56548_59526.jpg
Sumber Ilustrasi: maxpixel.freegreatpicture.com
Agama · 4 menit baca

Dialog untuk Kerukunan Beragama

Untuk kesekian kalinya terjadi pembubaran paksa oleh suatu ormas. Ormas Front Jihad Islam (FJI) membubarkan paksa acara bakti sosial yang diselenggarakan Gereja Katolik Santo (St) Paulus Pringgolayan, Banguntapan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Senin (29/1) dengan alasan kristenisasi.

Saya mengutuk keras perbuatan yang melanggar hukum agama dan negara ini. Tidak ada perintah yang tercantum di dalam Al Quran dan Hadist untuk membubarkan kegiatan apapun, apalagi dengan cara paksa. FJI juga tidak mempunyai otoritas di mata hukum untuk membubarkan.

Justru Allah memerintahkan kaum Muslim untuk saling tolong menolong di dalam kebaikan dengan siapapun, termasuk Non-Muslim. FJI wajib membantu menjaga keamanan kegiatan bakti sosial ini. FJI wajib ikut membagi-bagikan sembako ke warga sekitar yang membutuhkan.

Dialog, Dialog, dan Dialog

Pada 820 M, terjadi sebuah dialog antara seorang rahib Nasrani dari mazhab Melkite, Ibrahim ath-Thabrani dan seorang gubernur (amir) Muslim, 'Abd-ur-Rahman al-Hasyimi, di Yerusalem. Pada kesempatan itu, Sang Amir berkata:

"Celakalah engkau, wahai Rahib! Tidakkah engkau mengetahui bahwa Muhammad (SAW) lebih agung dan lebih mulia daripada al-Masih, Adam, beserta semua keturunannya?"

Sang Pendeta menjawab:

"Tidak, demi Allah, Aku tidak mengetahuinya. Akan tetapi, Aku mengetahui bahwa langit lebih terhormat dan mulia di sisi Allah daripada bumi. Penduduk langit pun lebih terhormat dan mulia di sisi Allah daripada penduduk bumi. Dan, Aku mengetahui bahwa al-Masih berada di atas langit yang tertinggi."

Ia meneruskan:

"Adapun Muhammad (SAW) dan semua nabi berada di bawah tanah. Sementara itu, langit adalah singgasana dan kursi Allah dan al-Masih duduk di atas kursi keagungan di samping kanan Allah di atas para malaikat dan manusia. Lantas, bagaimana mungkin orang yang berada di bawah lebih mulia daripada ia yang berada di langit di atas kursi keagungan?"

Banyak terjadi kristenisasi karena dialog sederhana diatas, bukan karena kegiatan bakti sosial. Bagaimana cara menjawabnya?.

Selamatnya Yesus dari Kematian di Atas Salib Menurut Alkitab

Umat Kristiani percaya bahwa Yesus terbang ke surga. Namun, ada seorang murid Yesus yang bersaksi bahwa hal itu hanyalah rumor yang diciptakan untuk memperkuat iman para murid Kristus. Keterangan lengkapnya bisa dibaca di: https://archive.org/stream/crucifixionbyeye00richrich/crucifixionbyeye00richrich_djvu.txt.

Pertama, Yesus berkata “Sudah selesai, lalu ia menundukan kepalanya dan menyerahkan nyawanya”(Yohanes 19:30). Saat itu Yesus diberi minum anggur asam. Apakah artinya Yesus wafat setelah minum anggur tersebut? Daripada wafat, lebih tepatnya Yesus dibius dan pingsan supaya tidak merasakan sakitnya digantung di atas salib.

Kedua, ketika jasad Yesus diturunkan dari tiang salib. Sebelum menurunkan dari salib mereka harus memastikan kematian dahulu. Karena itu tentara yang bertugas menurunkan Yesus mematahkan kaki ke dua penjahat dahulu yang disamping Yesus. Apa tujuannya? Mereka mematahkan kaki untuk mempercepat kematian(The Jesus Encyclopedia, p. 99). Dari sini bisa diambil bukti, bahwa jika kedua pencuri masih hidup maka Yesus pun masih bisa hidup ketika itu.  

Selanjutnya, mereka melihat Yesus seolah-olah wafat, karena itu tentara tidak mematahkan kakinya. Namun mereka tetap menusukan tombak ke bagian rusuk Yesus. Keluarlah darah dan air mengucur dari badannya (Yohanes 19:31-34). Terbukti jantung beliau masih bisa memompa darah. 

Keempat, ketika Santo Yusuf ingin meminta izin kepada Pilatus untuk mengambil jasad Yesus dari tiang salib(Mark 15:45). Menurut teks asli Alkitab bahasa Yunani, Santo Yusuf menggunakan kata “Soma” pada kata ”jasad”. “Soma” adalah bahasa Yunani untuk jasad yang masih hidup (Michael Bagient, The Jesus Papers: Exposing the Greatest Cover-Up in History, hal 130). Santo Yusuf tahu Yesus masih bisa diselamatkan.

Kelima, Santo Yusuf pun menyiapkan operasi untuk menyelematkan Yesus setelah mengambil jasad Yesus yang terbaring lemah bersama Nikodemus. Dialah yang mula-mula datang waktu malam  kepada  Yesus.  Mereka membawa   campuran minyak mur dengan minyak gaharu, kira-kira lima puluh kati beratnya. Mereka mengambil jasad Yesus, mengapaninya dengan kain lenan dan membubuhinya dengan rempah-rempah(Yohanes 19:38-42).

Umat Kristiani akan berkata rempah-rempah, minyak mir dan gaharu ini bertujuan untuk mengawetkan mayat supaya tidak bau. Tetapi ada kemungkinan juga campuran obat ini yang menyembuhkan luka-luka cambuk dan luka bekas tusukan paku di badan Yesus.

Akhirnya Yesus pun selamat dari kematian, bangkit dari “kubur” dan bertemu kembali dengan murid-muridnya sambil menunjukan bekas lukanya yang sudah sembuh. Jelang beberapa minggu, Yesus pun pergi menuju India untuk mencari domba-domba yang tersesat. Jadi Yesus terbang ke surga hanyalah sebuah rumor. 

Selamatnya Yesus dari Kematian di Atas Salib Menurut Ilmu Pengetahuan

Selain kesaksian diatas, para peneliti telah menemukan jejak-jejak Yesus bisa selamat. Hasil penelitian mereka sudah dibukukan. Salah satunya adalah Jesus in Kashmir The Lost Tomb karya Suzanne Olsson. Dia menghabiskan sepuluh tahun di India, Pakistan, dan daerah perang di Afganistan untuk membuktikan bahwa Yesus tidak diangkat ke langit, melainkan hijrah ke India untuk melanjutkan misinya yakni mengumpulkan domba-domba bani Israel yang tersesat. Menjelang akhirnya, Suzanne menyimpulkan Yesus dikuburkan di Kashmir, India.  

Buku berikutnya adalah Jesus Lived in India: His Unknown Life Before and After the Crucifixion hasil penelitian Holger Kersten dan Jesus in Heaven on Earth: Journey of Jesus to Kashmir, His Preaching to the Lost Tribes of Israel, and Death and Burial in Srinagar hasil penelitian dari Khwaja Nazir Ahmad. Menceritakan bagaimana Yesus selamat dari penyaliban, setelah “hidup kembali” Yesus kembali ke India, lalu meninggal karena usia yang sudah tua dan dikuburkan di Srinagar, Kashmir, India.

Jesus Died In Kashmir: Jesus, Moses And The Ten Lost Tribes Of Israel karya Andreas Faber Kaiser. Dia menulis surat kepada Pope John XX“From a medical point of view, it has been proved that the body that lay in the shroud was not dead, as the heart was then still beating. The traces of blood fluid, its position and nature, give positive scientific proof that the so-called execution was not legally complete. This discovery suggests that the present and past teachings of Christianity are incorrect. Your Holiness, this is how the case stands scientifically” (Faber-Kaiser, p. 31).

Semua penelitian berkesimpulan yang disalib adalah benar Yesus/Nabi Isa as, bukan orang lain, tetapi berhasil lolos dari kematian diatas salib. Dengan dialog ini InsyaAllah tidak akan ada kristenisasi, kegiatan bakti sosial bisa tetap berjalan dan kerukunan beragama tetap terjaga.