Konflik secara umum didefinisikan sebagai situasi dimana dua atau lebih aktor berjuang untuk mendapatkan sumber langka dalam waktu yang sama. Sumber langka tersebut dapat berupa sumber daya alam, kekuasaan, dominasi ideologi, serta nilai-nilai dan lain-lain. Oleh sebab itu, konflik merupakan gejala sosial yang seba hadir dalam kehidupan sosial, sehingga konflik bersifat inheren yang artinya konflik senantiasa ada dimana saja dan kapan saja.

Dalam berbagai literatur memang kita menemukan banyak uraian mengenai jenis konflik, salah satunya adalah konflik etnis. Konflik ini masuk ke dalam kategori konflik internal dengan melibatkan kelompok atau pihak tertentu yang berada dalam ruang lingkup kedaulatan negara. Menurut Anthony Smith, komunitas atau kelompok etnis adalah suatu konsep yang digunakan untuk menggambarkan sekumpulan manusia yang memiliki nenek moyang sama, ingatan social yang sama dan beberapa elemen kultural.

Konflik yang terjadi di perbatasan Myanmar dan Bangladesh sontak memberi respon beberapa negara di kawasan Asia khususnya Indonesia. Beberapa tindakan kemanusiaan yang dilakukan oleh Indonesia seperti diplomasi kemanusiaan telah diupayakan oleh Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi melalui dialog bersama beberapa organisasi internasional seperti organisasi pengungsi dan palang merah internasional. Akses kemanusiaan merupakan tujuan utama yang diajukan oleh Indonesia untuk membantu krisis kemanusiaan yang melanda etnis Rohingya.

Fenomena krisis kemanusiaan memang kerap kali terjadi di beberapa negara berkembang khususnya di benua Asia dan Afrika. Beberapa peristiwa yang kita ketahui sedang terjadi di kawasan benua Aftika seperti Ethiopia dan Somalia. Tak ayal beberapa negara terlihat sangat sibuk mengirimkan pasukan perdamaian ke negara tersebut. Ya, dengan tujuan membuat kemaslahatan manusia di bumi sejahtera dan makmur menjadi tujuan nutama pemimpin global yang ikut menemukan solusi masalah kemanusiaan yang semakin kompleks.

Lantas, apa yang terjadi di perbatasan Myanmar dan Bangladesh terhadap etnis Rohingya cukup berbeda. Pertama, etnis beragama Muslim yang tinggal di Arakan ini sedang mengalami krisis identitas. Betapa sulitnya Rohingya dalam mengakses kehidupan, baik itu dalam sektor sosial, ekonomi, bahkan politik. Hal ini terlihat dari beberapa peristiwa yang terjadi saat pasukan militer Myanmar memukul mundur ratusan ribu manusia yang tak berdosa ini. Lebih parahnya lagi, etnis Rohingya tidak diakui sebagai etnis yang ada di Myanmar. Belum lagi beberapa tokoh yang mendoktrin masyarakat Myanmar bahwa Rohingya akan mendominasi Myanmar dan akan mengislamkan seluruh elemen di negara berpenduduk mayoritas Buddha tersebut. Bagaimana ingin mengislamkan seluruh masyarakat Buddha, untuk minum saja mereka sulit.

Betapa miris kehidupan etnis Rohingya yang hidupnya seperti hewan lembu yang harus bermigrasi ke tempat aman menerjang cuaca yang tidak bersahabat. Belum lagi masalah perubahan iklim yang kita ketahui menjadi fenomena global saat ini. Krisis pangan sedang dialami oleh beberapa negara yang bertanah tandus seperti Afrika. Pekerjaan Rumah yang harus dikerjakan para pemimpin global terbilang masih banyak. Karena yang ditunggu oleh Rohingya ini adalah tindakan kemanusiaan dalam menghadapi krisis. Manusia adalah makhluk yang sangat berharga. Satu tewas maka kedaulatan negara juga sangat berpengaruh. Negara akan bertindak jika satu saja warganya tewas di negara lain, maka negara tersebut harus bertanggung jawab atas kematiannya.

Yang menjadi permasalahannya adalah bagaimana Rohingya harus meluapkan keluhan dan kepedihan kehidupan mereka, sementara meraka berstatus Stateless. Apa yang mereka pikirkan tentang keadaan manusia yang seperti ini, bukan hanya puluhan tapi ratusan ribu menunggu uluran tangan para orang berdasi di atas sana yang hanya sibuk menggunakan isu kesengsaraan Rohingya dan menjadikannya sumber utama perdagangan politik. Rohingya menunggu payung dari atas sana, bukan hanya berceloteh di media dan menebar “caption” terbaiknya untuk menarik empati. Bukan hanya pernyataan “prihatin” tapi mereka menunggu tindakan kemanusiaan yang tulus dari kalian saudaraku.

Konflik yang terjadi dua etnis yang berlatar belakang agama tersebut nampaknya sudah menjadi isu lama dan kembali keluar ke permukaan masalah global. Human security memang telah menjadi objek yang sangat diperhatikan pasca Perang Dingin terjadi. Begitu sensitifnya keamanan manusia karena menyangkut masa depan kedaulatan negara tersebut menjadi agenda global saat ini. Konsep “Sustainable” yang digunakan oleh PBB menunjukkan bahwa masa depan manusia menjadi titik pertama negara dalam menjaga kedaulatannya. Sebagian besar tujuan millennium global lebih banyak menyentuh aspek sosial masyarakat. Seperti pendidikan, akses dalam sanitasi, akses dalam kebutuhan pangan, hingga dalam menghadapi perubahan iklim.

Jika kita sudah mengetahui betapa sensitifnya aspek manusia dalam fenomena global, lantas apa yang dilakukan dunia internasional dalam menghadapi krisis kemanusiaan yang menimpa saudara kita etnis Rohingya?

Berdasarkan sumber dari media nasional, Indonesia merupakan salah satu negara yang diberi akses kemanusiaan oleh Myanmar. namun media tersebut tidak mengategorikan Indonesia di antara negara Asia Tenggara atau di antara seluruh negara yang telah mencoba masuk dalam memberi akses kemanusiaan kepada Rohingya. Sebut saja, ini merupakan kesempatan yang diberikan untuk Indonesia dalam perannya dalam ikut melaksanakan ketertiban dunia yang memang secara konseptual telah dituang dalam konstitusi Indonesia, UUD 1945 NKRI. Karena hal inilah, Presiden Joko Widodo mengutus Menteri Luar Negeri Indonesia untuk menjadi agen diplomasi kemanusiaan ini.

Beberapa hal kecil memang terkadang diabaikan oleh beberapa masyarakat internasional, selain dukungan politik, dukungan sosial dan ekonomi sangat diperlukan para korban krisis kemanusiaan. Pertama, akses pangan. Pangan merupakan kebutuhan utama manusia dalam menjalani kehidupannya. Hal ini dibutuhkan untuk menjamin kehidupan manusia untuk ke depannya. 

Jika pangan saja sulit dalam akses, bagaimana sektor yang lainnya. Kekuarangan pangan dapat memicu konflik internal sehingga akan memungkinkan adanya kekerasan.  Di saat seperti ini, ego para aktor yang memberikan bantuan sebaiknya diminimalisir. 

Karena masalah ego dan politik inilah, pangan menjadi alat politik aktor global dan akhirnya berimbas pada masyarakat yang seharusnya mengalami trickled down effect dari uluran tangan pemerintah global. Jangan sampai niat baik, akhirnya menjadi kebencian hanya karena berkompetisi dalam kebaikan dan ingin disorot oleh pihak tertentu.

Indonesia merupakan salah satu  negara yang merespon isu global ini. Salah satu responnya adalah dengan menyediakan tempat tinggals kepada asylum seekers dari Rohingya. Beberapa wilayah di Indonesia telah dipercaya untuk menampung etnis Rohingya ini, seperti Aceh. 

Beberapa bantuan juga diberikan oleh beberapa negara ainnya. Namun, apa yang terjadi sekarang nampaknya telah membuat Indonesia gerah karena tindakan Myanmar dalam menghadapi krisis kemanusiaan etnis Rohingya yang terlihat diksriminatif. 

Beberapa tindakan Myanmar disorot oleh Indonesia seperti pembakaran hunian Rohingya membuat etnis ini harus terpaksa mengemasi barang-banrangnya karena ketidaknyamanannya di Myanmar dan beranjak ke perbatasan Bangladesh. Namun, naas yang diterima oleh etnis Rohingya ini. Beberapa ranjau darat terlihat dipasang di perbatasan negara dan melukai beberapa masyaraka sehingga harus kehinlangan beberapa organ tubuhnya.

Krisis kemanusiaan yang sedang dialami oleh etnis Rohingya merupakan pelajaran bagi kita, untuk selalu menanamkan jiwa toleransi kita dalam kehidupan sehari-hari. Sekali kita mengabaikan nilai tersebut, maka tidak menutup kemungkinan negara kita juga akan menghadapi krisis kemanusiaan karena konflik di dalam negara sendiri.

#LombaEsaiKonflik