kertas, sebagai wadah yang menampung ide dan penemuan, ia dapat menjadi cukup mulia, sebagai bahan pokok tebing-tebing yang mencegah runtuhnya peradaban besar, yakni baca dan tulis, yang telah menjadi kunci bagi lahirnya peradaban-peradaban pengetahuan.

Sejak era 2000-an, alat canggih sekelas gadget dan laptop tampil semarak sebagai yang melampaui kertas sebagai ruang hidup peradaban tulis dan baca--sekaligus menandai perkembangan zaman yang niscaya. Alat canggih tersebut kemudian mereduksi wujud dan nilai kertas sebagai kenyataan atau lokus literasi yang faktual. Seiring itu, transaksi surat-menyurat mulai beralih pada sistim-sistim berlayar melalui jaringan.

Dengan munculnya kecanggihan baru ini, seseorang sudah dapat mengakses alat tulis-baca atau teks-teks hanya di telepon genggam dan laptop, tanpa menyentuh kertas sama sekali. Tetapi sungguh terlalu naif bila itu telah dianggap sebagai pengganti kertas. Sebab bagaimana pun, kenyataan kertas sungguhlah lain dengan kenyataan jaringan di layar-layar komputer dan handphone.

Selain itu pula, beberapa temuan sederhana yang cukup mengkhawatirkan, bahwa layar-layar yang kita pandang hari ini di tangan, di kamar, di ruang kerja, tidak dapat terlalu dimaksimalkan karena mengganggu kesehatan mata. Tentu, di sini, kembali pada kertas sebagai wadah tulis dan baca adalah sama dengan menemui wujudnya sebagai kenyataan lain: ia menurunkan resiko gangguan mata, selain pula sebagai lumbung peradaban literasi.


Dibandingkan kertas, alat tekhnologi yang saya sebut di atas sebetulnya sekedar alternatif atau tool to paper. Komputer atau handphone pada dasarnya sekedar alat menulis, sedang membentuknya menjadi nyata adalah hak kertas itu sendiri.

Jauh dari itu, mengembalikan nilai dan posisi kertas pada hari ini, sama saja mencegah keteledoran-keteledoran yang selalu mungkin terjadi. Di bagian ini, kita mesti menyadari bahwa kemudahan akses baca tulis melalui alat digital tidak serta-merta membantu mudahnya manusia terangkat dari kebodohan dan tindakan menyimpang, karena fitur-fitur menulis dan membaca bukanlah yang utama pada alat semacam gadget. Apalagi, layar-layar bukanlah bentuk khusus yang dapat menyatakan sesuatu layaknya kertas-kertas.

Selanjutnya, munculnya aplikasi WPS Office atau yang sejenisnya di gadget memang memudahkan seseorang untuk menulis, tetapi tidak ada yang pernah puas hanya dengan nampak di layar kaca yang sedemikian rupa. Seolah belum ada kenyataan atas itu. Layar tetaplah bukan kenyataan. Layar sekedar ruang maya. Layar sekedar ruang lain dari hidup yang nyata. Dan dari penegasan wujud layar yang terlampau terkesan semacam ini, tidak dapat dipungkiri bahwa peradaban akan tetap butuh dan akan terus berlangsung konkrit di jalur kertas.

Di kampus, seorang dosen tidak dapat menguji skripsi mahasiswanya hanya dengan menengok file di layar handphone atau komputer--walau bisa saja. Skripsi itu mesti dicetak, mesti memakai kertas, mesti dinyatakan atau dibuat nyata. Dan selanjutnya, melalui ruang kenyataan pada kertas, uji-uji gagasan dan keilmuan dapat dikoreksi dengan baik, sebab sebagaimana saya sebutkan di atas, kertas lebih dapat menyatakan sesuatu walau tidak lebih canggih dari layar-layar itu sendiri. Maka di sini, kecanggihan teknologi bagi peradaban kertas sekedarlah pengantar saja.


Wujud kertas sendiri adalah konkret. Jika saya membeli sebuah buku, maka buku-buku itu akan tampak struktur wujudnya, dapat dipegang, dan tanpa dapat diskip, ditindih, diendapkan dan seterusnya. Buku satu dengan yang lain tampak gagah di rak. Ini tidak sama sekali terlihat pada buku-buku dalam bentuk file. Jadi, alih-alih e-library memudahkan seseorang mengakses buku, tetapi pada dasarnya justru memberikan kesan memusingkan pada pembacanya. Sebab ia adalah abstrak, kabur struktur wujudnya, atau terkesan tidak langsung, tidak nyata. Maka dengan ini saya sebut, e-library sendiri, pada sebagian orang justru membuat dirinya malas untuk membaca sebab selain tidak enak dipandang dalam layar, juga tidak jelas wujud demi wujudnya.

Dan tentu, dan bahkan kalau boleh mengambil satu hipotesis; dunia layar digital ini justru adalah konspirasi besar untuk meruntuhkan prinsip-prinsip konkrit peradaban manusia. Prosesnya, mula-mula seseorang ditipu untuk tergiur pada kemudahan akses di layar-layar melalui jaringan dan alat. Kemudian dengan itu menjurus pada seperangkat promosi fitur-fitur di dalamnya. Dan seabrek hal di dunia ini kemudian--dipaksa--jatuh ke dalam bentuk yang abstrak dan lama kemudian semakin abstrak. Dan kita tahu, yang abstrak ini mudah kita lupakan, bukan? Dan dari sini, wujud peradaban menjadi semakin tidak jelas bentuknya. Di sinilah, kenyataan berpotensi akan berubah definisinya.

Jika boleh saya mengibaratkan, kertas adalah perempuan cantik yang sedang berada di hadapan saya dengan wujud dan struktur konkret, maka dunia layar, sama halnya dengan ingatan atau kenangannya saja soal perempuan cantik itu tadi. Dan perlu kembali lagi, bahwa kertas dapat lebih dapat menyatakan sesuatu, artinya, dapat menarik satu demi satu ke dalam bentuk yang lebih jelas dapat dilihat, dipegang, dianalisis, dicorat-coret dan seterusnya.

Di kalangan kawan-kawan penulis sendiri, ambisi memiliki buku yang berupa kertas-kertas itu teruslah disuarakan. Mereka tidak mau menerima wujud abstrak dari ide-idenya. Dalam hal ini tentu mereka tahu, bahwa ide-ide yang belum jatuh ke dalam bentuk kertas belum sama sekali dapat disebut kenyataan. Dan apalah artinya hidup tanpa kenyataan, ide tanpa jatuh ke teks di permukaan kertas?


Maka dari itu, kiranya perlu saya tegaskan untuk mengakhiri tulisan ini, kertas bukan sekedar yang tipis dan polos, yang dapat dilumat-lumat, disobek, dijadikan bungkus kacang, dijadikan alas untuk tidur di lantai yang dingin, atau untuk membungkus diri dari gigitan nyamuk di musim hujan. 

Jauh darinya, kertas adalah saksi mata bagi peradaban, saksi mata bagi sejarah, saksi mata bagi penemuan-penemuan dan itu sudah cukup lama berlangsung dalam kenyataan hidup kita. Dan menurunnya pemakaian kertas sebagai alat menyatakan sesuatu, kira-kira dapat ditunjuk sebagai merosotnya prinsip-prinsip, saksi-saksi mata, dan lain sebagainya. Dan apakah memang ada manusia yang ingin kehilangan kenyataan hidupnya?

Artikel Terkait